Ada sesuatu yang paradoksal ketika gunung api meletus. Di satu tempat, letusannya menjadi bencana yang menghancurkan rumah, meluluhlantakkan ladang, dan merenggut kehidupan. Di tempat lain, letusan yang sama-sama dahsyat dapat menjadi tontonan yang memukau, diabadikan melalui lensa kamera, dan dikagumi sebagai salah satu pertunjukan alam paling spektakuler.
Alam melakukan pekerjaannya. Manusia menyaksikan, mengalami, lalu memberikan makna.
Ketika Gunung Merapi meletus, misalnya, manusia yang hidup di sekitarnya dapat menghadapi kenyataan yang getir. Awan panas menyapu lereng, abu vulkanik menyelimuti permukiman, dan material letusan mengubur lahan pertanian. Rumah yang dibangun dengan jerih payah bertahun-tahun bisa lenyap dalam hitungan menit. Sumber penghidupan terputus. Sebagian orang terpaksa meninggalkan kampung halaman, sementara yang lain kehilangan anggota keluarga untuk selama-lamanya.
Bagi mereka, letusan bukanlah tontonan. Ia adalah kehilangan yang nyata.
Namun, ketika aktivitas vulkanik berlangsung di tengah lautan atau terlihat dari jarak yang aman, manusia dapat menyaksikannya dengan perasaan yang berbeda. Semburan material pijar, kepulan asap yang membumbung ke langit, dan cahaya lava yang menerangi kegelapan menghadirkan pemandangan yang terasa agung sekaligus menggetarkan. Para fotografer dan pembuat film berlomba mengabadikan momen langka itu. Kamera merekam sesuatu yang oleh mata manusia biasa mungkin hanya dapat disaksikan sesekali sepanjang hidupnya.
Di satu sisi, kehancuran. Di sisi lain, keindahan.
Apakah alam sedang memperlihatkan dua wajah yang berbeda? Ataukah manusia yang melihatnya dari posisi yang berbeda, sehingga memberikan penilaian yang berbeda pula?
### Alam Tidak Mengenal Bahasa Manusia
Gunung api tidak meletus untuk menghukum seseorang. Ia juga tidak mengeluarkan lava untuk menghadiahkan keindahan kepada seorang fotografer. Letusan merupakan bagian dari proses geologis bumi, yang berlangsung melalui mekanisme alamnya sendiri.
Dalam pengertian ini, alam tidak mengenal kategori yang diciptakan manusia: musibah dan anugerah, kehancuran dan keindahan, kesedihan dan kekaguman.
Kategori-kategori itu muncul ketika proses alam bersentuhan dengan pengalaman manusia.
Abu vulkanik yang menutupi rumah menjadi kesengsaraan bagi penghuninya. Namun, material vulkanik juga dapat menyumbangkan unsur mineral bagi tanah dan, dalam kondisi tertentu, mendukung kesuburan setelah melalui proses pelapukan. Lava yang membeku dapat membentuk bentang alam baru. Bahkan, letusan tertentu dapat menciptakan daratan baru, meskipun proses pembentukan dan perkembangan ekosistemnya memerlukan waktu panjang.
Tentu saja, tidak setiap letusan menghasilkan manfaat yang sebanding dengan kerusakannya. Ada kehancuran yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan. Ada pula kehilangan manusia yang tidak mungkin diganti oleh kesuburan tanah atau lahirnya sebuah pulau.
Namun, dari sini kita dapat memahami satu hal: proses alam tidak berhenti pada kehancuran yang kita saksikan hari ini. Bumi terus bergerak, berubah, dan membentuk keadaan-keadaan baru.
Apa yang tampak sebagai akhir bagi satu bentuk kehidupan belum tentu merupakan akhir dari seluruh proses kehidupan alam.
### Dari Kehancuran Menuju Pembaruan
Bayangkan sebuah kawasan yang porak-poranda akibat letusan. Pepohonan tumbang, permukaan tanah tertutup material vulkanik, dan habitat berbagai makhluk hidup mengalami perubahan drastis. Lanskap yang dahulu dikenal manusia tidak lagi tampak sama.
Waktu kemudian berjalan.
Material vulkanik mengalami perubahan. Tumbuhan tertentu mulai tumbuh kembali. Organisme datang, beradaptasi, dan membentuk hubungan ekologis baru. Perlahan-lahan, kehidupan dapat kembali menemukan tempatnya, meskipun ekosistem yang terbentuk mungkin berbeda dari keadaan sebelumnya.
Alam tidak selalu memulihkan sesuatu persis seperti semula. Terkadang, ia membangun keadaan yang sama sekali baru.
Demikian pula pada pulau-pulau vulkanik. Letusan dapat mengubah bentuk daratan, menambah material, bahkan dalam kondisi tertentu membentuk pulau baru. Akan tetapi, daratan yang baru terbentuk bukan berarti langsung menjadi habitat yang matang. Kehidupan harus melalui proses panjang untuk tumbuh, berkembang, dan menemukan keseimbangannya.
Di sinilah kita dapat membaca letusan gunung api sebagai bagian dari dinamika alam semesta: bukan sekadar kehancuran, melainkan perubahan yang membuka kemungkinan bagi bentuk kehidupan dan bentang alam yang baru.
Saya menyebutnya sebagai proses pembaruan alam. Bukan karena setiap kehancuran pasti berakhir dengan sesuatu yang lebih baik, melainkan karena kehidupan di bumi berlangsung melalui perubahan yang terus-menerus.
Kapan Sebuah Peristiwa Disebut Musibah?
Lalu, mengapa letusan Gunung Merapi disebut musibah, sementara letusan yang disaksikan dari kejauhan dapat dianggap sebagai anugerah visual?
Jawabannya terletak pada hubungan antara peristiwa alam dan kehidupan manusia.
Bagi seseorang yang kehilangan rumah akibat letusan, peristiwa itu adalah musibah. Bagi fotografer yang berhasil mengabadikan semburan lava dari lokasi aman, peristiwa tersebut mungkin menjadi pengalaman yang mengagumkan. Bagi ilmuwan, letusan yang sama dapat menjadi kesempatan untuk memahami lebih jauh mekanisme bumi.
Ketiganya berhadapan dengan fenomena alam yang sama, tetapi mengalami dan menafsirkannya secara berbeda.
Karena itu, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan apakah letusan itu sendiri merupakan musibah atau anugerah, melainkan bagaimana suatu peristiwa alam berhubungan dengan kehidupan yang berada di sekitarnya.
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan gagasan tentang hukum alam sebagai alasan untuk mengabaikan penderitaan. Keindahan letusan tidak menghapus kesedihan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Demikian pula, lahirnya daratan baru tidak dengan sendirinya membenarkan kehancuran yang dialami manusia.
Mengakui bahwa alam bergerak menurut hukumnya sendiri bukan berarti kita harus menjadi dingin terhadap penderitaan. Justru kesadaran itu seharusnya mendorong manusia untuk memahami alam, mengenali bahaya, dan mengembangkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengannya.
Sunatullah dan Kesadaran Manusia
Dalam bahasa keagamaan, keteraturan dan ketetapan hukum alam sering direnungkan melalui konsep *sunatullah*. Alam bergerak menurut ketentuan yang tidak dapat diubah hanya karena manusia menginginkan keadaan yang berbeda.
Gunung api dapat meletus. Gempa dapat mengguncang bumi. Laut dapat mengirimkan gelombang besar ke daratan. Manusia tidak memiliki kuasa mutlak untuk menghentikan semua proses tersebut.
Namun, manusia memiliki akal untuk mempelajari tanda-tandanya, mengenali pola bahayanya, dan mengurangi risiko yang ditimbulkannya.
Permukiman dapat ditata dengan mempertimbangkan peta rawan bencana. Sistem peringatan dini dapat dikembangkan. Jalur evakuasi dapat disiapkan. Masyarakat dapat memperoleh informasi agar mampu mengambil keputusan yang lebih tepat.
Di sini, pemahaman terhadap sunatullah tidak semestinya berhenti pada penerimaan pasif terhadap apa yang terjadi. Ia juga dapat menjadi dorongan untuk menggunakan akal, membaca realitas, dan bertindak secara bertanggung jawab.
Alam memiliki hukumnya. Manusia memiliki kemampuan untuk mempelajarinya.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Penutup: Alam Berubah, Manusia Menafsirkan
Pada akhirnya, letusan gunung api mengingatkan kita bahwa bumi bukan panggung yang diam. Ia adalah dunia yang terus bergerak, membentuk, meruntuhkan, dan mengubah dirinya melalui proses yang jauh melampaui kepentingan manusia.
Kita sering menyebut sesuatu sebagai kehancuran karena kita terikat pada bentuk yang telah kita kenal. Kita menyebut sesuatu sebagai musibah karena kehidupan yang kita cintai mengalami kehilangan. Sebaliknya, kita menyebutnya keindahan ketika kita dapat menyaksikan kedahsyatan alam tanpa harus menanggung seluruh risikonya.
Mungkin, di sinilah letak pelajaran yang paling penting: manusia perlu membedakan antara proses alam dan penilaiannya sendiri terhadap proses tersebut.
Kita boleh mengagumi letusan gunung api, tetapi tidak boleh melupakan mereka yang menjadi korbannya. Kita dapat memahami bahwa alam terus mengalami perubahan, tetapi tidak boleh menggunakan gagasan tentang pembaruan untuk mengecilkan penderitaan manusia.
Alam akan terus bergerak menurut hukumnya. Tugas manusia adalah memahami hukum itu, menghormati batas-batasnya, dan belajar mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.
Sebab, gunung api tidak pernah meminta manusia untuk mengagumi keindahannya. Manusialah yang memilih dari mana ia melihat, apa yang ia rasakan, dan makna apa yang ia berikan kepada peristiwa yang disaksikannya.
**Mungkin, yang berbeda bukanlah letusan gunung apinya, melainkan posisi manusia ketika menghadapinya.**
*Ordo Ab Chao*: Keteraturan dari Kekacauan
Ada sebuah ungkapan Latin yang menarik untuk direnungkan: *ordo ab chao* — keteraturan yang lahir dari kekacauan.
Letusan gunung api memperlihatkan paradoks itu dengan cara yang dramatis. Dalam sekejap, lanskap yang selama bertahun-tahun tampak tenang dapat berubah menjadi hamparan abu. Pepohonan tumbang, permukiman rusak, dan kehidupan manusia terancam. Bagi mereka yang berada di jalur bencana, letusan adalah kehilangan yang nyata, bukan sekadar tontonan alam.
Namun, kisah gunung api tidak selalu berhenti pada kehancuran. Material vulkanik yang dimuntahkannya dapat, melalui proses alam yang panjang, berkontribusi pada pembentukan tanah yang subur. Bentang alam berubah, ekosistem menyesuaikan diri, dan kehidupan perlahan menemukan ruang untuk tumbuh kembali.
Di sinilah *ordo ab chao* menemukan maknanya. Kekacauan bukanlah keteraturan, dan kehancuran tidak otomatis menghasilkan kebaikan. Akan tetapi, dalam dinamika alam, sesuatu yang tampak sebagai akhir dapat menjadi bagian dari proses perubahan yang lebih panjang. Apa yang runtuh hari ini mungkin menyediakan bahan bagi sesuatu yang tumbuh esok hari.
Barangkali manusia terlalu cepat menilai sebuah peristiwa hanya dari apa yang hilang di hadapan matanya. Kita menyebutnya musibah ketika berhadapan dengan kehancuran, tetapi dapat menyebutnya pembaruan ketika melihat kehidupan yang tumbuh setelahnya. Padahal, kedua kenyataan itu bisa hadir dalam satu proses alam yang sama.
Tentu saja, filosofi ini tidak boleh dipakai untuk meremehkan penderitaan korban atau menganggap setiap bencana pasti membawa berkah. Tidak semua kehilangan dapat diganti, dan tidak semua kehancuran berakhir dengan pemulihan yang adil. Justru karena itu, manusia perlu belajar membaca alam sekaligus melindungi kehidupan.
Gunung api mengajarkan bahwa dunia tidak selalu bergerak melalui jalan yang tenang. Ada perubahan yang datang melalui guncangan, ada pembentukan yang didahului perombakan, dan ada keteraturan yang baru terlihat setelah kita melewati masa yang kacau.
*Ordo ab chao*: bukan pembenaran atas kehancuran, melainkan pengingat bahwa perubahan sering kali melampaui apa yang sanggup kita pahami pada saat peristiwa itu terjadi.




