By Ali Syarief
Hidup adalah tarian di atas panggung waktu yang fana.
Setiap langkah mendekat pada akhir yang pasti,
namun setiap langkah juga menuntun pada cahaya yang bisa kita cipta.
Kita bertanya, diam atau bising:
Bagaimana hidup yang baik?
Ada yang mencarinya di gemerlap benda,
ada yang menapaki jalan doa,
ada yang menunggu surga menjanjikan.
Namun semua jalan itu menuntun pada satu tujuan:
menyalakan lilin kecil di dalam diri,
untuk mengalami indah yang sederhana, namun tak tergantikan.
Tubuh adalah tanah.
Jika subur dan sehat, benih kehidupan tumbuh leluasa.
Jika subur hingga menimbulkan kenikmatan, ia menjadi pleasure.
Hati adalah sungai.
Jika arusnya tenang, ia disebut cinta.
Jika meluap menenggelamkan lembah, ia menjadi kasih sayang.
Pikiran adalah angin.
Lembut membawa kesejukan, bergelora menyalakan ekstasi.
Lingkungan adalah taman.
Rapi dan terawat menenangkan pandangan,
dan kita menamainya kesuksesan.
Segala peradaban adalah upaya memperhalus taman di luar.
Rumah yang indah, kota yang rapi, sistem yang tertata—
semua itu demi menenangkan pandangan mata.
Namun taman di dalam sering terlupakan:
batin kita, jiwa kita, energi kita sendiri.
Pleasantness batin bukan urusan dunia, bukan proyek orang lain.
Ia adalah bisnis pribadi.
Ia adalah seni menumbuhkan bunga di tanah sendiri.
Kita fana.
Waktu berjalan, tanpa kompromi, tanpa belas kasihan.
Lima menit yang berlalu bukan sekadar kenangan,
tapi jarak yang menyusut antara kita dan tanah terakhir.
Waktu tak peduli kita tertawa atau menangis,
kaya atau miskin, bahagia atau sengsara.
Ia bergulir dengan kecepatan yang sama untuk semua.
Kesadaran akan kefanaan adalah mata air.
Mereka yang minum darinya menemukan keberanian.
Mereka berhenti membuang diri pada yang tak dicintai.
Mereka menanam bunga yang benar-benar ingin tumbuh.
Saat aku menanam bunga itu untuk diriku,
dan engkau menanam bunga itu untuk dirimu,
hidup kita berlapis-lapis indahnya.
Dunia menjadi taman yang tak lagi penuh debu persaingan.
Terlalu banyak manusia hidup seperti burung dalam sangkar orang lain.
Mengikuti karena “harus”, menentang karena “harus”,
berebut ruang dan kuasa, lupa menatap langit, lupa menari dengan angin.
Hidup yang baik tidak lahir dari reaksi, dari persaingan, dari mengikuti atau melawan.
Hidup yang baik lahir dari kesadaran penuh akan fana,
dari seni menyalakan lilin batin sendiri,
dari seni menjadi indah di dalam,
sehingga apa pun yang disentuh ikut bersinar.
Hidup yang baik bukan tentang menang atau kalah.
Bukan tentang kemewahan atau pujian.
Hidup yang baik adalah menjadi taman, menjadi sungai, menjadi angin, menjadi tanah—
indah di dalam, sehingga dunia ikut indah di luar.
Menjadi bunga yang tak menuntut dikagumi,
menjadi cahaya yang tak menuntut diperhatikan,
menjadi taman yang tak pernah layu, meski musim terus berganti.
Hidup yang baik adalah seni tanpa akhir,
tarian di panggung fana,
di mana setiap langkah adalah ciptaan, setiap nafas adalah keindahan,
setiap detik adalah kesempatan menyalakan lilin batin.
Hidup yang baik adalah taman abadi di hati,
tempat bunga-bunga cinta, kebahagiaan, dan kedamaian mekar tanpa henti.
Dan kita, meski fana, hidup selamanya di taman yang tak pernah layu.






