Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Shalat: Sebentuk Dzikir (Ingatan), Bukan Hanya Kognisi

munira by munira
June 26, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا ۖ فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Ayat ini tak menjanjikan surga. Tak pula menyebut pahala. Ia hanya menawarkan satu hal yang amat manusiawi, sekaligus amat ilahi: ingatan.

Maka, apakah shalat itu? Barangkali bukan sekadar gugusan bacaan. Bukan pula hitungan rakaat. Shalat, sebagaimana dikatakan Tuhan dalam firman-Nya, adalah dzikir: li dzikri — “agar engkau mengingat-Ku.” Ada keheningan di situ. Ada jeda yang tak dapat dijelaskan lewat akal. Karena jika Tuhan hanya menginginkan pengakuan kognitif, bukankah cukup bagi manusia untuk berkata: “Saya percaya”?

Tetapi tidak. Ia meminta kita untuk berdiri, untuk sujud, untuk berdiam, untuk membaca, namun juga untuk hening.


Dalam filsafat Timur, terutama dalam tradisi Zen dan sufisme, manusia mencari kekosongan. Bukan karena nihilisme, tapi karena justru di ruang yang kosong itu, yang tidak dipenuhi ambisi dan prasangka, seseorang dapat menyentuh hakikat. Dalam shalat, ada laku tubuh yang tak gaduh, dan ada kesadaran yang justru menyala ketika pikiran ditenangkan. Ini bukan kognisi yang memproses Tuhan sebagai objek berpikir. Ini adalah menjadi. Shalat bukan soal “aku tahu Tuhan ada”, tapi “aku hadir dalam kehadiran-Nya.”

Maka berdirilah engkau. Qiyam. Dalam diam. Lalu rukuk, tunduk. Lalu sujud, hilang. Hingga “aku” bukan lagi pusatnya. Yang tersisa hanya kesunyian yang mengucap nama-Nya.


Filsuf Prancis, Simone Weil, pernah menulis bahwa perhatian yang murni — pure attention — adalah bentuk tertinggi dari doa. Bukankah itu shalat? Ia bukan tentang mengajukan permintaan. Tapi hadir secara penuh, dalam perhatian yang tak terpecah. Ketika dahi menyentuh tanah, bukan hanya tubuh yang merunduk, tapi ego juga dibenamkan.

Shalat, dalam perspektif ini, adalah meditasi — bukan ritual penuh keramaian makna, melainkan jalan untuk menjadi hampa agar bisa dipenuhi. Seperti cawan yang baru bisa diisi jika kosong. Maka setiap takbir adalah pengosongan. Setiap diam adalah pendengaran. Setiap gerak adalah laku melepas. Hingga akhirnya, kita mengerti: kita tidak sedang menyebut Tuhan, tapi kita sedang diam agar Tuhan menyebut kita.


“Shalat itu tiang agama,” kata hadis. Tapi mungkin juga: shalat itu tiang kesadaran. Di zaman yang gaduh, saat layar mendesak kita dengan ribuan notifikasi, shalat adalah pengasingan yang kita perlukan. Pengasingan dari keterikatan. Pengasingan dari ‘aku’ yang merasa tahu segala.

Dan dalam pengasingan itu, kita mungkin tak menemukan apa pun. Tapi justru di situlah rahasia-Nya berada. Dalam ketenangan yang tak punya ambisi. Dalam ingatan yang tak diusahakan, hanya dijalani.

Karena Tuhan tidak perlu dinalar. Cukup diingat. Cukup dihadirkan.

Begitu barangkali makna: qiyamushalat li dzikri.


“Shalat: Meditasi dari Sebuah Ingatan”
esai sastra-filsafat setelah QS. Thaha:14

Aku ini Tuhan. Tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku. Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.

Ayat itu turun di sebuah lembah sepi, Thuwa namanya. Tak ada masjid di sana. Tak ada jam dinding yang menunjukkan waktu subuh. Tak ada pengeras suara, tak ada tikar sajadah. Yang ada hanya sunyi, dan Musa—seorang manusia yang mungkin belum tahu apa itu “shalat”.

Tetapi ayat itu datang, tanpa keramaian, tanpa instruksi teknis, tanpa formula. Hanya satu tujuan: dzikrī. Untuk mengingat-Ku.

Apa makna mengingat, ketika hidup kita ditentukan oleh hal-hal yang kita lupakan?

Kita hidup dalam kebisingan. Dunia menyeret kita dari satu suara ke suara lain, dari satu ambisi ke ambisi berikutnya. Dalam semua itu, “Aku”—subjek yang rapuh, yang lelah, yang terbagi antara rencana dan penyesalan—tak pernah sempat duduk diam dan melihat dirinya sendiri. Kita kehilangan ruang untuk menyimak sesuatu yang lebih dalam dari suara kita sendiri. Dalam konteks inilah, shalat hadir bukan sebagai tugas ritual, melainkan penyadaran eksistensial.


Dzikir, dalam pengertian filsafat Heideggerian, bukan sekadar menyebut. Ia adalah Gelassenheit—sebuah “pelepasan”, pengosongan ruang agar Yang Hadir bisa masuk. Dalam bahasa sufi, ini disebut fana: lenyapnya “aku” agar hanya yang Maha Ada yang tinggal. Maka ketika Tuhan berkata dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku, itu bukan sekadar soal kata-kata, bukan pula soal gerak tubuh. Itu adalah proses pembubaran ego.

Shalat, sebagaimana meditasi dalam banyak tradisi mistik, adalah tindakan menjadi diam agar kehadiran bisa menyapa. Ia bukan permintaan. Ia bukan pencapaian. Ia bahkan bukan klaim tentang Tuhan. Ia adalah terbukanya ruang, agar kita bisa merasakan, bukan berpikir. Kita tidak sedang membicarakan Tuhan, kita sedang diam di hadapan-Nya.


Simone Weil menyebut doa sebagai perhatian yang murni. Dalam perenungannya, perhatian—ketika tak diganggu oleh kehendak—menjadi tindakan yang mendekati bentuk spiritual tertinggi. Begitu pula shalat: ia bukan bentuk kehendak, melainkan pelepasan kehendak. Kita tidak meminta. Kita hadir.

Ketika seseorang bersujud, tubuhnya seolah hendak hilang dalam bumi. Dahi menyentuh tanah, tempat kita berasal dan akan kembali. Tapi di titik rendah itulah paradoks muncul: justru dalam sujud, manusia merasa utuh. Ia tak menjadi kecil, ia menjadi satu.

Dan mungkin di situ kita mengerti: shalat bukan soal mengabdi kepada Tuhan yang jauh di langit, melainkan pulang ke pusat eksistensi diri. Kita tak sedang menyebut Tuhan; kita sedang menyebut kembali siapa kita, di hadapan sesuatu yang tak bisa kita pegang, tapi bisa kita rasakan.


Kenapa Tuhan tak menyuruh Musa untuk berpikir tentang-Nya? Kenapa bukan perintah untuk mengkaji kitab, atau merumuskan kalam, atau memahami tauhid? Karena semua itu akan datang kemudian.

Sebelum itu, Tuhan meminta Musa berhenti.

Berhenti untuk mengingat.

Maka barangkali di zaman ini, shalat tak lagi perlu dijelaskan dengan dalil. Ia perlu dipraktikkan sebagai perlawanan terhadap keterpecahan eksistensi manusia modern. Sebagai bentuk kontemplasi tubuh, sebagai titik temu antara dunia dan keheningan, antara Aku dan Yang Mahahadir.

Shalat, dalam makna terdalamnya, bukan ritual. Ia adalah meditasi, bukan karena kita harus tenang, tapi karena di sanalah satu-satunya ruang tersisa untuk keheningan spiritual.

Dan dalam keheningan itu, kita bisa mendengar gema paling awal dari segala yang ada:

Ingatlah Aku.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tell 1000 Words

Next Post

Ayat yang Menggelisahkan Nurani, Menyentak Nalar

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Ayat yang Menggelisahkan Nurani, Menyentak Nalar

Ayat yang Menggelisahkan Nurani, Menyentak Nalar

Ketika Akal Terhenti di Ujung Ayat: Menyoal Makna “La Yamassuhu Illa al-Muthahharun”

Ketika Akal Terhenti di Ujung Ayat: Menyoal Makna “La Yamassuhu Illa al-Muthahharun”

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira