Orang kita ini kadang lucu. Sudah hidup di dunia yang fana, masih juga sibuk merasa dirinya paling benar. Soal makan pakai tangan kanan, soal menyilang kaki waktu duduk, bahkan soal celana di atas mata kaki bisa jadi perkara besar—bisa jadi tiket masuk surga atau masuk neraka, tergantung siapa yang bicara. Tapi mari kita bertanya: benarkah agama itu sesempit penafsiran kita sendiri?
Cobalah tengok sejarah Islam. Di sana ada Imam Hanafi yang bilang ini, Imam Malik bilang itu, Imam Syafi’i angkat tangan, dan Imam Hambali mengerutkan dahi. Empat mazhab—semuanya alim, semuanya warak, semuanya tulus mengabdi kepada Ilahi, tapi kok bisa beda-beda? Lalu kita, yang baru khatam satu dua kitab kuning, berani bilang: “Inilah satu-satunya jalan yang lurus, lainnya sesat!”
Kalau begitu caranya, agama bukan lagi menjadi jalan cahaya, tapi berubah jadi tongkat pemukul. Padahal jelas-jelas Tuhan berkata dalam firman-Nya yang mulia: “Wa ja’alnākum syu‘ūban wa qabā’ila lita‘ārafū…”—Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Bukan saling menyalahkan. Bukan saling menuding. Apalagi saling meledakkan.
Lalu ada pula NU dan Muhammadiyah, dua organisasi besar di negeri ini. Yang satu suka tahlilan, yang satu bilang itu bid’ah. Yang satu gemar membaca manaqib, yang satu lebih suka pengajian pakai LCD proyektor. Tapi coba tengok, ketika ada bencana alam, keduanya turun ke lapangan. Ketika umat ditindas, keduanya pasang badan. Maka jangan remehkan beda, karena bisa jadi dari beda itu lahir cinta.
Dan jangan pula lupakan Syi’ah dan Sunni. Dua arus besar dalam samudera Islam. Kadang arusnya bersilang, kadang berlawanan. Tapi keduanya berenang menuju Tuhan yang sama. Lalu kenapa kita harus menciptakan tembok yang lebih tinggi dari langit-langit masjid?
Tuhan tidak menciptakan manusia dalam salinan satu wajah, satu jenis kelamin, atau satu logat. Ada yang dari Madura, ada dari Padang. Ada yang pakai sorban, ada yang pakai peci. Ada yang duduk tahiyat seperti duduk di kursi goyang, ada yang tegap seperti prajurit. Tapi semuanya menghadap kiblat yang sama.
Mengklaim bahwa agama kita adalah satu-satunya yang benar, tanpa ruang bagi tafsir dan perbedaan, ibarat mengaku memiliki matahari hanya karena cahaya pagi menyinari beranda rumah kita lebih dulu. Padahal, matahari itu milik semua umat manusia—ia bersinar tanpa pilih kasih.
Maka berhentilah menganggap berbeda itu sesat. Karena bisa jadi yang berbeda itulah yang menyelamatkanmu dari kesombongan iman. Dan percayalah, surga tidak dibangun dari kebencian. Surga dibangun dari cinta, dari saling pengertian, dari “lita’ārafū” itu tadi.
Jadi, sebelum engkau sibuk menunjuk bid’ah pada orang lain, coba periksa dulu hatimu: jangan-jangan justru engkau sedang mem-bid’ah-kan kasih sayang. Dan Tuhan, sesungguhnya lebih mencintai orang yang rendah hati daripada yang merasa paling suci.





