Tulisan ini di kembangkan dari Karya Sahabatku, Senior Felix Str – kompasiana.com
Sekuntum bunga, berdiri anggun di ujung ranting, bukan sekadar hiasan bagi semesta. Ia adalah rahim yang membuka dirinya bagi kehidupan baru. Dalam kelopaknya, tersembunyi keajaiban: putik dan benang sari menari dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk berjumpa, bersatu, melahirkan. Siapa sangka bahwa di balik warna-warna yang menawan itu, tersembunyi hasrat tumbuhan untuk lestari?
Bunga bukanlah penampil semata, tapi juga pelakon utama dalam panggung reproduksi. Ia adalah alat kelamin yang diberkahi dengan keelokan. Dan seperti makhluk lain yang mencari pasangan, tumbuhan pun membutuhkan perantara: seekor kumbang mungil datang, tertarik pada aroma manis dan warna mencolok, menyusup masuk, membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain. Ia si mak comblang, penghubung dua jiwa tanaman yang tak mampu berpindah. Upahnya sederhana: setitik madu harum manis, cukup untuk membuat sayapnya terus berdebar.
Namun manusia, dengan segala kesombongannya, sering kali lupa membaca bahasa alam. Kita melihat bunga sebagai objek, bukan subjek. Kita terpikat oleh bentuk, oleh wangi, lalu merasa berhak memilikinya. Dipetiklah ia dari tangkainya, dipisahkan dari semestanya. Padahal, dalam sekejap setelah dipetik, kehidupan bunga itu telah berakhir. Ia tak lagi bisa berkembang-biak, tak lagi bisa menyampaikan pesan cinta kepada kumbang, tak lagi menjadi bagian dari rantai kehidupan yang dirancang Tuhan dengan sempurna.
Melihat bunga yang indah, cukuplah kita memandanginya dengan hormat. Jadikan ia renungan, bukan rebutan. Sebab ketika kau memetiknya, bukan hanya kau merusak keutuhan tubuhnya, tapi juga memutus harapan generasi yang akan lahir darinya. Kau telah menjadi durjana pemetik bunga: penjahat kelamin skizofrenik yang tak mengerti batas antara keinginan dan penghormatan. Kau perusak perkawinan sesama makhluk Tuhan, yang mestinya saling mendukung, bukan saling merenggut.
Cinta, seperti bunga, tak harus selalu dimiliki. Terkadang, cukup dilihat dari kejauhan, cukup disyukuri keberadaannya, tanpa harus menjadikannya milik pribadi. Biarlah bunga itu berkembang-biak, biarlah kumbang menari, biarlah alam bekerja dengan caranya yang rahasia dan suci. Kita, manusia, belajar saja dari mereka: mencintai tanpa merusak, mengagumi tanpa memiliki. Karena dalam keindahan yang tak terganggu, ada kebijaksanaan yang tak terkatakan.






