Ada satu fenomena yang makin hari makin mengkhawatirkan—bukan, ini bukan tentang naiknya harga beras atau menipisnya saldo rekening selepas lebaran, tapi tentang mengagung-agungkan Qur’an secara berlebihan. Ya, Qur’an-nya diagungkan, disanjung, diarak, dipakaikan kain sutra, bahkan kadang dipeluk erat-erat saat demo politik, seolah-olah itu tameng anti gas air mata.
Tentu saja kita cinta Qur’an. Siapa yang tidak? Tapi ada beda tipis antara cinta dan overacting. Beda tipis antara menempatkan Qur’an di hati, dengan menaruhnya di dashboard mobil supaya tidak kena tilang.
Saya pernah lihat orang menyuruh anak-anak bersuara lirih saat lewat depan rak Qur’an, tapi di ruang sebelah dia sedang maki-maki sopir online yang datang telat lima menit. Aneh, Qur’an tak boleh diganggu, tapi manusia boleh dimaki. Ini Qur’an atau jimat?
Jangan salah, mengagungkan Qur’an itu mulia, tapi kalau itu hanya sebatas lip service, itu bukan iman, itu marketing. Qur’an bukan untuk dipoles, diframe, atau dijadikan backsound tadarusan tiap Ramadhan sambil jualan sirup. Qur’an itu buat dibaca, direnungkan, dan—nah ini yang repot—diamalkan.
Tapi kenapa orang malah sibuk mengagung-agungkan secara simbolik? Mungkin karena mereka tak percaya diri. Ya, saudara-saudara, ini seperti orang yang minder lalu beli parfum mahal supaya orang nggak sadar dia belum mandi. Qur’an dijunjung tinggi, tapi waktu ditanya makna “inna akramakum ‘indallahi atqakum”, dia jawab, “Itu kayaknya tentang sembako.”
Ada pula yang kalau debat agama langsung bilang, “Kata Qur’an begitu!” tapi pas ditanya ayat berapa, jawabnya, “Waduh, pokoknya ada deh, cari aja sendiri.” Qur’an dijadikan peluru argumen, tapi tak pernah dibuka tafsirnya. Ini bukan cinta Qur’an, ini cinta menang debat.
Saya bukan ustaz. Saya ini cuma penulis kere yang pernah disangka intel karena suka nulis pakai pseudonim. Tapi saya tahu satu hal: Qur’an bukan hiasan dinding. Ia adalah buku panduan hidup—bukan sekadar alat dekorasi spiritual.
Kalau kita sungguh percaya pada kekuatan Qur’an, ya hayuk, kita pahami, kita telaah, kita pakai dalam kehidupan. Jangan cuma pakai untuk sumpah jabatan atau ngusir setan di pojokan rumah.
Mengagung-agungkan Qur’an, kalau tanpa memahami dan mempraktikkan, itu seperti jatuh cinta sama foto profil doang tapi nggak pernah ngajak kenalan. Kayak naksir artis Korea, tapi pas diajak ngobrol beneran malah pingsan.
Maka, mari kita akui: barangkali kita terlalu sering menjadikan Qur’an sebagai simbol pelengkap penderitaan. Sementara yang kita perlukan sebenarnya bukan sekadar rasa hormat, tapi rasa ingin tahu—dan mau—untuk menghidupkannya dalam laku.
Dan terakhir: bagi yang suka meletakkan Qur’an di atas lemari paling tinggi biar nggak dijangkau anak-anak, ingatlah, kadang Tuhan lebih mudah dijumpai oleh yang kecil, yang polos, daripada yang kebanyakan gaya.




