Manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan telanjang, tanpa harta, tanpa nama, bahkan tanpa pilihan. Ia tidak membawa modal, tidak membawa rencana, dan tidak pula disodori jaminan apa pun dari semesta. Maka secara logika yang paling dasar, tidak ada yang bisa dikatakan hilang. Tidak ada yang sejatinya bisa disebut “kerugian”.
Sejak awal, keberadaan manusia adalah keberuntungan itu sendiri. Bahwa dari ketidaktahuan dan ketiadaan, ia diberi kesempatan untuk merasakan dunia—melihat cahaya, mendengar suara, meraba kehidupan, mencintai, berpikir, menangis, jatuh, bangun, lalu mencipta dan meninggalkan jejak. Semua itu adalah bentuk tertinggi dari karunia. Hidup itu sendiri adalah kemewahan yang tidak pernah dijanjikan kepada siapa pun, namun tetap diberikan dengan cuma-cuma.
Namun manusia modern, sering kali terperangkap dalam kalkulasi untung dan rugi. Segalanya ditimbang, diukur, dikejar. Mereka berkata: “Aku gagal”, “Aku merugi”, “Aku kehilangan”. Padahal, bagaimana mungkin rugi jika sejak awal tak membawa apa-apa?
Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, pernah berkata, “Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.” Hidup bukan soal mengatur angka dalam neraca laba-rugi, melainkan bagaimana meresapi kenyataan, bagaimana menjalaninya dengan penuh kesadaran. Setiap detik yang berlalu adalah anugerah, bukan angka yang hilang dalam grafik keuntungan.
Kerugian yang sesungguhnya bukanlah kehilangan materi, jabatan, atau cinta. Kerugian yang paling hakiki adalah ketika seseorang tidak mampu menikmati hidup yang diberikan padanya. Ketika ia bangun setiap hari tanpa rasa syukur, ketika ia melihat dunia tanpa kekaguman, dan ketika ia menganggap hidup sebagai beban, bukan sebagai hadiah.
Albert Camus, filsuf eksistensialis asal Prancis, mengingatkan kita bahwa, “Real generosity toward the future lies in giving all to the present.” Maka barangsiapa hidup dengan sepenuh-penuhnya, mencintai apa yang ia miliki saat ini, dan tidak meratap atas apa yang belum terjadi — dialah yang sedang menikmati keuntungan sejati dari hidup.
Hidup tak pernah menjanjikan akan mudah, tapi ia selalu menyimpan keindahan bagi mereka yang mau melihat. Maka berbahagialah mereka yang menyadari bahwa mereka tak memiliki apa-apa, karena hanya dari sanalah mereka bisa benar-benar menikmati segalanya.
Karena sekali lagi — manusia tidak lahir dengan modal, maka tidak ada alasan untuk merasa rugi. Yang rugi, hanya mereka yang tidak sempat atau tidak mau bersyukur atas hidup itu sendiri.



