Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fashion

Jangan Petik Bunga Itu: Ia Adalah Kelamin

munira by munira
July 28, 2025
in Fashion, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini di kembangkan dari Karya Sahabatku, Senior Felix Str – kompasiana.com

Sekuntum bunga, berdiri anggun di ujung ranting, bukan sekadar hiasan bagi semesta. Ia adalah rahim yang membuka dirinya bagi kehidupan baru. Dalam kelopaknya, tersembunyi keajaiban: putik dan benang sari menari dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk berjumpa, bersatu, melahirkan. Siapa sangka bahwa di balik warna-warna yang menawan itu, tersembunyi hasrat tumbuhan untuk lestari?

Bunga bukanlah penampil semata, tapi juga pelakon utama dalam panggung reproduksi. Ia adalah alat kelamin yang diberkahi dengan keelokan. Dan seperti makhluk lain yang mencari pasangan, tumbuhan pun membutuhkan perantara: seekor kumbang mungil datang, tertarik pada aroma manis dan warna mencolok, menyusup masuk, membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain. Ia si mak comblang, penghubung dua jiwa tanaman yang tak mampu berpindah. Upahnya sederhana: setitik madu harum manis, cukup untuk membuat sayapnya terus berdebar.

Namun manusia, dengan segala kesombongannya, sering kali lupa membaca bahasa alam. Kita melihat bunga sebagai objek, bukan subjek. Kita terpikat oleh bentuk, oleh wangi, lalu merasa berhak memilikinya. Dipetiklah ia dari tangkainya, dipisahkan dari semestanya. Padahal, dalam sekejap setelah dipetik, kehidupan bunga itu telah berakhir. Ia tak lagi bisa berkembang-biak, tak lagi bisa menyampaikan pesan cinta kepada kumbang, tak lagi menjadi bagian dari rantai kehidupan yang dirancang Tuhan dengan sempurna.

Melihat bunga yang indah, cukuplah kita memandanginya dengan hormat. Jadikan ia renungan, bukan rebutan. Sebab ketika kau memetiknya, bukan hanya kau merusak keutuhan tubuhnya, tapi juga memutus harapan generasi yang akan lahir darinya. Kau telah menjadi durjana pemetik bunga: penjahat kelamin skizofrenik yang tak mengerti batas antara keinginan dan penghormatan. Kau perusak perkawinan sesama makhluk Tuhan, yang mestinya saling mendukung, bukan saling merenggut.

Cinta, seperti bunga, tak harus selalu dimiliki. Terkadang, cukup dilihat dari kejauhan, cukup disyukuri keberadaannya, tanpa harus menjadikannya milik pribadi. Biarlah bunga itu berkembang-biak, biarlah kumbang menari, biarlah alam bekerja dengan caranya yang rahasia dan suci. Kita, manusia, belajar saja dari mereka: mencintai tanpa merusak, mengagumi tanpa memiliki. Karena dalam keindahan yang tak terganggu, ada kebijaksanaan yang tak terkatakan.

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Anak Bukan Milikmu: Mengubah Paradigma Pengasuhan

Next Post

ろくじゅうきゅう Hidup yang Paling Nyaman

munira

munira

Related Posts

Cinta Tanpa Penilaian

by munira
April 28, 2026
0

Cinta, dalam bentuknya yang paling murni dan paling jujur, sering kali menuntut sesuatu yang terasa berlawanan dengan naluri kita: keberanian...

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
ろくじゅうきゅう Hidup yang Paling Nyaman

ろくじゅうきゅう Hidup yang Paling Nyaman

Hari Ini Adalah Hidup Itu Sendiri

Hari Ini Adalah Hidup Itu Sendiri

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Cinta Tanpa Penilaian
  • Perenungan Menjadi Tua dan Kebahagiaan Melihat Penerus-Penerusnya
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira