Ada yang bilang bahwa hidup ini adalah pendakian. Tapi saya curiga, jangan-jangan hidup ini sebenarnya cuma semacam undangan reunian tahunan, isinya cuma itu-itu lagi: dosa lama, rencana taubat, niat baik yang batal, plus beberapa postingan Instagram dengan kutipan Sufi yang tak pernah dibaca sampai habis.
Nah, dalam pendakian hidup yang katanya menuju Tuhan, konon ada empat jalur utama: syariat, thoriqoh, hakikat, dan ma’rifat. Kedengarannya kayak nama-nama jalan di perumahan syariah, padahal isinya bukan rumah, tapi jebakan logika dan jebakan batin.
Mari kita mulai dari syariat. Kata orang, ini adalah pondasi iman. Tapi puncak dari syariat, kata seorang bijak (yang sepertinya habis ngopi terlalu kental), adalah takabur dan kesombongan. Wah, ini berita mengejutkan. Saya kira syariat itu bikin kita rendah hati. Tapi ternyata kalau sudah terlalu pintar soal syariat, malah bisa jadi seperti dukun: semua salah, kecuali dia. Ibarat anak kampung yang baru belajar cara pakai sendok garpu, langsung menganggap makan pakai tangan itu dosa. Padahal, dia lupa, Tuhan menciptakan tangan sebelum garpu.
Lalu naik ke tingkat selanjutnya: thoriqoh. Ini katanya jalan batin, bukan jalan tol. Dan puncaknya? Kegilaan. Nah, ini baru cocok dengan saya. Banyak yang masuk tarekat, tapi lupa pulang. Shalatnya lima kali, wiridnya lima ratus kali, tapi lupa bayar utang di warung. Lama-lama, mukanya jadi seperti perpaduan antara kertas Al-Qur’an yang kusut dan semangka puasa yang layu. Ada juga yang begitu mabuk dzikir sampai lupa anaknya belum disekolahin. Tapi ya, katanya, itu bagian dari cinta. Cinta yang tidak masuk akal, dan memang tidak usah dimasukkan ke akal. Sebab kalau sudah masuk ke akal, namanya bukan cinta, tapi strategi.
Berikutnya, kita singgah di hakikat. Ini level berat, bukan sembarang orang bisa naik ke sini. Ini kayak gunung Himalaya versi spiritual. Dan puncaknya? Kekosongan. Waduh. Jadi selama ini kita capek-capek belajar agama, amal-amal, sedekah sana sini, hanya untuk menemukan… kosong? Seperti kotak amal di mushola yang cuma diisi niat baik, tapi tidak pernah disentuh uang. Tapi begitulah katanya, hakikat itu bukan tentang apa yang ada, tapi apa yang tak ada. Bingung? Bagus. Memang harus bingung. Kalau tidak bingung, berarti belum sampai ke hakikat.
Dan akhirnya, ma’rifat. Ini bukan toko parfum Arab, ini jalan kenal Tuhan. Puncaknya? Ketiadaan. Hilang. Tiada. Nihil. Kosong melompong. Jadi kalau sudah sampai sini, ya kita tak bisa bicara apa-apa lagi. Mulut terbungkam, akal menggigil, dan dompet tetap kosong. Ma’rifat itu bukan soal mengenal Tuhan secara detil seperti KTP, tapi menyadari bahwa bahkan mengenal pun adalah ilusi. Dan kalau sudah sampai ketiadaan, maka yang tersisa hanya: “Ah sudahlah, semuanya fana, kecuali utang saya di koperasi.”
Jadi begini, kawan-kawan sekalian, dari syariat sampai ma’rifat, dari wudhu sampai fana, intinya cuma satu: jangan terlalu serius. Karena kadang, yang paling dekat ke Tuhan bukan yang paling banyak hafalan kitabnya, tapi yang bisa tertawa dengan ikhlas, bahkan ketika dunia sedang membakar dirinya perlahan-lahan.
Dan siapa tahu, kelak di akhirat, Tuhan pun menyambut kita sambil tertawa kecil, “Lha, kamu kok bisa sampai sini juga?”
Tamat.
Yang nulis Kang Ali-bukan wali, apalagi malaikat. Hanya manusia biasa, yang masih suka lupa niat puasa.




