Oleh: Novita Sari Yahya
Tema Hari Perempuan Internasional tahun 2025 datang seperti pengingat Hak, kesetaraan, dan pemberdayaan terasa dekat, tetapi juga belum sepenuhnya nyata. Kata-kata itu hidup dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika saya mengikuti dua webinar tentang gerakan perempuan di akar rumput.
Di layar ponsel, wajah-wajah muncul satu per satu. Tidak ada latar istimewa. Hanya ruang sederhana, suara yang kadang terputus, dan cerita yang terasa sangat dekat.
Seorang perempuan pesisir membuka percakapan.
“Laut sekarang terasa berbeda,” katanya. “Kami tetap pergi, tetapi hasilnya tidak seperti dulu.”
Peserta lain mengangguk pelan.
“Yang paling kami takutkan bukan hanya berkurangnya tangkapan,” sahutnya, “tetapi masa depan anak-anak.”
Saya mendengarkan tanpa menyela. Kalimat-kalimat itu terasa lebih kuat daripada presentasi apa pun.
Beberapa hari kemudian, saya kembali mengikuti pertemuan daring kedua. Suasana lebih cair. Peserta sudah saling mengenal satu dengan yang lainnya.
“Apakah ibu-ibu pernah menyampaikan keberatan secara langsung?” tanya moderator.
Perempuan yang sama menjawab, “Kami sudah mencoba. Awalnya kami ragu. Tapi kalau tidak bicara, siapa lagi?”
Peserta lain menimpali, “Kami bukan menolak pembangunan. Kami hanya ingin tetap punya ruang hidup.”
Kalimat itu menggantung cukup lama. Tidak ada yang langsung berbicara. Saya merasakan kesunyian yang penuh makna, seolah semua orang sedang mencerna keberanian yang sederhana itu.
Seusai webinar, saya menuliskan beberapa catatan. Bukan tentang teori. Bukan tentang istilah teknis. Hanya potongan kalimat yang terus terngiang.
Perempuan melawan lupa, tulis saya di bagian atas halaman.
Saya teringat percakapan lain yang terjadi di ruang diskusi komunitas beberapa waktu lalu. Seorang ibu berkata dengan nada tenang, “Kami hanya ingin didengar. Tidak perlu janji besar.”
“Didengar saja?” tanya seseorang.
“Iya,” jawabnya. “Karena dari mendengar, biasanya ada jalan.”
Percakapan singkat itu terasa sangat jernih. Seperti menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kesediaan untuk mengakui pengalaman orang lain.
Di sebuah pertemuan warga, saya duduk di barisan belakang. Ruangan tidak besar, tetapi penuh. Beberapa perempuan membawa catatan kecil.
Seorang fasilitator membuka diskusi. “Apa yang paling mendesak saat ini?”
Seorang perempuan paruh baya mengangkat tangan. “Biaya sekolah. Kalau penghasilan menurun, itu yang pertama terasa.”
Yang lain menambahkan, “Kesehatan juga. Kalau laut tidak bersahabat, penghasilan berkurang .”
“Memilih apa?” tanya fasilitator.
“Memilih mana yang harus didahulukan,” jawabnya.
Suasana menjadi hening. Tidak ada dramatisasi. Hanya kenyataan yang diucapkan apa adanya.
Dalam perjalanan pulang, percakapan itu terus berputar di kepala saya. Saya menyadari bahwa kekuatan perempuan sering hadir dalam bentuk keteguhan menghadapi pilihan yang sulit.
Beberapa minggu kemudian, saya kembali bertemu salah satu peserta diskusi. Kami berbincang singkat.
“Masih sering ikut pertemuan?” saya bertanya.
Ia tersenyum tipis. “Masih. Walau kadang capek.”
“Kenapa tetap datang?”
“Karena kalau berhenti, rasanya seperti menyerah sebelum mencoba.”
Jawabannya sederhana, tetapi terasa sangat kuat.
Melawan lupa berarti menjaga cerita-cerita seperti itu tetap hidup. Cerita tentang perempuan yang bekerja tanpa sorotan, tetapi menopang kehidupan banyak orang.
Di sebuah forum kecil lain, seorang peserta muda bertanya, “Bagaimana caranya agar suara kami didengar lebih luas?”
Seorang perempuan yang lebih senior menjawab, “Mulai dari saling mendengar dulu. Kalau kita kuat di dalam komunitas, suara keluar akan lebih jelas.”
Peserta muda itu mengangguk. “Berarti perubahan dimulai dari sini?”
“Iya,” katanya. “Dari ruang kecil seperti ini.”
Percakapan itu membuat saya tersenyum. Ada keyakinan yang tumbuh tanpa perlu banyak kata.
Waktu berjalan. Pertemuan demi pertemuan terus berlangsung. Tidak semuanya membawa hasil. Kadang ada kabar baik. Kadang tidak ada perkembangan. Namun orang-orang tetap datang.
Suatu sore, saya bertanya pada seorang peserta, “Apa yang membuat ibu tetap optimis?”
Ia berpikir sejenak. “Karena kami tidak sendiri.”
Jawaban itu terasa hangat. Solidaritas memang sering menjadi sumber kekuatan yang paling nyata.
Saya semakin memahami bahwa perempuan melawan lupa bukan hanya tentang mengingat masa lalu tapi juga tentang menjaga harapan tetap hidup di tengah ketidakpastian.
Dalam sebuah percakapan santai setelah diskusi, seseorang berkata, “Kadang kami takut suara kami terlalu kecil untuk di dengar”
Peserta lain langsung menjawab, “Suara kecil kalau banyak, tetap terdengar.”
Mereka tertawa pelan. Bukan tawa yang riuh, tetapi cukup untuk mencairkan suasana.
Catatan-catatan saya semakin banyak. Bukan karena peristiwa besar, melainkan karena percakapan-percakapan sederhana yang terasa jujur. Dari sana saya belajar bahwa perubahan sosial sering berawal dari keberanian untuk berbicara, lalu dilanjutkan dengan kesediaan untuk terus hadir.
Perempuan yang saya temui tidak pernah menyebut diri mereka pejuang. Mereka hanya menjalani kehidupan sambil memastikan bahwa hak mereka tidak hilang begitu saja.
Dalam sebuah pertemuan terakhirdi bulan Ramadan, moderator menutup diskusi dengan pertanyaan, “Apa harapan ibu-ibu ke depan?”
Seorang peserta menjawab pelan, “Kami ingin kehidupan yang layak.”
Yang lain menambahkan, “Dan kesempatan untuk didengar.”
Saya menuliskan kalimat itu dengan hati-hati. Rasanya seperti merangkum seluruh percakapan yang pernah saya dengar.
Perempuan melawan lupa adalah mereka yang menjaga ingatan tentang keadilan. Mereka mengingat pengalaman, lalu mengubahnya menjadi suara. Mereka tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam cara komunitas bertahan.
Saya menutup buku catatan dengan perasaan yang tenang. Ada kesadaran bahwa cerita-cerita ini harus terus disampaikan, agar tidak hilang di tengah hiruk pikuk berita dan wacana.
Karena ketika kita berhenti mengingat, kita berhenti memahami.
Dan ketika kita berhenti memahami, kita berhenti peduli.
Hari Perempuan Internasional bagi saya bukan sekadar tanggal. Ia menjadi pengingat untuk melihat lebih dekat, mendengar lebih saksama, dan menghargai kerja-kerja yang sering tidak terlihat.
Perempuan melawan lupa mengajarkan bahwa harapan tidak selalu datang dari hal besar. Ia sering tumbuh dari percakapan sederhana, dari keberanian untuk menceritakan pengalaman, dan dari kesediaan untuk terus hadir berjuang.
Selama cerita-cerita itu tetap diceritakan, perjuangan tidak akan benar-benar hilang.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Ibu Bangsa, Wajah Bangsa .


