“What we see depends mainly on what we look for.”
— John Lubbock
Di hamparan semesta yang sama, dua pasang mata bisa menyaksikan dua dunia yang berbeda. Yang satu melihat matahari terbit sebagai janji, yang lain sebagai pengingat akan berlalunya waktu. Langit yang sama, namun tafsirnya bergantung pada lensa batin yang mengamatinya.
Sejatinya, penglihatan bukanlah sekadar perkara retina dan cahaya, melainkan perkara hati yang memilih. Apa yang kita lihat bukanlah cerminan dari kenyataan semata, tetapi gema dari apa yang kita cari dalam diam. Hati yang penuh syukur akan menemukan keajaiban dalam debu jalanan; hati yang luka akan menemukan kesia-siaan bahkan di taman yang mekar.
Lubbock mengajak kita menyadari bahwa realitas itu laksana cermin air: ia memantulkan bukan hanya wajah, tapi juga niat di balik tatapan. Jika kita mencari keindahan, semesta pun seperti berkonspirasi menunjukkannya. Jika kita menduga buruk, semesta pun seolah mengamini prasangka itu.
Pencarian adalah doa yang tak terucap. Dunia menjawab bukan dengan suara, melainkan dengan citra. Si pencari cahaya akan menemukan celah dalam gelap, sementara si pencari cela akan menemukan retak dalam pelangi.
Bukankah kita semua sedang mencari? Ada yang mencari makna, ada yang mencari alasan, ada pula yang hanya mencari jalan pulang. Namun setiap pencarian, sadar atau tidak, menentukan bentuk dunia yang kita lihat.
Maka, berhati-hatilah dengan apa yang kita cari—sebab dari sanalah pandangan kita lahir. Bila kita melihat dunia penuh amarah, mungkin karena kita mencarinya untuk membenarkan kemarahan dalam diri. Bila dunia tampak tenang dan anggun, barangkali karena kita telah mendamaikan batin sendiri.
Akhirnya, hidup ini bukan tentang apa yang disuguhkan dunia, tapi tentang apa yang kita pilih untuk lihat. Seperti pelukis yang memandang kanvas kosong, tiap jiwa adalah pencipta dunianya sendiri. Dan dalam kesadaran itu, barangkali kita bisa mulai bertanya bukan “Apa yang sedang terjadi?” melainkan “Apa yang sedang aku cari?”




