Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

munira by munira
January 11, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang menyebut perceraian sebagai nasib. Seolah ia adalah badai yang datang tanpa diundang, merobohkan rumah tangga yang awalnya tampak kokoh. Padahal, bila kita jujur menelusuri jejaknya, tak ada perpisahan yang benar-benar terjadi tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari benih-benih kecil yang dibiarkan, disiram, lalu membesar—hingga akhirnya memecah fondasi cinta itu sendiri.

Perkawinan bukan sekadar pertemuan dua hati, melainkan pertemuan dua kehendak. Dan kehendak selalu melibatkan pilihan. Sejak awal seseorang memilih untuk mencintai, memilih untuk berkomitmen, memilih untuk bertahan, atau memilih untuk menyerah. Maka ketika ujungnya adalah perceraian, sesungguhnya itu bukan nasib. Itu adalah rangkaian pilihan yang terus diambil—atau diabaikan—hingga sampai pada titik akhir.

Sering kali orang berlindung di balik kata “takdir” untuk menenangkan luka. Padahal takdir dalam kehidupan manusia tidak pernah berdiri sendiri tanpa ikhtiar. Takdir adalah ruang kemungkinan, sedangkan pilihan adalah langkah nyata yang mengisi ruang itu. Kita memilih untuk mendengar atau mengabaikan. Memahami atau menyalahkan. Merawat atau menelantarkan. Dan dari pilihan-pilihan itulah arah hidup dibentuk.

Karena itu, tidak mungkin jodoh sepenuhnya disebut sebagai takdir Tuhan bila ujungnya adalah perceraian. Sebab Tuhan mempertemukan, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana pertemuan itu dijaga atau dihancurkan. Jika jodoh benar-benar dimaknai sebagai takdir yang mutlak, maka semestinya ia berakhir pada kesetiaan, bukan perpisahan. Perceraian adalah bukti bahwa di antara pertemuan dan perpisahan, manusia diberi kehendak bebas—dan di sanalah pilihan bekerja.

Cinta pun sejatinya bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. Ketika keputusan itu berhenti diperbarui, cinta kehilangan napasnya. Yang tersisa hanya kebiasaan, kewajiban, atau keterpaksaan. Dari sanalah retak bermula—bukan dari nasib, melainkan dari pilihan yang tak lagi dijaga.

Pada akhirnya, takdir bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa keterlibatan manusia. Ia adalah jalan yang terbentang, tetapi kakilah yang melangkah. Bila ujung sebuah perkawinan adalah perpisahan, itu bukan semata nasib. Sejak awal hingga akhir, ia adalah kisah tentang pilihan—dan cermin tentang bagaimana manusia memaknai amanah cinta yang pernah ia terima.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Takdir Itu Pilihan

Next Post

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Agama: Invisible Business, Gagal Tapi Konsumen yang Disalahkan

by munira
March 3, 2026
0

Agama adalah satu dari sedikit “produk” yang tidak kasatmata, tetapi memiliki pasar paling loyal sepanjang sejarah manusia. Ia tidak dijual...

Perempuan Melawan Lupa

by munira
March 2, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Tema Hari Perempuan Internasional tahun 2025 datang seperti pengingat Hak, kesetaraan, dan pemberdayaan terasa dekat, tetapi...

Next Post
Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

Iman Tanpa Akal: Jalan Pintas Menuju Kesesatan Riwayat

Hari Ini Adalah Hidup Itu Sendiri

Hukum Sebab Akibat dalam Perkawinan: Ketika Cinta, Dosa, dan Luka Bertemu

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira