Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Figure

Mereka yang Hidup dalam Doa, dan Mereka yang Hanya Jadi Bangkai

Antara Belatung dan Keabadian

munira by munira
July 4, 2025
in Figure, Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada orang yang hidupnya panjang, tapi jejaknya pendek. Ada pula yang usianya singkat, tapi langkahnya membekas jauh hingga ke masa yang belum dilahirkan. Yang satu hidup sekadar menjadi angka statistik, yang lain menjelma menjadi hikayat yang tak henti diceritakan. Kata orang bijak: hidup bukan sekadar menunggu mati, tapi menyemai arti.

Orang-orang yang berprestasi di dunia — bukan dalam arti gelar dan glamor, tapi mereka yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk kebaikan umat — akan terus dikenang. Namanya ditulis dengan tinta sejarah, dibaca oleh generasi setelahnya, dan dijadikan teladan oleh orang-orang bijak. Mereka ini seperti pohon rindang yang walau tumbang, kayunya masih menghangatkan, daunnya masih meneduhkan.

“Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” sabda Nabi ﷺ. Inilah tolok ukur keberhasilan hakiki dalam hidup. Maka mereka yang sepanjang hayatnya bergelimang manfaat, bukan hanya hidup satu kali. Mereka hidup berulang kali dalam pikiran dan doa orang lain.

Sebaliknya, ada pula yang sepanjang hidupnya tak sempat menggores satu pun makna. Ia hidup dari pagi ke pagi, makan, tidur, dan sekadar menjadi konsumen oksigen. Maka ketika ia mati, dunia tak kehilangan apa-apa. Ia tak lebih dari seonggok tubuh yang disambut gegap gempita oleh belatung-belatung tanah. Tak ada doa yang menyertainya, tak ada ingatan yang mendoakannya. Ia mati, dan lenyap, bahkan lebih cepat dari bau busuk tubuhnya.

Kita sering melihat kematian sebagai pintu akhir. Padahal, kematian hanyalah pintu transisi. Yang membedakan seseorang hanyalah ini: apakah ia meninggalkan warisan amal, atau hanya meninggalkan warisan formalitas upacara pemakaman.

Seorang penyair berkata, “Kau bisa mati dua kali, yang pertama saat tubuhmu terkubur, yang kedua saat namamu dilupakan.” Maka siapa yang tak berbuat selama hidupnya, matinya pun tak lebih dari pengumuman kecil di masjid dan lalu sunyi senyap selamanya.

Bekerja dalam hidup ini bukan tentang mengejar nama besar, melainkan tentang bagaimana kita bertanggung jawab pada hidup yang dititipkan Tuhan. Sebab setiap napas adalah amanah. Dan kelak, ketika catatan amal dibuka, Tuhan tak akan bertanya seberapa banyak pengikutmu di dunia maya, tapi seberapa banyak hidup orang lain yang kau ringankan bebannya.

Kematian bukan akhir perjalanan. Ia adalah cermin. Ia mengembalikan pada kita pantulan sejati dari kehidupan yang kita jalani. Dan hanya mereka yang menanam kebaikan di tanah keras kehidupan inilah yang kelak dipanggil dengan lembut oleh malaikat:
“Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma’innah. Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah. Fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī.”
(Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.)

Jadi, mari kita hidup agar kematian kita tak hanya berarti lubang di tanah, tapi juga cahaya di langit. Karena jika hidupmu tak menyalakan satu pun pelita, maka kematianmu hanyalah kesenyapan belaka — dan tubuhmu cuma akan menjadi santapan yang bergizi bagi para belatung.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Life is a beautiful journey, and each day is a fresh bloom of hope, joy, and endless possibilities

Next Post

Ketika Mekar Menjadi Revolusi yang Lembut

munira

munira

Related Posts

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

by munira
January 12, 2026
0

Ada satu kebiasaan berbahaya yang kian tumbuh di ruang-ruang dakwah modern: menerima setiap riwayat atas nama “katanya Nabi” tanpa bertanya,...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

by munira
January 11, 2026
0

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak...

Takdir Itu Pilihan

Takdir Itu Pilihan

by munira
January 10, 2026
0

Sejak kecil kita dijejali satu kalimat yang terdengar sakral: “Itu sudah takdir.”Kalimat ini sering menjadi penutup dari pertanyaan yang tak...

Sehelai Rasa yang Tersisa

Sehelai Rasa yang Tersisa

by munira
January 10, 2026
0

Aku pernah bersumpahtak akan mengikat lagihati yang sudah letihpada janji bernama selamanya. Lalu kau hadirseperti senjayang tak kupintanamun indah terlanjur...

Next Post
Ketika Mekar Menjadi Revolusi yang Lembut

Ketika Mekar Menjadi Revolusi yang Lembut

Semua Aktivitasku Diorientasikan untuk Mengantarku ke Titik Sampai

Semua Aktivitasku Diorientasikan untuk Mengantarku ke Titik Sampai

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat
  • Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira