Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal

munira by munira
February 23, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

Barangkali yang kerap disalahpahami bukanlah Tuhan, melainkan agama itu sendiri. Sebab jika ditelisik lebih dalam, agama sebagai entitas tunggal nyaris tak pernah hadir dalam sejarah manusia. Yang ada justru tafsir—berlapis, beragam, dan saling menegasikan. Dalam Islam, misalnya, Islam yang dijalani Nabi Muhammad sebagai pengalaman eksistensial yang utuh, hampir mustahil kita temukan kembali secara murni. Yang tersisa adalah Islam versi mazhab: Syafi’i, Hanafi, Hambali, Maliki. Masing-masing mengklaim kedekatan paling sah dengan Nabi, seolah kebenaran ilahiah dapat diwariskan melalui garis metodologis yang beku.

Fenomena serupa menjalar ke seluruh keyakinan. Kristen terbelah dalam denominasi, Katolik berdiri dengan hierarki sakramennya, dan di dalamnya tumbuh sekian banyak sekte—“cult”—yang sama-sama mengklaim kebenaran wahyu. Maka agama bukan lagi jalan sunyi menuju makna, melainkan medan perebutan tafsir yang riuh dan sering kali berdarah.

Di Indonesia, Islam hadir dengan wajah-wajah lokal: Islam Kejawen, Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam PERSIS, Islam Al-Washliyah, dan seterusnya. Nama Tuhan satu, tetapi wajah-Nya berubah-ubah sesuai kepentingan sosial, politik, bahkan kultural. Tuhan menjadi cermin tempat manusia memantulkan kehendaknya sendiri.

Ironisnya, di tengah pertikaian tafsir itu, Tuhan tetap digambarkan sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Segalanya. Namun sejarah justru memperlihatkan paradoks yang getir: Tuhan tampak tak berpihak, bahkan ketika umat-Nya saling bunuh-membunuh atas nama-Nya. Perang Islam–Kristen telah lama tercatat. Konflik Hindu–Islam masih berlangsung di India. Genosida terhadap Muslim Rohingya terjadi di negeri yang mengklaim ajaran Buddha sebagai jalan welas asih. Konflik Islam–Yahudi tak pernah sepi korban. Bahkan Islam melawan Islam pun sesekali meletup, membuktikan bahwa musuh paling kejam sering lahir dari rahim keyakinan yang sama.

Maka patut dicurigai, barangkali pemicunya bukan Tuhan yang transenden, melainkan “tuhan-tuhan kecil”: ego kolektif, fanatisme mazhab, hasrat kuasa yang disakralkan. Tuhan yang seharusnya menjadi sumber kasih justru direduksi menjadi legitimasi kekerasan.

Wahabisme di Arab Saudi pernah mengusung mimpi besar: mengembalikan Islam pada kemurnian ajaran Nabi. Namun ironi sejarah kembali bekerja. Gerakan itu kini ditentang oleh banyak kaum Muslim sendiri, karena alih-alih menghadirkan rahman~rahim, ia justru melahirkan wajah Islam yang kaku, eksklusif, dan tak jarang brutal. Di titik ini, klaim “Tuhan Maha Kasih” terdengar seperti slogan kosong—bahkan bagi sebagian orang, terasa sebagai kebohongan yang dipelihara bersama.

Pengalaman personal sering kali mempertegas keraguan itu. Sejuta umat berdoa agar pertumpahan darah tak terjadi—namun darah tetap mengalir. Doa-doa melangit, realitas tetap membumi dengan luka. Di sebuah rumah sakit berbasis agama, doa dipanjatkan sebelum operasi kecil dilakukan. Namun pisau bedah tetap mengiris, dan tagihan tetap harus dibayar. Tuhan hadir dalam ritual, tetapi absen dalam kepastian hasil. Di hadapan fakta semacam itu, iman tampak tak lebih dari penghiburan simbolik.

Maka menjadi agnostik—tidak mempersoalkan ada atau tidaknya yang Maha Gaib—bagi sebagian orang bukanlah pemberontakan, melainkan keniscayaan intelektual. Ranah gaib bukan ranah akal sehat; ia wilayah angan-angan, harapan, dan ketakutan manusia sendiri. Akal berhenti di batas pengalaman, sementara iman melayang di ruang yang tak dapat diverifikasi.

Di titik inilah manusia dihadapkan pada pilihan sunyi: tetap beriman dengan segala paradoksnya, atau jujur pada akal dengan segala kekosongannya. Keduanya sama-sama berisiko. Namun mungkin, justru di antara iman yang retak dan akal yang ragu, manusia bisa kembali belajar satu hal paling sederhana—hidup tanpa membunuh atas nama apa pun, termasuk atas nama Tuhan.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Di Negeri yang Ramai Doa tapi Miskin Logika

Next Post

Tuhan dalam Bayangan Kesadaran

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Agama: Invisible Business, Gagal Tapi Konsumen yang Disalahkan

by munira
March 3, 2026
0

Agama adalah satu dari sedikit “produk” yang tidak kasatmata, tetapi memiliki pasar paling loyal sepanjang sejarah manusia. Ia tidak dijual...

Perempuan Melawan Lupa

by munira
March 2, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Tema Hari Perempuan Internasional tahun 2025 datang seperti pengingat Hak, kesetaraan, dan pemberdayaan terasa dekat, tetapi...

Next Post

Tuhan dalam Bayangan Kesadaran

Perempuan Melawan Lupa

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira