(Lampu redup. Asap tipis kemenyan mengepul dari sudut panggung. Aktor berdiri tenang, tangan memegang setangkai bunga. Suara lembut, penuh perenungan.)
Tahukah kau…
ada kitab suci yang tak pernah ditulis,
tak dibukukan, tak dijilid, tak dibacakan dari mimbar.
Namun ia hidup…
bernapas di antara asap dupa,
menari bersama desir angin,
berbisik dalam sunyi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang diam.
Itulah sajen.
Bukan jimat, bukan sihir, bukan sisa dari masa lalu yang usang.
Tapi sabda semesta yang dibisikkan lewat bunga,
lewat nasi, garam, minyak, dan sejumput doa yang tak bersuara.
Leluhur menyebutnya sastra jenda
—kitab suci yang hidup.
Yang tak perlu huruf, tak butuh aksara.
Karena ia tak dibaca oleh mata,
tapi oleh rasa.
(Aktor melangkah perlahan, seolah menata sesuatu di lantai.)
Di sini…
sebatang dupa tak sekadar wewangian.
Ia adalah tiang komunikasi ke langit.
Butiran beras adalah harapan,
garam adalah pelindung,
bunga tujuh rupa—
adalah pelangi yang tumbuh dari kesadaran:
bahwa hidup tak pernah tunggal.
Sajen adalah pelajaran tentang harmoni.
Ia berkata:
jangan tamak.
jangan sombong.
jangan lupakan bahwa kau hanya bagian,
seperti daun yang jatuh,
seperti angin yang lewat—
sejenak, lalu hilang.
(Nada suara mulai dalam, intens.)
Di zaman ini,
kita sibuk membaca kitab yang dicetak,
menghafal dogma,
mewajibkan aturan—
tapi lupa,
bahwa semesta juga punya kitabnya sendiri.
Dan kitab itu tak pernah dibuka dengan jari,
melainkan dengan hati.
Sajen adalah pengingat.
Bahwa semesta ini hidup.
Dan kita ini—hanyalah tamu.
Maka,
berikan sajenmu.
Letakkan dengan tenang.
Bukan karena takut pada roh,
bukan karena percaya pada klenik—
tetapi karena tahu:
hidup ini adalah persembahan.
Dan kita,
adalah bagian dari puisi panjang yang ditulis oleh semesta,
dengan bahasa yang tak pernah bisa diterjemahkan…
kecuali oleh keikhlasan.
(Hening. Cahaya meredup. Asap dupa terakhir mengepul ke udara. Lampu padam.)





