Wajah Ganda Dunia: Sebuah Renungan
Dunia ini bukan panggung yang jujur,
Setiap wajah yang kau temui punya dua sisi,
Senyum yang kau lihat tak selalu tulus,
Di balik kata manis, ada duri yang tersembunyi.
Orang-orang tak menghormatimu karena jiwamu,
Mereka bersujud pada emas yang kau genggam,
Jika hartamu habis, sapaan pun lenyap,
Karena di mata dunia, nilai manusia ditimbang dengan uang.
Cinta yang kau beri dengan segenap hati,
Justru melukaimu paling dalam,
Sebab semakin kau mendekap,
Semakin kau rapuh di tangannya.
Saat bahagia, musik menjadi tarian,
Tapi dalam duka, setiap lirik menusuk sanubari,
Nada-nada yang dulu menghibur,
Kini mengajarkan arti ketabahan.
Kegagalan pertama datang dengan tamparan di muka,
Di hadapan dunia, kau jatuh terhina,
Tapi kesuksesan datang diam-diam,
Merangkulmu dalam sunyi tanpa tepuk tangan.
Si miskin berjalan sendirian di jalan panjang,
Tak ada tangan yang terulur,
Jika ada teman yang tetap tinggal,
Maka ia bukan topeng, melainkan cermin yang setia.
Kepercayaan adalah mata uang hati,
Sekali hancur, maaf pun tak bisa menyatukan kepingnya,
Karena luka yang tertinggal,
Tak selalu bisa sembuh dengan kata-kata.
Dunia ini panggung sandiwara,
Tapi bukan berarti kita harus turut berperan,
Lebih baik menjadi kecil dalam kejujuran,
Daripada besar dalam kebohongan.




