Muniranews – Ada satu kebiasaan yang diam-diam tumbuh dalam sebagian masyarakat kita: terlalu mudah menyerahkan segala urusan kepada Allah, bahkan untuk perkara-perkara yang sebenarnya menjadi tanggung jawab manusia sendiri.
Ketika ekonomi memburuk, kita berkata, “Semoga Allah memperbaikinya.”
Ketika pendidikan tertinggal, kita berdoa, “Mudah-mudahan Allah memberi jalan.”
Ketika negeri dipenuhi korupsi, kita menengadah ke langit sambil berkata, “Allah pasti menolong bangsa ini.”
Doa memang mulia. Tawakal adalah bagian dari iman. Tetapi ada batas tipis antara tawakal dan kemalasan yang dibungkus kesalehan.
Allah sendiri telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini bukan sekadar nasihat spiritual. Ia adalah hukum sosial yang berlaku sepanjang zaman.
Allah tidak menjanjikan perubahan tanpa usaha.
Allah tidak menjanjikan kemenangan tanpa perjuangan.
Allah tidak menjanjikan kemajuan tanpa kerja keras.
Jika sebuah bangsa ingin makmur, bangsa itu harus bekerja.
Jika sebuah masyarakat ingin adil, masyarakat itu harus melawan ketidakadilan.
Jika seseorang ingin hidupnya lebih baik, ia harus berani mengubah dirinya terlebih dahulu.
Sering kali kita berdoa meminta panen yang melimpah, tetapi lupa menanam benih.
Kita meminta kesehatan, tetapi terus merusak tubuh sendiri.
Kita memohon rezeki, tetapi enggan belajar dan bekerja lebih keras.
Lalu ketika hasilnya tidak sesuai harapan, kita bertanya: mengapa Allah belum mengabulkan?
Padahal masalahnya bukan pada langit.
Masalahnya ada di bumi.
Masalahnya ada pada diri kita sendiri.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan seorang Arab Badui yang meninggalkan untanya begitu saja sambil berkata bahwa ia bertawakal kepada Allah.
Nabi bersabda:
“Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis singkat ini menyimpan filosofi kehidupan yang sangat dalam.
Allah tidak menyuruh manusia memilih antara usaha dan tawakal.
Allah memerintahkan keduanya sekaligus.
Bekerja sekeras mungkin adalah ibadah.
Berjuang sekuat tenaga adalah ibadah.
Menggunakan akal yang telah dianugerahkan Allah juga merupakan bentuk syukur.
Tawakal bukanlah alasan untuk berpangku tangan.
Tawakal adalah menyerahkan hasil setelah seluruh ikhtiar dilakukan.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang membalik urutannya. Mereka bertawakal lebih dulu, sementara ikhtiarnya belakangan, bahkan kadang tidak pernah dilakukan.
Akibatnya, lahirlah generasi yang gemar berharap tetapi malas berbuat.
Gemar berdoa tetapi enggan bergerak.
Pandai menyalahkan takdir tetapi takut mengevaluasi diri.
Padahal sejarah Islam dipenuhi contoh manusia-manusia yang bekerja tanpa mengenal lelah.
Nabi Muhammad SAW berdakwah selama puluhan tahun.
Para sahabat berjalan ribuan kilometer menyebarkan ilmu.
Para ilmuwan Muslim menghabiskan hidup mereka untuk meneliti, menulis, dan menemukan berbagai pengetahuan.
Mereka tidak hanya berdoa agar dunia berubah.
Mereka turun tangan mengubahnya.
Allah telah memberikan kepada manusia akal, tenaga, kesempatan, dan kebebasan memilih.
Semua itu bukan untuk disimpan.
Semua itu adalah amanah yang harus digunakan.
Maka berhentilah menjadikan nama Allah sebagai alasan untuk menutupi kemalasan.
Berhentilah menyalahgunakan konsep tawakal untuk membenarkan ketidakmauan berjuang.
Berdoalah.
Tentu saja berdoalah.
Tetapi setelah itu bergeraklah.
Sebab Allah tidak menciptakan manusia untuk menjadi penonton kehidupan.
Allah menciptakan manusia sebagai pelaku sejarah.
Dan sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani mengubah diri mereka sendiri sebelum meminta Allah mengubah nasib mereka.


