Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Keghaiban yang Diciptakannya Sendiri

munira by munira
June 14, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada kalanya manusia tidak jatuh cinta pada kenyataan, melainkan pada ruang-ruang samar yang dibangunnya sendiri.

Bukan pada apa yang benar-benar ada, melainkan pada apa yang ingin ia percayai ada.

Di situlah lahir sebuah “keghaiban”—bukan keghaiban langit yang turun sebagai mukjizat, bukan pula rahasia alam yang tak tersentuh akal, melainkan keghaiban yang diciptakan oleh hati manusia sendiri. Sebuah ilusi yang dirajut dari harapan, kerinduan, dan kebutuhan untuk merasa dekat dengan sesuatu yang belum tentu nyata.

Anehnya, ilusi semacam itu sering kali memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada fakta.

Seorang ibu berbicara di foto anaknya yang merantau. Seorang kekasih menyimpan pesan singkat yang dibacanya berulang kali setiap malam. Seorang sahabat mengenang tawa yang telah lama berlalu seolah suara itu masih bergema di ruang tamunya. Mereka semua sedang berinteraksi dengan sesuatu yang sesungguhnya tidak hadir secara fisik, namun terasa begitu nyata dalam batin.

Keghaiban itu menjadi jembatan.

Ia menghubungkan jarak yang tak mampu ditempuh kaki.

Ia menghapus sekat yang tak mampu ditembus waktu.

Ia menjadikan yang jauh terasa dekat, yang asing terasa akrab, dan yang biasa terasa istimewa.

Dalam kehidupan, manusia sering membutuhkan sedikit kabut agar dunia tidak terlihat terlalu telanjang. Sebab segala sesuatu yang sepenuhnya terang kadang justru kehilangan pesonanya. Ada keindahan yang lahir dari ketidaklengkapan. Ada kemesraan yang tumbuh dari ruang kosong yang dibiarkan diisi oleh imajinasi.

Mungkin karena itulah hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun oleh perjumpaan, tetapi juga oleh penafsiran.

Kita tidak mencintai seseorang semata-mata karena siapa dirinya, tetapi juga karena siapa dirinya dalam imajinasi kita. Kita tidak selalu merindukan kehadirannya, melainkan makna yang kita berikan pada kehadirannya.

Di sanalah keghaiban bekerja.

Ia membuat percakapan sederhana terasa hangat.

Ia membuat tatapan biasa terasa mendalam.

Ia membuat pertemuan singkat, meninggalkan jejak panjang.

Semua karena manusia diam-diam menambahkan warna pada kanvas kenyataan.

Namun keghaiban yang indah bukanlah kebohongan. Ia hanyalah cara hati memperluas makna. Seperti cahaya senja yang membuat pepohonan tampak lebih anggun daripada siang hari, padahal pohonnya tetap sama. Yang berubah hanyalah sudut pandang dan permainan cahaya.

Demikian pula keakraban dan kemesraan sering tumbuh dari kemampuan manusia menciptakan ruang-ruang makna yang tak kasatmata. Sebuah dunia kecil yang hanya dipahami oleh dua hati yang saling menyapa.

Barangkali itulah sebabnya manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya dengan kenyataan. Ia selalu menyisakan sedikit ruang bagi keghaiban yang diciptakannya sendiri.

Karena dalam ruang itulah kehangatan menemukan rumahnya.

Dalam ruang itulah kerinduan memperoleh bahasanya.

Dan dalam ruang itulah keakraban serta kemesraan tumbuh perlahan, seperti bunga yang mekar bukan karena dilihat mata, melainkan karena dirawat oleh rasa.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Islam: Kisah Ashabul Kahfi – Cahaya Keimanan dalam Gelapnya Zaman

munira

munira

Related Posts

Islam: Kisah Ashabul Kahfi – Cahaya Keimanan dalam Gelapnya Zaman

by munira
June 14, 2026
0

Di sebuah negeri yang digelapkan oleh kezaliman, di mana keimanan dipenjara dan kebebasan beribadah dicabut dari sanubari rakyatnya, terdapat sekelompok...

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Keghaiban yang Diciptakannya Sendiri
  • Islam: Kisah Ashabul Kahfi – Cahaya Keimanan dalam Gelapnya Zaman
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira