Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Tidak Ada yang Merugi

munira by munira
June 22, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan telanjang, tanpa harta, tanpa nama, bahkan tanpa pilihan. Ia tidak membawa modal, tidak membawa rencana, dan tidak pula disodori jaminan apa pun dari semesta. Maka secara logika yang paling dasar, tidak ada yang bisa dikatakan hilang. Tidak ada yang sejatinya bisa disebut “kerugian”.

Sejak awal, keberadaan manusia adalah keberuntungan itu sendiri. Bahwa dari ketidaktahuan dan ketiadaan, ia diberi kesempatan untuk merasakan dunia—melihat cahaya, mendengar suara, meraba kehidupan, mencintai, berpikir, menangis, jatuh, bangun, lalu mencipta dan meninggalkan jejak. Semua itu adalah bentuk tertinggi dari karunia. Hidup itu sendiri adalah kemewahan yang tidak pernah dijanjikan kepada siapa pun, namun tetap diberikan dengan cuma-cuma.

Namun manusia modern, sering kali terperangkap dalam kalkulasi untung dan rugi. Segalanya ditimbang, diukur, dikejar. Mereka berkata: “Aku gagal”, “Aku merugi”, “Aku kehilangan”. Padahal, bagaimana mungkin rugi jika sejak awal tak membawa apa-apa?

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, pernah berkata, “Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.” Hidup bukan soal mengatur angka dalam neraca laba-rugi, melainkan bagaimana meresapi kenyataan, bagaimana menjalaninya dengan penuh kesadaran. Setiap detik yang berlalu adalah anugerah, bukan angka yang hilang dalam grafik keuntungan.

Kerugian yang sesungguhnya bukanlah kehilangan materi, jabatan, atau cinta. Kerugian yang paling hakiki adalah ketika seseorang tidak mampu menikmati hidup yang diberikan padanya. Ketika ia bangun setiap hari tanpa rasa syukur, ketika ia melihat dunia tanpa kekaguman, dan ketika ia menganggap hidup sebagai beban, bukan sebagai hadiah.

Albert Camus, filsuf eksistensialis asal Prancis, mengingatkan kita bahwa, “Real generosity toward the future lies in giving all to the present.” Maka barangsiapa hidup dengan sepenuh-penuhnya, mencintai apa yang ia miliki saat ini, dan tidak meratap atas apa yang belum terjadi — dialah yang sedang menikmati keuntungan sejati dari hidup.

Hidup tak pernah menjanjikan akan mudah, tapi ia selalu menyimpan keindahan bagi mereka yang mau melihat. Maka berbahagialah mereka yang menyadari bahwa mereka tak memiliki apa-apa, karena hanya dari sanalah mereka bisa benar-benar menikmati segalanya.

Karena sekali lagi — manusia tidak lahir dengan modal, maka tidak ada alasan untuk merasa rugi. Yang rugi, hanya mereka yang tidak sempat atau tidak mau bersyukur atas hidup itu sendiri.


 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mencintai Tanpa Memiliki, Melepas Tanpa Membenci

Next Post

Puncak Segala Puncak: Sebuah Pendakian Spirituil ala Mang Philip

munira

munira

Related Posts

SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH

by munira
June 24, 2026
0

Ada satu wajah yang paling tidak saya sukai dalam hidup ini. Bukan wajah musuh. Bukan wajah orang yang pernah menyakiti...

Jika Tak Mampu Menjadi Cahaya, Jangan Menjadi Luka

by munira
June 15, 2026
0

Ketika tangan belum mampu memberi manfaat, setidaknya jangan menjadi tangan yang melukai. Ketika lisan belum mampu menyejukkan, jangan sampai berubah...

Keghaiban yang Diciptakannya Sendiri

by munira
June 14, 2026
0

Ada kalanya manusia tidak jatuh cinta pada kenyataan, melainkan pada ruang-ruang samar yang dibangunnya sendiri. Bukan pada apa yang benar-benar...

Islam: Kisah Ashabul Kahfi – Cahaya Keimanan dalam Gelapnya Zaman

by munira
June 14, 2026
0

Di sebuah negeri yang digelapkan oleh kezaliman, di mana keimanan dipenjara dan kebebasan beribadah dicabut dari sanubari rakyatnya, terdapat sekelompok...

Next Post

Puncak Segala Puncak: Sebuah Pendakian Spirituil ala Mang Philip

Tell 1000 Words

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • SEJELEK-JELEK MUKA SAYA: KETIKA SEDANG MARAH
  • Jika Tak Mampu Menjadi Cahaya, Jangan Menjadi Luka
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira