Ada kalanya, persahabatan datang seperti sepasang sepatu baru.
Warnanya memikat, bentuknya menarik,
dan kita tergoda untuk langsung memakainya,
tanpa benar-benar tahu apakah ia pas di kaki atau hanya cantik di mata.
Kita melangkah bersama, tertawa dalam kebersamaan,
namun di sela waktu, kita mulai merasakan perih.
Gesekan kecil jadi luka,
diam-diam kita mengalah, demi menjaga yang tampak indah di luar.
Kita bertahan dalam obrolan yang tak lagi jujur,
tertawa yang mulai terasa dipaksakan,
hadir di ruang-ruang yang terasa sempit,
hanya karena takut disebut “bukan teman yang baik”.
Padahal persahabatan, seperti sepatu, punya ukurannya.
Ia tak seharusnya menyakitimu.
Tak seharusnya membuatmu berjalan dengan pincang,
atau menyembunyikan luka demi menjaga gengsi pertemanan.
Persahabatan yang pas akan terasa ringan.
Seperti sepatu kesayangan yang sudah melewati hujan dan debu,
ia mungkin tak sempurna lagi,
tapi ia membentuk dirinya sesuai kakimu,
dan tak pernah memaksamu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri.
Bila persahabatan itu membuatmu terus menerus merasa kecil,
meragukan diri, merasa tak cukup,
maka mungkin itu bukan ukuranmu.
Mungkin mereka hanya hadir untuk satu musim, bukan sepanjang perjalanan.
Kita berhak memilih teman seperti memilih sepatu:
yang nyaman, jujur, dan bertahan dalam berbagai cuaca.
Yang bersamamu tak hanya saat berpesta,
tapi juga saat kamu berhenti, diam, atau bahkan tersesat.
Karena persahabatan sejati tak akan melukai,
ia akan mendukung setiap langkahmu,
tanpa menuntutmu mengecilkan kakimu agar muat dalam dunianya.
Jadi bila persahabatan itu menyakitimu,
ingatlah: itu bukan salah kakimu.
Itu hanya bukan ukuranmu.




