Dialog antara Allah dengan Iblis (Syaitan) yang menolak untuk sujud kepada Adam karena kesombongannya diabadikan dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menjelaskan hal ini terdapat dalam Surat Al-A’raf, ayat 12:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Artinya: “(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab Iblis, ‘Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.'”
Ayat ini menggambarkan kesombongan Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih baik, karena diciptakan dari api, sementara manusia diciptakan dari tanah. Kesombongan inilah yang menjadikan Iblis dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Dalam kisah suci itu, ada dialog yang diabadikan. Antara Tuhan dan Iblis. Ketika manusia diciptakan, Iblis menolak. Ia merasa lebih mulia. Terbuat dari api, sementara manusia dari tanah.
Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah pelajaran. Iblis mengajarkan kita tentang kesombongan. Tentang betapa berbahayanya merasa keturunan lebih baik. Merasa lebih tinggi hanya karena asal-muasal.
Namun, Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Bahwa yang menentukan derajat bukan asal-usul. Bukan dari mana kita berasal. Melainkan dari amal, dari perbuatan.
Setiap orang akan berdiri di hadapan Tuhan. Bukan dengan kebanggaan atas keturunan, tapi dengan timbangan amal. Kebaikan dan keburukan, itulah yang menentukan. Bukan darah atau nama keluarga.
Pikiran yang menilai manusia dari keturunan, itulah pikiran Iblis. Hati yang merendahkan orang lain karena asal-usulnya, itulah hati yang gelap. Sebaliknya, hati yang terang, adalah hati yang melihat manusia dari amalnya. Dari kebaikan yang dilakukan, dari kasih yang diberikan.
Setiap kita punya jalan. Jalan amal sholeh yang akan dibawa ke hadapan Tuhan. Di sana, tak ada yang ditanya tentang nenek moyang. Tak ada yang dipuji karena garis keturunan. Hanya amal yang berbicara. Hanya perbuatan baik yang menjadi saksi.
Mari hindari kesombongan keturunan. Karena itu adalah jalan setan. Jalan yang membawa pada kehancuran. Jalan yang memisahkan kita dari rahmat Tuhan. Mari fokus pada amal, karena itulah yang akan menyelamatkan.






