Di negeri ini, malam tak sekadar pekat.
Ia bersetubuh dengan kebisuan,
membungkus jeritan mereka yang dipaksa tunduk,
mereka yang suaranya dirampas,
mereka yang langkahnya dihadang tembok kekuasaan.
Gelap bukan hanya soal matahari yang tenggelam,
tapi juga hati yang kehilangan cahaya.
Nurani yang dulu terang kini meredup,
ditukar dengan kepentingan,
dibarter dengan jabatan,
dijual dalam lelang kekuasaan yang sunyi dari keadilan.
Di negeri ini, kebenaran tak butuh bukti,
hanya perlu restu dari mereka yang duduk di singgasana.
Hukum berdiri di persimpangan,
tak tahu harus menegakkan keadilan atau menyenangkan penguasa.
Rakyat hanya bayang-bayang di aspal panas,
memikul beban yang tak pernah mereka pilih,
dipaksa percaya pada janji yang terus memudar.
Malam semakin pekat,
dan hati nurani semakin tenggelam dalam kelam.
Namun, di balik reruntuhan harapan,
masih ada yang menggenggam cahaya,
meski kecil, meski gemetar,
sebab keadilan selalu menemukan jalannya pulang.






