Surah Al-Isra (17): 23-24
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.’“
Ada satu nasihat yang selalu saya ulang-ulang kepada anak-anak saya: “Orang tua adalah prioritas dari seluruh aktivitasmu.” Bukan karena saya ingin dimuliakan secara berlebihan, tetapi karena ada sebuah kebenaran mendalam yang terkandung dalam relasi antara anak dan orang tua—sebuah hukum kehidupan, sebuah sunatullah.
Sejak seorang anak dilahirkan, orang tuanya adalah pelindung utama. Tidak ada yang lebih tangguh dari kasih ibu yang rela tak tidur demi menjaga bayinya yang demam. Tak ada yang lebih ikhlas dari ayah yang rela menunda kebutuhannya sendiri demi membeli sepatu sekolah anaknya. Semua itu dilakukan tanpa syarat, tanpa perhitungan untung-rugi. Itulah cinta paling hakiki: tidak bersuara, tapi mendalam. Tidak mencolok, tapi mengakar.
Maka, bukankah wajar jika kita menanamkan kepada anak-anak bahwa membalas cinta seperti itu bukan sekadar kewajiban moral, tapi bagian dari akhlak yang luhur? Ketika anak-anak bertumbuh dalam kesadaran bahwa memberi yang terbaik untuk orang tuanya—yang paling indah, paling mahal, paling tulus—adalah bentuk pengakuan atas pengorbanan itu, maka terbentuklah satu generasi yang menghidupkan kembali nilai-nilai kemuliaan dalam keluarga.
Memberi yang terbaik bukan berarti selalu dalam bentuk materi. Tapi ketika ada pilihan antara yang baik dan yang lebih baik, maka orang tua patut mendapatkan yang lebih baik itu. Misalnya, waktu—bukan sisa waktu yang luang, tapi waktu yang paling berharga. Atau perhatian—bukan sekadar basa-basi, tapi perhatian penuh empati dan penghormatan.
Mengapa ini penting? Karena anak-anak belajar bukan dari omongan, melainkan dari keteladanan. Bila hari ini kita sebagai orang tua memperlakukan orang tua kita dengan akhlak mulia, maka anak-anak kita akan menirunya kelak. Akhlak itu menular, bahkan melintasi generasi.
Jadi, membesarkan anak bukan sekadar soal mendidik mereka menjadi pintar atau sukses, tapi menjadikan mereka manusia yang tahu berterima kasih dan menghormati mereka yang telah lebih dulu berkorban. Sebab di balik anak yang saleh, pasti ada orang tua yang sabar. Dan di balik orang tua yang bahagia di masa tuanya, pasti ada anak yang memahami betapa dalam makna pengorbanan itu.
Dalam sunatullah, kehidupan itu bergulir. Yang muda akan menua, dan yang dibesarkan akan menjadi pembesar. Maka bila hari ini kita menanam nilai bahwa orang tua adalah prioritas, kelak anak-anak kita akan menuainya dalam bentuk kasih sayang yang tak kalah besar. Karena cinta, bila diajarkan dan dicontohkan, akan selalu menemukan jalannya untuk kembali pulang.





