“Yā ayyuhā alladhīna āmanū ittaqullāh…”
“Yā ayyuhā al-nāsu ittaqū rabbakum alladhī khalaqakum…”
Dua ayat ini, meskipun sepintas serupa dalam bentuk seruannya, memuat perbedaan makna yang amat dalam. Satu ditujukan kepada mereka yang telah beriman, satu lagi kepada seluruh umat manusia. Perbedaan ini bukan hanya soal audiens, tapi mencerminkan cara Al-Qur’an mengakui kenyataan pluralitas keyakinan yang ada di dunia, sekaligus menawarkan jalan pulang kepada Tuhan yang Esa.
“Ittaqullah”: Perintah Eksklusif untuk Mereka yang Sudah Percaya
Frasa “Ittaqullah” (اتقوا الله) kerap muncul dalam ayat-ayat yang menyeru kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanannya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah…”
Dalam kalimat ini, Allah disebut dengan nama-Nya yang khas dan agung: Allah, yang hanya digunakan dalam konteks tauhid.
Perintah ini tidak sedang memperkenalkan Tuhan, melainkan menguatkan relasi batin dan tanggung jawab moral orang beriman terhadap Tuhan yang sudah mereka akui. Ini adalah panggilan internal untuk menjaga kesadaran spiritual terhadap Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun muamalah.
“Ittaqū Rabbakum”: Seruan Universal kepada Semua Manusia
Berbeda dari itu, “Ittaqū rabbakum” (اتقوا ربكم), sering kali digunakan dalam seruan kepada seluruh manusia, seperti dalam pembukaan Surah An-Nisā:
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa…”
Dalam ayat ini, Tuhan diperkenalkan sebagai Rabb, yaitu Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur kehidupan—sebuah konsep yang melintasi sekat-sekat teologis dan menyentuh fitrah manusia secara universal. Allah tidak disebut dengan nama-Nya, tetapi dengan fungsi keberadaan-Nya terhadap seluruh umat manusia, tanpa memandang mereka menyembah siapa atau apa.
Pengakuan Qur’an atas Eksistensi Ragam Keyakinan
Inilah titik paling penting: Dengan menggunakan kata “Rabbakum” alih-alih “Allah”, Al-Qur’an secara tidak langsung mengakui kenyataan bahwa manusia memiliki sesembahan yang beragam. Ada yang menyembah berhala, api, langit, leluhur, bahkan dirinya sendiri. Dalam banyak tempat, Al-Qur’an tidak menafikan keberadaan itu. Ia merekognisi realitas plural, bahkan mendialoginya.
Namun, dalam pengakuan itu, Qur’an tidak menyerah pada relativisme, melainkan menegaskan: siapa pun yang kamu sembah, kamu tetap diciptakan oleh Rabb yang satu. Maka takwalah kepada Rabbakum—Tuhan sejati kalian—bukan kepada ciptaanmu sendiri.
Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan kitab yang eksklusif dalam pendekatannya terhadap keberagaman, melainkan inklusif secara dakwah, namun tetap eksklusif dalam kebenaran tauhid.
Dialog, Bukan Pemaksaan
Dengan mengawali seruan kepada manusia dengan “Ittaqū Rabbakum”, Al-Qur’an memulai pendekatan yang bersifat dialogis dan eksistensial, bukan dogmatis dan instruktif semata. Ia mengajak manusia berpikir, merenung, dan mengenali siapa dirinya, siapa penciptanya, sebelum memasuki ruang keimanan yang lebih dalam.
Penutup: Jalan Menuju Tauhid
“Ittaqullah” adalah puncak dari perjalanan spiritual. Tapi tidak semua orang sampai ke sana dalam satu langkah. Sebelum itu, Qur’an memulai dengan “Ittaqū Rabbakum”—sebuah pintu masuk ke dalam kesadaran ilahiyah. Ia mengakui bahwa manusia memiliki banyak jalan dan keyakinan, namun tetap diarahkan menuju satu pusat: Allah, Rabb semesta alam.
Maka, dalam dua kalimat pendek itu, kita melihat bukan hanya perintah, tetapi juga strategi dakwah Qur’an yang halus namun kuat. Pengakuan atas eksistensi semua keyakinan bukanlah pembenaran atasnya, melainkan pengantar menuju kebenaran sejati.




