Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tuhan, Misteri, dan Pertarungan Sesama Manusia

munira by munira
September 6, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah manusia tidak pernah lepas dari usaha memahami sesuatu yang melampaui jangkauan nalar. Fenomena alam—petir yang menyambar, gempa bumi yang mengguncang, angin topan yang meluluhlantakkan, hingga kelahiran dan kematian yang tak terelakkan—pada mulanya adalah teka-teki besar. Daya pikir manusia purba tidak mampu mencerna sepenuhnya mengapa itu terjadi, lalu muncullah tafsir: ada kekuatan yang lebih besar, sesuatu yang mengatur sekaligus melampaui. Dari sanalah lahir embrio tentang “Tuhan”.

Misteri alam menjelma menjadi energi simbolik. Ia diberi nama, diberi wajah, diberi makna. Para penutur—para pendeta, dukun, filsuf, hingga nabi—menerjemahkan misteri itu sesuai pengalaman, budaya, dan konteks zamannya. Lalu lahirlah berbagai versi ketuhanan. Ada yang mengisahkannya sebagai dewa-dewa yang bersemayam di langit, ada yang menggambarkannya sebagai pribadi tunggal yang mutlak, ada pula yang merumuskannya sebagai kesadaran kosmik yang abstrak.

Seiring waktu, Tuhan tidak hanya menjadi simbol kekuatan, tetapi juga dibungkus dengan atribut-atribut: tata cara penyembahan, doa, syariah, ritus, dan keyakinan. Ritual itu memberi rasa aman, meneguhkan kehadiran sesuatu yang tak terlihat, sekaligus mengikat komunitas dalam identitas bersama. Dari sinilah agama tumbuh sebagai sistem yang rapi, menghadirkan aturan hidup sekaligus penjelasan dunia.

Namun, di balik semua itu, muncul paradoks besar. Setiap kelompok yang merasa telah menemukan “jalan paling benar” sering menolak keberadaan tafsir lain. Tuhan yang seharusnya transenden, universal, dan melampaui sekat-sekat manusia, justru dikurung dalam definisi sempit. Ia dimonopoli oleh komunitas tertentu, lalu dihadirkan sebagai alat pembenaran. Akhirnya, klaim kebenaran tunggal berubah menjadi bahan bakar konflik.

Sejarah mencatat perang-perang panjang atas nama Tuhan: Perang Salib antara Kristen dan Islam, pertikaian sektarian Sunni-Syiah, hingga tragedi pembantaian etnis dengan bumbu agama. Ironisnya, mereka yang mengangkat pedang sama-sama mengaku mendapat restu dari Tuhan, padahal “Tuhan” yang dibela hanyalah hasil tafsir manusia belaka.

Inilah wajah tragis dari pencarian makna yang berubah menjadi perebutan kuasa. Tuhan yang sejatinya lahir dari misteri agung, justru dijadikan legitimasi untuk saling meniadakan. Maka, pertanyaan yang tersisa bagi kita: apakah manusia sungguh sedang menyembah Tuhan, atau sebenarnya hanya sedang menyembah bayangan pikirannya sendiri?


 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Delapan Cahaya Nasihat Nabi: Jalan Hidup yang Tak Pernah Redup

Next Post

Tuhan sebagai Proyeksi Kebutuhan Manusia – “ilusi psikologis”

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Tuhan sebagai Proyeksi Kebutuhan Manusia - “ilusi psikologis"

Alam Bali Sudah Kotor: Bisikan Tiga Iman

Alam Bali Sudah Kotor: Bisikan Tiga Iman

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira