Kita diajak percaya bahwa wahyu turun dalam bahasa Arab. Itu disebut dengan tegas dalam satu ayat Al-Qur’an, surat Yusuf ayat 2: Inna anzalnahu Qur’anan ‘Arabiyyan la’allakum ta’qilun — (إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ) Kami turunkan Qur’an dalam bahasa Arab, agar kalian memahaminya.
Kalimat itu tak hanya menjelaskan medium, tapi juga maksud. Bahasa Arab bukan sekadar alat, melainkan jembatan kesadaran: agar kalian berpikir.
Namun, sejarah tak selalu tunduk pada dogma. Ia kadang muncul sebagai pelancong yang tak diundang, membawa serpihan-serpihan yang lain: manuskrip, kosakata asing, bahkan bunyi-bunyi tua yang tak sepenuhnya Arab. Seorang sarjana bernama Christoph Luxenberg—nama samaran, mungkin karena dunia terlalu bising untuk menerima pikiran yang melawan arus—pernah mengusulkan agar beberapa bagian Al-Qur’an dibaca dalam Syro-Aramaic, bukan Arab.
Menurutnya, Arab abad ke-7 belum mengenal diksi-diksi tertentu. Maka, kemungkinan besar, kata-kata seperti hur (yang selama ini diterjemahkan sebagai bidadari), bisa saja berarti “anggur putih” jika dibaca dalam lensa Suryani. Luxenberg mencurigai bahwa ayat-ayat tentang surga tak berbicara tentang tubuh, melainkan kenikmatan yang spiritual—dan barangkali lebih puitis.
Kita boleh tidak percaya. Dan memang banyak yang tidak. Tapi dugaan itu, betapapun kaburnya, menunjukkan sesuatu: bahasa, sebagaimana sejarah, adalah ruang terbuka. Ia menyerap, menyesuaikan, menggubah ulang.
Bahasa Arab, seperti bahasa manapun, tidak steril. Ia meminjam dari Ibrani, dari Persia, dari Etiopia. Al-Qur’an memakai kata Injil, Jahannam, Sijjin, Zaqqum, Furqan—yang semuanya punya akar di luar Arab.
Namun di titik ini, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi: “Apakah Qur’an murni Arab?”, tapi: “Apakah kebenaran terikat pada etimologi?”
Goethe, penyair Jerman itu, membaca Al-Qur’an dan merasakan getaran spiritual. Ia tak perlu mengerti akar katanya. Muhammad Asad, dulunya Leopold Weiss, menemukan hidayah dalam ritme kalimat-kalimatnya. Dan bahkan para penentang Qur’an pun mengakui satu hal: ia tak tertandingi dalam kekuatan bahasanya.
Maka mungkin kebenaran bukan hanya dalam kata, tapi dalam resonansi. Seperti musik, yang tak perlu dijelaskan agar bisa menyentuh.
Saya tak hendak menjadi hakim dalam perdebatan antara wahyu dan artefak. Saya tak tahu mana yang datang lebih dulu—iman, atau bahasa. Tapi mungkin, seperti kata penyair, ada kalimat yang terlalu hidup untuk sekadar dibedah. Ia lahir bukan hanya dari akar kata, tapi dari sesuatu yang lebih dalam—yang tak bisa diukur oleh linguistik, atau dibuktikan oleh manuskrip.
Mungkin itu sebabnya Qur’an tak disebut “kitab Arab”, melainkan “dzikr”—pengingat.
Dan ingatan, seperti halnya iman, kadang tidak tunduk pada analisa. Ia tinggal di tempat yang tak bisa dijamah: hati yang percaya, atau pikiran yang terus bertanya.





