Dengarkan aku baik-baik,
karena hidup ini bukan soal banyaknya barang yang kau punya,
bukan tentang pakaian mahal yang melekat di tubuhmu,
bukan pula tumpukan benda yang kau simpan dengan rasa bangga.
Itu semua—
hanyalah beban yang kau seret ke mana-mana.
Migrain berkedok kemewahan,
sakit kepala yang disamarkan oleh etalase toko.
Kekayaan sejati itu cuma satu,
dan itu tersembunyi di dalam dirimu sendiri.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah setiap momen dalam hidupmu terasa sangat indah,
hingga kau tak mampu menahan air mata syukur?
Ataukah hidupmu hanyalah drama murahan,
yang bahkan aktor utamanya pun ingin keluar dari naskahnya?
Jangan buru-buru menuding,
bukan salah keluarga,
bukan salah Tuhan,
dan jelas bukan salah anjing peliharaanmu.
Jika panggung hidupmu kacau,
jika alurnya membosankan,
dan dialognya penuh keluhan—
itu karena kau adalah sutradara yang buruk.
Kau sendiri yang menulis naskahnya,
kau sendiri yang memilih genre-nya.
Jadi jika drama ini menyebalkan,
tulislah ulang.
Buat adegan yang baru.
Hadirkan keindahan yang utuh,
bukan sekadar ilusi.
Karena satu-satunya kekayaan—
yang tak bisa dicuri waktu dan maut—
adalah kemampuanmu menjadikan hidup ini
sebuah pertunjukan yang jujur,
penuh makna,
dan tak terlupakan.
Jika kamu ingin versi yang lebih panjang atau lebih filosofis, aku bisa bantu lanjutkan atau kembangkan.



