Sahabat saya, seorang profesor berkebangsaan Australia yang tinggal di Sydney, mengirimkan sebuah email yang terasa seperti curahan hati sekaligus bahan kontemplasi. Usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Ia menulis, “Saya sulit membayangkan bisa bepergian jauh lagi. Bahkan sekadar perjalanan ke Indonesia terasa seperti misi mustahil.”
Beberapa hari setelah membaca email itu, saya melihat berita yang ramai dibicarakan: seorang kakek bernama Sastro Wasiyo, berusia 95 tahun, berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Wajahnya penuh haru, tubuhnya renta, langkahnya dituntun. Tapi semangatnya menggetarkan.
Ada rasa takjub, ada haru, ada inspirasi. Tapi sekaligus, ada tanya: benarkah ini kisah keimanan, atau justru bentuk glorifikasi yang menutup mata dari realitas fisik manusia lanjut usia?
Profesor sahabat saya, yang tak hanya rasional tapi juga spiritual, menulis kembali, “Mengapa orang setua itu masih harus menjalani ibadah yang begitu berat secara fisik? Apakah agama membolehkan semua hal, bahkan yang bertentangan dengan kemampuan tubuh sendiri?”
Pertanyaan itu masuk akal, dan terasa penting. Dalam Islam, haji diwajibkan hanya bagi yang mampu secara fisik dan finansial: manisthatha‘a ilaihi sabila—bagi yang memiliki jalan untuk menunaikannya. Ayat ini tak sekadar administratif. Ia mencerminkan kasih sayang, akal sehat, dan pengakuan atas keterbatasan manusia.
Lalu, apakah keberangkatan Sastro Wasiyo ke Mekah adalah cermin iman yang luar biasa, atau justru bentuk pengabaian terhadap prinsip “mampu” itu sendiri?
Hari ini, haji memang menjadi semacam “mahkota” keislaman. Ia dianggap puncak perjalanan spiritual. Tapi benarkah? Jika begitu, apakah seorang Muslim yang tidak mampu berhaji karena usia, sakit, atau keterbatasan biaya, keislamannya kurang sempurna?
Itu pandangan yang tidak hanya keliru, tetapi juga menciptakan diskriminasi spiritual. Keimanan bukanlah urusan fisik. Tuhan tidak menilai siapa yang paling banyak melangkah, tetapi siapa yang paling ikhlas dan bijaksana dalam menjalaninya.
Profesor saya yang sudah uzur memilih untuk tidak memaksakan diri terbang ke Indonesia karena sadar akan keterbatasannya. Tapi dalam narasi religius, kadang kita terlalu mudah menyamakan penderitaan dengan kesalehan. Kita membingkai pengorbanan sebagai ketulusan, meski sebenarnya menyiksa tubuh.
Ada jemaah yang wafat di Arafah, ada yang jatuh saat lempar jumrah, ada yang tersesat karena kepikunan. Semua diberi label “syahid” dan dikagumi, tapi tak banyak yang bertanya: apakah mereka sungguh harus berada di sana?
Mungkin Sastro Wasiyo memang pergi dengan kerelaan dan cinta. Tapi pertanyaan sahabat saya dari Sydney tetap valid: Apakah agama harus menundukkan tubuh? Atau justru tubuh yang semestinya kita rawat sebagai amanah Tuhan?
Iman tidak selalu mengharuskan kita berjalan ke Mekah. Kadang iman cukup dengan duduk tenang di rumah, menjaga kesehatan, dan mengirim doa untuk dunia. Bahkan dalam hadis disebutkan, jika tak mampu berhaji, seseorang bisa bersedekah sebagai gantinya.
Agama bukan maraton. Ia bukan ujian ketahanan fisik. Ia adalah jalan keselamatan—rahmatan lil ‘alamin.
Saya membalas email sahabat saya:
“Engkau tak lagi bisa ke Indonesia, tapi jiwamu lebih dekat dengan kampung halaman dibanding banyak orang yang tinggal di sana. Sastro Wasiyo mungkin ke Mekah untuk pamit pada dunia, tapi engkau masih menanam hikmah lewat pikiran dan tulisanmu.”
Dan saya tahu, ia tersenyum.





