“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” — Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Pertanyaan tentang “Tuhan itu apa?” telah menari-nari di kepala manusia sejak pertama kali ia mampu mengajukan pertanyaan. Dari zaman batu hingga zaman metaverse, dari langit para nabi hingga layar-layar para netizen, pertanyaan ini tetap relevan, bahkan semakin rumit. Apakah Tuhan adalah sosok personal yang mendengar dan membalas doa? Ataukah Tuhan adalah energi semesta, atau hanya sekadar konsep di kepala manusia yang haus makna?
Dalam perjalanan sejarah pemikiran manusia, konsep Tuhan tidak pernah tunggal. Di sisi yang satu, kita punya Tuhan para teolog: Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Segalanya. Di sisi lain, Tuhan para filsuf: tidak berbentuk, tak beridentitas, bahkan tak dapat dijangkau logika. Dan di tengahnya, Tuhan para manusia biasa — yang kadang marah, kadang dimintai pertolongan saat dompet hilang atau saat pesawat hendak lepas landas.
Lalu muncul kalimat sufistik yang terkenal itu: “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.” Dalam variasi tertentu yang lebih menggetarkan: “Man aroba nafsahu, aroba robbahu.” Siapa yang mengenal dirinya, dialah yang mengenal siapa yang ia Tuhan-kan.
Dalam dunia yang penuh simbol ini, mengenal diri bukanlah perkara selfie atau tes kepribadian di media sosial. Mengenal diri berarti mengurai benang kusut dalam pikiran, membuka ruang bawah sadar yang sering kita hindari, dan mengakui bahwa kita telah menciptakan banyak “Tuhan” palsu — dari harta, kuasa, nama baik, hingga layar gawai yang tak pernah mati.
Apakah Tuhan itu konsep?
Ya, bagi sebagian orang. Ia adalah ide besar yang menyatukan komunitas, menenangkan hati, dan membimbing moral. Dalam ruang publik, konsep Tuhan bekerja sebagai energi kolektif — sumber dari etika dan hukum. Tapi berhati-hatilah. Konsep bisa menjelma ideologi. Dan ideologi, jika tak dijaga akal sehat, bisa berubah jadi tirani.
Apakah Tuhan itu energi?
Para fisikawan kuantum kadang mendekatinya dari arah ini. Bahwa segala yang hidup dan tidak hidup adalah vibrasi energi yang saling terhubung. Tuhan, dalam kerangka ini, bukanlah sosok yang duduk di singgasana langit, melainkan energi murni yang menyatu dengan hukum alam — entitas yang tidak bisa dicintai, tapi bisa dirasakan, bisa diresapi dalam diam, dalam denyut jantung yang teratur dan sistem tata surya yang tak pernah absen bekerja.
Apakah Tuhan itu akal sehat?
Di zaman ketika agama sering dijadikan alat kekuasaan, mengaitkan Tuhan dengan akal sehat terasa subversif — bahkan bagi sebagian, terdengar kafir. Tapi justru di sanalah benih pembebasan tumbuh. Sebab Tuhan yang sejati tak mungkin menyuruh membunuh dengan dalih kebenaran. Tuhan yang sejati tak mungkin membenarkan ketimpangan hanya karena dalil yang bisa ditafsirkan ke arah yang paling menguntungkan penguasa.
Akal sehat adalah pintu pertama mengenal siapa Tuhan yang kita sembah. Sebab, jika kita menyembah Tuhan yang marah saat dipertanyakan, yang mudah tersinggung, yang menuntut penghambaan buta, maka mungkin yang kita sembah bukan Tuhan — melainkan ego kita sendiri yang dibungkus kitab.
Tuhan, akhirnya, bukanlah jawaban. Ia adalah perjalanan. Bukan tujuan akhir, tapi proses panjang mengenali siapa diri kita di tengah semesta yang tak pernah selesai dibaca.
Tuhan tidak sedang menunggu di langit, tapi mengintip dari cermin. Tuhan adalah kejujuran terdalam ketika kita melihat diri — tanpa topeng, tanpa pencitraan. Maka, jika kau sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan, kenalilah dirimu dulu. Bukan nama, bukan pekerjaan, bukan jabatan, bukan agama. Tapi luka-luka terdalammu, ketakutanmu, cintamu, keraguanmu, harapan-harapan yang tak pernah kau ucapkan.
Sebab, siapa yang sungguh mengenal dirinya — telah lebih dekat pada Tuhan yang sebenar-benarnya. Tuhan yang tak memerlukan pengakuan, tak menuntut pembelaan. Tuhan yang hanya hadir — dalam kesadaran.
Ini ditulis dalam semangat pencarian, bukan penghakiman. Sebab Tuhan pun, agaknya, lebih suka dicari daripada dipaksa hadir di balik simbol.



