Pada suatu pagi yang belum sepenuhnya terjaga, di sudut tanah yang masih basah oleh embun, tampak sehelai daun pisang ditata rapi. Di atasnya, bunga kenanga, melati, dan kantil bersanding dengan butiran nasi, garam, dan sejumput kemenyan yang mengepul pelan. Inilah sajen—yang oleh lidah leluhur disebut sastra jenda: kitab suci yang hidup, kitab yang tak ditulis dengan tinta, tapi dengan getar jiwa.
Sastra jenda bukanlah ayat yang membatu dalam halaman. Ia menari bersama angin, ia menyanyi bersama gemericik air, ia bergetar dalam batin orang-orang yang tahu cara mendengar semesta. Ia adalah bahasa diam, tapi penuh makna; sunyi, namun lantang bagi siapa pun yang jernih hatinya. Sajen adalah caranya berbicara: tentang syukur, tentang seimbang, tentang rela memberi sebelum meminta.
Dalam sebatang dupa yang perlahan habis terbakar, manusia menitipkan harap dan maaf. Pada kelopak bunga, tersimpan penghormatan untuk yang telah mendahului. Pada setetes minyak kelapa, terkandung kesadaran bahwa hidup harus lentur, harus terang, harus sederhana. Semuanya menyatu menjadi pesan universal yang melampaui agama, melampaui zaman: bahwa hidup adalah persembahan, bukan penguasaan.
Sajen mengajari kita satu hal yang dilupakan oleh dunia modern: bahwa tidak semua harus dijelaskan oleh logika. Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh rasa. Dunia yang dulu tidak dibaca dengan buku, tapi dengan tanda. Dan sajen adalah tanda—ia adalah simbol dari simbol, lambang dari makna yang tak mungkin selesai dipahami oleh nalar semata.
Ia juga menjadi pengingat, bahwa manusia bukan pusat semesta. Kita ini hanya bagian, seperti pasir di pantai, seperti embun di pagi hari. Ketika kita memberi sajen, sejatinya kita sedang belajar menunduk. Kita sedang berkata kepada bumi, kepada langit, kepada api, air, dan udara: Aku sadar, aku ada karena kalian.
Sajen adalah puisi semesta, dibaca oleh rumput, didengar oleh batu, dirasakan oleh angin. Ia hidup bukan untuk diagungkan, tapi untuk dipahami. Dan saat kita meletakkannya, dengan setulus-tulusnya, di sanalah sastra jenda itu hidup. Menyala dalam hati, menyejukkan jiwa, dan memeluk kita dalam keheningan yang tak terucap.






