Saya punya satu kebiasaan yang mungkin bagi sebagian orang terasa aneh.
Bila ada masalah, saya tidak selalu ingin masalah itu segera diredam. Saya justru sering ingin membenturkannya.
Bukan karena saya menyukai pertengkaran. Bukan pula karena saya senang melihat orang berhadapan-hadapan. Saya hanya percaya bahwa sesuatu yang terlalu lama disimpan dalam diam sering kali justru menjadi lebih rumit.
Masalah yang tidak dibicarakan akan tumbuh menjadi prasangka. Kepentingan yang tidak dipertemukan akan berubah menjadi kecurigaan. Dan perbedaan yang terus disembunyikan di balik basa-basi pada akhirnya akan mencari jalan keluar sendiri—sering kali dengan cara yang jauh lebih buruk.
Karena itu, ketika sebuah persoalan muncul, saya lebih suka membawanya ke permukaan.
Benturkan. Hadapkan. Biarkan argumen bertemu dengan argumen.
Dari sanalah biasanya sesuatu yang lebih penting mulai terjadi: bargaining.
Bagi saya, bargaining bukanlah siapa mengalah kepada siapa. Bargaining adalah proses ketika masing-masing pihak mulai menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan seluruh keinginannya.
Di situlah realitas bekerja.
Kita boleh mempunyai kepentingan. Orang lain juga punya kepentingan. Kita boleh merasa paling benar. Orang lain pun merasa demikian. Tetapi kehidupan tidak dibangun hanya dari kebenaran versi kita sendiri.
Kehidupan dibangun dari kemampuan menemukan ruang bersama di antara berbagai kebenaran dan kepentingan.
Maka saya tidak terlalu takut pada benturan.
Justru saya sering menganggap benturan sebagai bagian dari proses menuju solusi.
Seperti dua batu yang bergesekan, mungkin ada percikan. Tetapi dari percikan itu kadang muncul cahaya.
Tentu, ada perbedaan antara benturan yang produktif dan pertengkaran yang destruktif.
Benturan yang saya maksud bukanlah saling menjatuhkan. Bukan mempermalukan. Bukan mencari siapa yang kalah. Benturan yang sehat adalah keberanian untuk mengatakan:
“Ini posisi saya. Ini kepentingan saya. Sekarang mari kita lihat posisi Anda.”
Setelah semuanya terang, barulah kita bisa mulai menghitung.
Apa yang bisa saya lepaskan?
Apa yang bisa Anda lepaskan?
Apa yang bisa kita pertahankan?
Dan apa yang sebenarnya tidak perlu diperebutkan?
Di situlah solusi biasanya lahir.
Saya justru lebih khawatir terhadap sebuah keadaan ketika semua orang terlihat setuju, tetapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar puas.
Karena kesepakatan palsu hanya menunda konflik.
Hari ini kita tersenyum, besok kita kecewa. Hari ini kita mengatakan “tidak apa-apa”, beberapa bulan kemudian, persoalan yang sama muncul dalam bentuk yang lebih besar.
Karena itu saya lebih menyukai keterusterangan daripada harmoni yang semu.
Biarkan perbedaan muncul.
Biarkan kepentingan saling berhadapan.
Biarkan argumentasi diuji.
Sebab setelah semua itu terjadi, kita akan lebih mudah melihat sesuatu yang sebelumnya tertutup oleh emosi: titik temu.
Dalam banyak persoalan kehidupan, solusi memang jarang berada di ujung ekstrem.
Ia biasanya berada di tengah.
Bukan karena posisi tengah selalu paling benar, tetapi karena di sanalah orang-orang yang berbeda masih mungkin berjalan bersama.
Saya belajar bahwa kedewasaan bukan kemampuan untuk selalu memenangkan perdebatan.
Kedewasaan adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus memberi ruang.
Ada hal-hal yang prinsipil dan tidak boleh ditawar.
Tetapi ada pula hal-hal yang sebenarnya hanya soal ego.
Dan sering kali, setelah emosi reda, kita baru sadar bahwa yang kita pertahankan mati-matian ternyata bukan prinsip—melainkan gengsi.
Maka saya tidak keberatan bila sebuah persoalan menjadi sedikit panas.
Saya tidak takut pada perbedaan pendapat.
Saya bahkan tidak selalu menghindari konflik.
Yang saya hindari justru adalah konflik yang tidak pernah diselesaikan.
Sebab bagi saya, masalah bukan sesuatu yang harus selalu dihindari.
Masalah adalah sesuatu yang harus dihadapi.
Dibenturkan.
Dibicarakan.
Dinegosiasikan.
Lalu dicari jalan keluarnya.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang bagaimana kita membuat semua orang berpikir sama dengan kita.
Hidup adalah tentang bagaimana orang-orang yang berbeda pikiran dan berbeda kepentingan itu tetap dapat menemukan alasan untuk duduk bersama.
Mungkin itulah sebabnya saya memiliki kebiasaan tersebut.
Bila ada masalah, saya ingin membenturkannya.
Bukan untuk menciptakan perang.
Tetapi agar kita tahu di mana batas masing-masing, apa yang benar-benar penting, dan di mana sebuah kompromi masih mungkin dilakukan.
Sebab sering kali, solusi tidak lahir dari ketenangan yang dibuat-buat.
Ia lahir setelah keberanian mempertemukan perbedaan.
Dan dari benturan itulah, kalau kita cukup dewasa untuk tidak dikuasai ego, lahirlah sesuatu yang lebih berharga daripada kemenangan:
sebuah jalan keluar.





