Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Hidup, Laksana Berselancar di Laut Waktu

munira by munira
May 18, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Hidup, ah hidup—ia bukan jalan datar yang mudah ditebak. Ia seperti samudra luas tak berbatas, penuh gelombang rahasia yang menyimpan pelajaran dalam setiap deburnya. Dalam hidup, kita bukan penonton di bibir pantai. Kita adalah peselancar di tengah ombak, menggenggam papan harapan, menantang derasnya arus dengan keberanian yang rapuh namun gigih.

Sebagian besar waktu, kita harus mendayung sekuat tenaga. Mendorong diri maju melawan arus, dalam kesunyian yang kadang melelahkan, tanpa tepuk tangan, tanpa peluit keberhasilan. Tangan lelah, dada sesak, tapi hati terus berseru: “Sedikit lagi, sedikit lagi.” Itulah hidup—kerja tanpa jaminan, usaha yang tak selalu berbuah.

Dan ya, ada saatnya kita tergulung ombak. Wipe out, kata para peselancar. Kita terhempas, jatuh, tenggelam dalam ketakberdayaan. Segalanya tampak sia-sia. Tapi justru di titik itu, kita belajar tentang kepasrahan. Bahwa jatuh bukan kutuk, tapi jeda. Bahwa air laut yang menyesakkan itu, suatu hari nanti akan menjadi sahabat saat kita tahu cara mengalir bersamanya.

Namun hidup tidak terus-menerus tentang mendayung dan jatuh. Ada momen-momen langka, ketika semesta menyelaraskan waktunya. Ketika posisi kita tepat, angin berpihak, dan ombak menjulang indah seperti undangan surgawi. Kita tak lagi melawan. Kita meluncur.

Dalam momen itulah—sekilas tapi abadi—kita mengenal arti harmoni. Kita, ombak, angin, dan waktu berdansa dalam diam. Tanpa paksaan. Tanpa ambisi. Hanya keberadaan yang utuh dan selaras. Satu gelombang, satu perjalanan singkat yang membayar seluruh luka dan lelah.

Hidup, seperti berselancar, bukan tentang menang atas lautan. Tapi tentang menyatu dengan ritmenya. Menemukan keindahan bukan saat semuanya mudah, tapi ketika kita mampu bertahan, mencoba, jatuh, bangkit, dan pada akhirnya… terbangun dalam arus yang membawa kita pada kebebasan sejati.

Dan saat ombak itu datang, kita tahu: segala dayung yang melelahkan, setiap jatuh yang memalukan, bukanlah sia-sia—melainkan bagian dari simfoni untuk satu momen yang abadi.

Karena dalam hidup, seperti dalam berselancar, kadang yang kita cari bukan garis akhir—melainkan rasa meluncur di atas gelombang, seolah dunia berhenti sejenak untuk memberi kita satu perjalanan yang benar-benar indah.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Setelah Enam Puluh: Tujuh Aturan Menjaga Hidup yang Tersisa

Next Post

Kehadiran dalam Duka: Pelajaran dari Koko dan Robin

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Kehadiran dalam Duka: Pelajaran dari Koko dan Robin

Kehadiran dalam Duka: Pelajaran dari Koko dan Robin

Labaika Allahuma La Baik

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira