Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tuhan dalam Bayangan Kesadaran

munira by munira
February 23, 2026
in Fiksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kalau pun Tuhan itu ada, barangkali Ia tidak akan pernah hadir seperti yang digambarkan oleh agama-agama dan sistem keyakinan. Tuhan versi kitab, mimbar, dan dogma terlalu sempit untuk sesuatu yang diklaim maha luas. Terlalu verbal untuk sesuatu yang seharusnya melampaui bahasa. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Tuhan ada, melainkan bagaimana Ia hadir.

Mungkin Tuhan tidak hadir di luar sana—di langit ketujuh, di balik tirai ghaib, atau di singgasana metafisik—melainkan justru di dalam sini: dalam bayangan otak manusia itu sendiri. Dalam kesadaran. Dalam tafsir personal yang tak bisa diwariskan, tak bisa dipaksakan, dan tak bisa dipolitisasi.

“Lha kok bisa?”
Kenapa tidak?

Jika Tuhan memang Mahakuasa, apa sulitnya Ia hadir sesuai kapasitas penerima-Nya? Apa susahnya Tuhan menampakkan diri sesuai bahasa batin masing-masing manusia? Bukankah keterbatasan ada pada manusia, bukan pada Tuhan? Maka Tuhan yang menuntut disembah hanya melalui satu bentuk, satu tafsir, satu jalan—justru tampak sangat manusiawi. Terlalu manusiawi. Bahkan, maaf, terlalu bodoh untuk ukuran Tuhan.

Tuhan yang besar tak akan tersinggung oleh tafsir. Tuhan yang cerdas tak membutuhkan pembela bersenjata. Tuhan yang benar-benar Maha tidak akan cemburu pada perbedaan persepsi. Ia tidak sibuk menghitung ritual, tidak rewel terhadap simbol, dan tidak alergi terhadap pertanyaan. Sebab pertanyaan adalah bentuk tertinggi dari kesadaran.

Jika Tuhan ada, Ia mestinya memahami bahwa otak manusia bekerja dengan imajinasi, nalar, dan pengalaman. Maka Tuhan yang hadir dalam bayangan kesadaran manusia bukanlah pelecehan, melainkan konsekuensi logis dari penciptaan itu sendiri. Tuhan menciptakan otak—lalu marah ketika otak berpikir? Itu bukan Tuhan; itu diktator kosmik.

Agama-agama kerap menyajikan Tuhan yang mudah murka, mudah tersinggung, dan gemar menghukum. Tuhan yang seperti ini bukan hanya kecil, tapi juga kikuk. Ia butuh dipuji terus-menerus, dibela oleh manusia, bahkan “dibela” dengan darah. Tuhan yang semacam ini terlalu rapuh untuk disembah.

Maka menolak menyembah Tuhan yang bego bukanlah penghinaan terhadap ketuhanan, melainkan penghormatan terhadap akal sehat. Jika Tuhan ada dan benar-benar Maha Segalanya, Ia pasti cukup cerdas untuk memahami sikap itu—bahkan mungkin tersenyum.

Sebab Tuhan yang layak disembah bukanlah Tuhan yang takut pada pikiran manusia, melainkan Tuhan yang justru hidup di dalamnya. Hehehe.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tuhan, Tafsir, dan Pertumpahan Darah: Sebuah Renungan tentang Iman dan Akal

Next Post

Perempuan Melawan Lupa

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Agama: Invisible Business, Gagal Tapi Konsumen yang Disalahkan

by munira
March 3, 2026
0

Agama adalah satu dari sedikit “produk” yang tidak kasatmata, tetapi memiliki pasar paling loyal sepanjang sejarah manusia. Ia tidak dijual...

Perempuan Melawan Lupa

by munira
March 2, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Tema Hari Perempuan Internasional tahun 2025 datang seperti pengingat Hak, kesetaraan, dan pemberdayaan terasa dekat, tetapi...

Next Post

Perempuan Melawan Lupa

Agama: Invisible Business, Gagal Tapi Konsumen yang Disalahkan

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira