Esai ini mencoba menghubungkan kelimpahan makanan dengan kelaparan yang lebih dalam—kelaparan akan makna, keseimbangan, dan rasa syukur.
Di setiap sudut dunia, ada restoran. Ada tempat makan cepat saji. Makanan tersedia di mana-mana, berlimpah, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Namun, apakah kita benar-benar mengenal rasa lapar?
Kita tak pernah mencicipi hari tanpa sebutir nasi. Kita tak pernah mengenal malam yang berbisik perih ke perut kosong. Sebab kita hidup dalam kenyamanan yang menipu: berlimpah, tetapi tak pernah cukup; kenyang, tetapi tak pernah puas. Jika kita tak makan dua hari, hidup akan perlahan meninggalkan genggaman kita. Tapi lihatlah sekeliling—berapa banyak yang telah kehilangan nyawa mereka bukan karena lapar, tetapi karena kelaparan kita akan lebih dan lebih lagi?
Kita jarang berpikir, siapa yang telah menanam, siapa yang telah memanen, siapa yang telah mengorbankan tubuh dan waktu mereka demi sesuap nasi yang kita suapkan tanpa berpikir dua kali?
Seperti seorang ibu, bumi ini terus memberi. Dia tak pernah bertanya, tak pernah meminta balasan, hanya mengasuh dan menghidupi. Apa bagian terpenting dari seorang ibu? Bukan hanya pelukannya, bukan hanya ciumannya, tetapi kemampuannya untuk terus memberi—bahkan ketika dirinya sendiri terluka, bahkan ketika tak ada yang mengucap terima kasih.
Maka apakah kita hanya akan menjadi anak-anak yang tak tahu diri? Mengambil tanpa memberi, menerima tanpa bersyukur? Atau, seperti Anna Dunham berkata, apakah kita akan menjalankan hak istimewa kita—bukan hanya sebagai penerima kehidupan, tetapi sebagai ibu bagi dunia?
Ibu bukan hanya mereka yang melahirkan, tetapi mereka yang merawat. Mereka yang menjaga. Mereka yang memberi ketika yang lain hanya meminta.
Jadilah ibu bagi dunia, seperti bumi menjadi ibu bagi kita. Karena ketika kita lupa untuk memberi, maka kelaparan sejati akan tiba: bukan di perut kita, tetapi di jiwa kita.




