Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Yang Bodoh dalam Cinta

munira by munira
July 27, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sebuah kalimat yang sering beredar dan dikaitkan dengan Fyodor Dostoevsky: dua orang yang sama-sama pintar tidak akan pernah benar-benar jatuh cinta; sebuah hubungan membutuhkan satu orang yang bodoh.

Entah benar pernah diucapkan olehnya atau tidak, kalimat itu menyimpan sebuah renungan yang menarik. Bukan tentang kecerdasan, melainkan tentang kemanusiaan.

Sebab cinta, sejak awal, memang tidak pernah dibangun hanya oleh logika.

Logika selalu bertanya, “Apa untungnya bagiku?” Sementara cinta bertanya, “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Logika menghitung. Cinta memberi.

Logika menimbang. Cinta melompat.

Barangkali itulah sebabnya, ketika dua orang sama-sama ingin menjadi yang paling benar, hubungan perlahan berubah menjadi ruang sidang. Setiap percakapan menjadi perdebatan. Setiap kesalahan menjadi bukti. Setiap perbedaan berubah menjadi perkara yang harus dimenangkan.

Tak ada lagi pelukan. Yang ada hanya argumentasi.

Tak ada lagi kehangatan. Yang tersisa hanyalah kemenangan-kemenangan kecil yang justru mengikis kebersamaan.

Di situlah muncul pertanyaan yang sederhana namun menggelitik.

Siapa yang bodoh?

Apakah orang yang kalah dalam perdebatan?

Apakah orang yang meminta maaf lebih dahulu?

Apakah orang yang terus bertahan meski sering terluka?

Mungkin bukan.

Yang disebut “bodoh” dalam cinta bukanlah mereka yang kurang cerdas. Justru sering kali mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti kehidupan. Mereka tahu bahwa tidak semua pertarungan layak dimenangkan.

Ada saatnya kemenangan terbesar adalah ketika kita rela kalah.

Rela menurunkan ego.

Rela mendengar lebih lama daripada berbicara.

Rela memaafkan sebelum diminta.

Rela melupakan kesalahan kecil demi menjaga sesuatu yang jauh lebih besar.

Dari luar, sikap seperti itu mungkin tampak bodoh.

Mengapa harus mengalah?

Mengapa harus memaafkan?

Mengapa tetap bertahan?

Namun sejarah hubungan manusia menunjukkan sesuatu yang menarik: hampir semua cinta yang bertahan tidak dibangun oleh dua orang yang selalu benar, melainkan oleh dua orang yang sesekali bersedia menjadi “bodoh” bagi satu sama lain.

Mereka tidak sibuk menghitung siapa yang paling banyak berkorban.

Tidak mencatat siapa yang paling sering meminta maaf.

Tidak mengarsipkan setiap luka sebagai utang yang suatu hari harus dibayar.

Mereka memahami bahwa cinta bukanlah kontrak bisnis yang harus selalu seimbang.

Cinta adalah kesediaan untuk memberi, bahkan ketika kalkulator logika mengatakan sebaliknya.

Mungkin karena itu, orang-orang yang paling bahagia dalam hubungan bukanlah mereka yang paling cerdas secara intelektual, tetapi mereka yang cukup bijaksana untuk tidak selalu mempertontonkan kecerdasannya.

Mereka tahu kapan harus berbicara.

Mereka juga tahu kapan diam adalah bentuk kasih sayang.

Mereka tahu kapan harus menjelaskan.

Dan mereka tahu kapan sebuah pelukan jauh lebih bermakna daripada seribu kalimat yang sempurna.

Pada akhirnya, cinta tidak pernah meminta kita menjadi bodoh dalam arti kehilangan akal.

Cinta hanya meminta kita cukup rendah hati untuk mengakui bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan.

Karena ada kemenangan yang justru lahir ketika kita berhenti ingin menang.

Barangkali, orang yang tampak “bodoh” dalam cinta sesungguhnya adalah orang yang paling mengerti hakikat cinta itu sendiri.

Ia memilih hubungan daripada gengsi.

Ia memilih damai daripada pembuktian.

Ia memilih “kita” daripada “aku”.

Dan mungkin, di situlah kecerdasan mencapai bentuknya yang paling tinggi: ketika seseorang tahu bahwa hati manusia tidak pernah bisa ditaklukkan oleh logika, melainkan oleh ketulusan.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan

munira

munira

Related Posts

Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan

by munira
July 25, 2026
0

Ada warisan yang tak pernah tercatat dalam akta kelahiran. Ia tidak disimpan di lemari besi, tidak pula diwariskan melalui harta...

Celup Celana Corduroy

by munira
July 24, 2026
0

Oleh: Ali Syarief Celana corduroy adalah celana favorit saya. Bahannya lembut, hangat, dan semakin lama dipakai justru semakin nyaman. Celana...

Pohon yang Tak Pernah Menyerah

by munira
July 21, 2026
0

Ada masa ketika hidup terasa seperti musim gugur. Satu demi satu yang kita cintai terlepas dari genggaman. Kesempatan menghilang, harapan...

Dunia Bukan Ruang Tunggu, Melainkan Tempat Membangun Peradaban

by munira
July 19, 2026
0

Oleh: Nazaruddin Ada cara pandang yang diam-diam membuat manusia kehilangan makna hidup. Dunia dipersepsikan sekadar ruang transit, terminal keberangkatan, atau...

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Yang Bodoh dalam Cinta
  • Rumah yang Tidak Mengenal Bentakan
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira