Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Lapar yang Terlupa, Ibu yang Terluka

munira by munira
April 3, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

 

Esai ini mencoba menghubungkan kelimpahan makanan dengan kelaparan yang lebih dalam—kelaparan akan makna, keseimbangan, dan rasa syukur.

 

Di setiap sudut dunia, ada restoran. Ada tempat makan cepat saji. Makanan tersedia di mana-mana, berlimpah, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Namun, apakah kita benar-benar mengenal rasa lapar?

Kita tak pernah mencicipi hari tanpa sebutir nasi. Kita tak pernah mengenal malam yang berbisik perih ke perut kosong. Sebab kita hidup dalam kenyamanan yang menipu: berlimpah, tetapi tak pernah cukup; kenyang, tetapi tak pernah puas. Jika kita tak makan dua hari, hidup akan perlahan meninggalkan genggaman kita. Tapi lihatlah sekeliling—berapa banyak yang telah kehilangan nyawa mereka bukan karena lapar, tetapi karena kelaparan kita akan lebih dan lebih lagi?

Kita jarang berpikir, siapa yang telah menanam, siapa yang telah memanen, siapa yang telah mengorbankan tubuh dan waktu mereka demi sesuap nasi yang kita suapkan tanpa berpikir dua kali?

Seperti seorang ibu, bumi ini terus memberi. Dia tak pernah bertanya, tak pernah meminta balasan, hanya mengasuh dan menghidupi. Apa bagian terpenting dari seorang ibu? Bukan hanya pelukannya, bukan hanya ciumannya, tetapi kemampuannya untuk terus memberi—bahkan ketika dirinya sendiri terluka, bahkan ketika tak ada yang mengucap terima kasih.

Maka apakah kita hanya akan menjadi anak-anak yang tak tahu diri? Mengambil tanpa memberi, menerima tanpa bersyukur? Atau, seperti Anna Dunham berkata, apakah kita akan menjalankan hak istimewa kita—bukan hanya sebagai penerima kehidupan, tetapi sebagai ibu bagi dunia?

Ibu bukan hanya mereka yang melahirkan, tetapi mereka yang merawat. Mereka yang menjaga. Mereka yang memberi ketika yang lain hanya meminta.

Jadilah ibu bagi dunia, seperti bumi menjadi ibu bagi kita. Karena ketika kita lupa untuk memberi, maka kelaparan sejati akan tiba: bukan di perut kita, tetapi di jiwa kita.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Spiritualitas dalam Diri: Menjadi Cahaya yang Mengilhami

Next Post

Wajah Ganda Dunia: Sebuah Renungan

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post

Wajah Ganda Dunia: Sebuah Renungan

Hijab sebagai Cermin Peradaban: Menafsir Kewajiban dengan Kearifan Konteks

Hijab sebagai Cermin Peradaban: Menafsir Kewajiban dengan Kearifan Konteks

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira