Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Education

Pikiran Iblis: Menganggap Keturunan Lebih Baik

Hati-hati yg membanggakan merasa keturunan Nabi

munira by munira
August 9, 2024
in Education, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Dialog antara Allah dengan Iblis (Syaitan) yang menolak untuk sujud kepada Adam karena kesombongannya diabadikan dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang menjelaskan hal ini terdapat dalam Surat Al-A’raf, ayat 12:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Artinya: “(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab Iblis, ‘Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.'”

Ayat ini menggambarkan kesombongan Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena merasa dirinya lebih baik, karena diciptakan dari api, sementara manusia diciptakan dari tanah. Kesombongan inilah yang menjadikan Iblis dilaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

Dalam kisah suci itu,  ada dialog yang diabadikan. Antara Tuhan dan Iblis. Ketika manusia diciptakan, Iblis menolak. Ia merasa lebih mulia. Terbuat dari api, sementara manusia dari tanah.

Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah pelajaran. Iblis mengajarkan kita tentang kesombongan. Tentang betapa berbahayanya merasa keturunan lebih baik. Merasa lebih tinggi hanya karena asal-muasal.

Namun, Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Bahwa yang menentukan derajat bukan asal-usul. Bukan dari mana kita berasal. Melainkan dari amal, dari perbuatan.

Setiap orang akan berdiri di hadapan Tuhan. Bukan dengan kebanggaan atas keturunan, tapi dengan timbangan amal. Kebaikan dan keburukan, itulah yang menentukan. Bukan darah atau nama keluarga.

Pikiran yang menilai manusia dari keturunan, itulah pikiran Iblis. Hati yang merendahkan orang lain karena asal-usulnya, itulah hati yang gelap. Sebaliknya, hati yang terang, adalah hati yang melihat manusia dari amalnya. Dari kebaikan yang dilakukan, dari kasih yang diberikan.

Setiap kita punya jalan. Jalan amal sholeh yang akan dibawa ke hadapan Tuhan. Di sana, tak ada yang ditanya tentang nenek moyang. Tak ada yang dipuji karena garis keturunan. Hanya amal yang berbicara. Hanya perbuatan baik yang menjadi saksi.

Mari hindari kesombongan keturunan. Karena itu adalah jalan setan. Jalan yang membawa pada kehancuran. Jalan yang memisahkan kita dari rahmat Tuhan. Mari fokus pada amal, karena itulah yang akan menyelamatkan.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Meraih Puncak dengan Ketekunan: Falsafah Panjat Tebing dalam Kehidupan

Next Post

Raihlah yang Terbaik, Walau Tak Sampai, Kau Tetap Lebih Baik

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya

by munira
April 19, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Ada satu fase dalam hidup yang sering kita hindari untuk dibicarakan, tetapi diam-diam selalu kita dekati: menjadi...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Next Post
Raihlah yang Terbaik, Walau Tak Sampai, Kau Tetap Lebih Baik

Raihlah yang Terbaik, Walau Tak Sampai, Kau Tetap Lebih Baik

AI dan Feng Shui: Menyelaraskan Masa Depan dan Tradisi

AI dan Feng Shui: Menyelaraskan Masa Depan dan Tradisi

Please login to join discussion

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira