**Qadarullah** sering dipahami sebagai alasan untuk menerima apa yang terjadi. “Sudah takdir,” begitu kita berkata.
Tetapi apakah takdir berarti kita tidak mempunyai pilihan?
Saya justru melihatnya dari sisi yang berbeda. **Dalam kehidupan tersedia begitu banyak kemungkinan jalan—jutaan, kalau boleh menjadi metafora. Dan manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh.**
Kita tidak tahu seluruh jalan itu. Kita juga tidak tahu ke mana masing-masing jalan akan membawa kita.
Tetapi kita bisa memilih.
Mau bekerja atau bermalas-malasan.
Mau belajar atau berhenti belajar.
Mau mencoba atau menyerah.
Mau membuat satu video atau membuat seratus video.
Contoh sederhana: monetisasi YouTube.
Semakin banyak kita membuat dan mengunggah video, semakin banyak peluang video itu ditonton. Semakin banyak yang menonton, semakin terbuka peluang mendapatkan pendapatan dari iklan.
Apakah setiap video pasti menghasilkan?
Tidak.
Tetapi **tidak membuat video sama sekali hampir pasti tidak menghasilkan apa-apa dari video tersebut.**
Di situlah ikhtiar bertemu dengan qadarullah.
Al-Qur’an mengatakan:
> **“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”**
> *(QS. Ar-Ra’d: 11)*
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan tidak datang hanya dengan menunggu.
Kita bergerak. Kita memilih. Kita berusaha. Kita membuka jalan.
Namun, setelah itu, hasil akhirnya bukan lagi sepenuhnya berada di tangan kita.
Karena itu saya membayangkan kehidupan seperti sebuah perjalanan.
**Kita memilih jalannya. Allah mengetahui ujungnya.**
Boleh jadi kita memilih jalan yang menurut kita paling baik, tetapi ternyata jalan itu membawa kita kepada pengalaman yang berbeda dari yang kita bayangkan.
Boleh jadi kita gagal.
Boleh jadi kita berbelok.
Boleh jadi jalan yang kita kira salah justru membawa kita kepada sesuatu yang selama ini kita cari.
Maka jangan menggunakan qadarullah untuk membenarkan sikap pasif.
**Ikhtiar bukan melawan takdir. Ikhtiar adalah bagian dari perjalanan takdir itu sendiri.**
Kita tidak mengetahui seluruh qadarullah.
Kita hanya diberi kesempatan untuk memilih langkah berikutnya.
Maka pilihlah.
Berjalanlah.
Bekerjalah.
Dan setelah itu, serahkan apa yang berada di luar kendali kita kepada Allah.
**Qadarullah bukan sekadar tentang menerima apa yang terjadi.
Qadarullah juga tentang memilih jalan yang kita tempuh menuju apa yang kemudian terjadi.**





