Oleh: Nazaruddin
Ada cara pandang yang diam-diam membuat manusia kehilangan makna hidup. Dunia dipersepsikan sekadar ruang transit, terminal keberangkatan, atau ruang tunggu sebelum kereta terakhir bernama kematian datang menjemput. Akibatnya, hidup dijalani seperlunya; karya dianggap tidak penting; ilmu hanya menjadi pelengkap; dan peradaban dibiarkan dibangun oleh orang lain.
Padahal, dunia bukan ruang tunggu.
Dunia bukan tempat “ngabuburit” sebelum pulang ke akhirat. Dunia adalah ladang tempat manusia menanam, berkarya, berpikir, mencipta, memimpin, dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.
Allah tidak menciptakan manusia untuk menjadi penonton sejarah.
Al-Qur’an memberikan pertanyaan yang mengguncang kesadaran:
“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main (sia-sia), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al-Mu’minun: 115)
Ayat ini bukan sekadar penolakan terhadap kehidupan yang sia-sia. Ia adalah deklarasi bahwa penciptaan manusia memiliki tujuan yang agung. Tidak ada satu tarikan napas pun yang diciptakan tanpa makna.
Sering kali orang mengutip ayat bahwa “kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.” Namun, mereka berhenti pada bunyi kalimatnya, tanpa menyelami konteksnya.
Al-Qur’an tidak sedang mengatakan bahwa Allah mendesain dunia sebagai permainan.
Justru Al-Qur’an sedang menyindir manusia yang memperlakukan dunia seperti panggung hiburan, tempat mengejar kesenangan sesaat, melupakan amanah, dan mengabaikan tanggung jawab. Dunia menjadi permainan bukan karena Allah menghendakinya demikian, melainkan karena manusialah yang merendahkan nilai kehidupannya sendiri.
Perbedaan itu sangat mendasar.
Pisau dapat dipakai untuk membedah pasien atau melukai sesama. Kesalahannya bukan pada pisau, tetapi pada tangan yang menggunakannya. Demikian pula dunia. Allah menciptakannya sebagai amanah; manusialah yang sering mengubahnya menjadi arena kesia-siaan.
Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan pelarian dari dunia. Islam justru memerintahkan manusia menjadi khalifah fil ardh—pemakmur bumi. Seorang khalifah tidak hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi juga membangun ilmu, menegakkan keadilan, mengembangkan ekonomi, melahirkan teknologi, menjaga lingkungan, serta mewariskan peradaban yang lebih baik.
Sejarah membuktikan bahwa para nabi tidak hidup dalam pengasingan dari dunia. Mereka hadir di tengah masyarakat, membangun tatanan sosial, memperbaiki moral, memperjuangkan keadilan, bahkan mengubah arah sejarah umat manusia.
Mereka tidak sekadar menunggu akhirat.
Mereka membangun dunia agar layak dipersembahkan kepada Allah.
Sejarawan Arnold J. Toynbee pernah mengingatkan, “Civilizations die from suicide, not by murder.” Peradaban lebih sering runtuh karena kehilangan jiwa dan tanggung jawab dari dalam dirinya sendiri, bukan semata-mata karena serangan dari luar.
Sementara Ibn Khaldun menulis bahwa kemajuan atau kemunduran suatu bangsa ditentukan oleh kualitas moral, solidaritas, dan kerja kolektif manusianya. Peradaban tidak lahir dari kemalasan, tetapi dari kesadaran bahwa setiap generasi memikul amanah bagi generasi sesudahnya.
Karena itu, seorang mukmin tidak hidup dengan mentalitas penumpang.
Ia hidup sebagai pembangun.
Ia tidak menghitung berapa lama lagi dunia akan berakhir, melainkan bertanya: Apa yang telah kubangun sebelum aku dipanggil pulang?
Bukankah Rasulullah ﷺ juga memberikan perspektif yang luar biasa? Jika hari kiamat telah tiba sementara di tanganmu ada sebutir benih yang masih bisa ditanam, maka tanamlah. Pesannya sederhana namun mendalam: bahkan di ujung waktu, manusia tetap diperintahkan untuk berkarya, bukan menyerah.
Akhirat memang tujuan akhir perjalanan manusia.
Namun dunia adalah tempat ujian sekaligus bengkel tempat jiwa ditempa. Di sinilah ilmu dilahirkan, keadilan ditegakkan, keluarga dibesarkan, masyarakat dibangun, dan peradaban diwariskan. Nilai akhirat tidak pernah memusuhi kerja dunia; justru kerja dunia yang benar adalah jalan menuju kemuliaan akhirat.
Maka jangan kecilkan dunia menjadi sekadar ruang tunggu.
Jangan jadikan hidup hanya hitungan hari menuju kematian.
Jadikan setiap hari sebagai batu bata yang menyusun bangunan peradaban. Sebab kelak, yang akan ditanyakan bukan berapa lama kita menunggu, melainkan apa yang kita bangun selama menunggu panggilan pulang.
“Orang besar tidak hanya mewariskan nama. Ia mewariskan peradaban. Dan peradaban selalu dibangun oleh mereka yang memahami bahwa hidup bukan untuk bermain-main, melainkan untuk mengemban amanah.”


