*Jika Tuhan benar-benar ada, mungkin persoalannya bukan mengapa Ia membiarkan kejahatan. Persoalannya justru: mengapa manusia begitu gemar berbicara atas nama-Nya?*
Ada pertanyaan yang telah mengganggu manusia sejak ia mulai mengenal penderitaan:
**Jika Tuhan ada, mengapa perang dibiarkan? Mengapa anak-anak mati? Mengapa penyakit menyerang orang baik? Mengapa orang jahat kadang hidup makmur, sementara orang yang saleh justru menderita?**
Pertanyaan itu tampak seperti gugatan kepada Tuhan.
Tetapi mungkin sejak awal ia telah membawa kesalahan kecil yang menentukan: kita menganggap moralitas Tuhan harus sama dengan moralitas manusia.
Padahal alam semesta tampaknya tidak mengenal moralitas kita.
Ketika seorang manusia mati, alam tidak bertanya apakah ia seorang pahlawan atau seorang penjahat. Tubuhnya tetap menjalani hukum yang sama. Jantung berhenti. Sel-sel pecah. Daging terurai. Tubuh kembali menjadi tanah.
Seorang yang mati karena menyelamatkan seratus orang dan seorang yang mati setelah membunuh seratus orang, pada akhirnya sama-sama menjadi bagian dari siklus materi.
Bagi alam, keduanya adalah perpindahan materi dan energi.
Alam tidak bertepuk tangan kepada pahlawan.
Alam tidak mencaci penjahat.
**Yang membedakan keduanya adalah manusia.**
Dan itu bukan berarti kebaikan tidak penting. Justru sebaliknya. Kebaikan menjadi penting karena manusia hidup dalam dunia yang harus ditata bersama.
Kita menciptakan hukum karena tanpa hukum manusia akan saling memangsa. Kita menyebut pembunuhan sebagai kejahatan karena kehidupan bersama tidak mungkin bertahan jika setiap orang bebas membunuh. Kita menyebut kejujuran sebagai kebajikan karena kepercayaan adalah semen yang merekatkan masyarakat.
Baik dan buruk, dalam pengertian sosial, adalah bahasa manusia untuk mempertahankan kehidupan manusia.
Tetapi manusia kemudian menghadapi persoalan yang lebih besar.
**Kalau moralitas dibuat manusia, siapa yang menjamin bahwa moralitas itu benar?**
Maka Tuhan pun dipanggil.
Bukan sekadar sebagai pencipta alam, melainkan sebagai pemberi hukum.
“Ini kehendak Tuhan.”
Kalimat itu sangat ampuh.
Sebab kalau dikatakan sebagai kehendak manusia, orang lain masih boleh membantah.
Tetapi ketika manusia berkata, “Ini kehendak Tuhan,” perdebatan tiba-tiba berubah menjadi dosa.
Kritik berubah menjadi penghujatan.
Ketidaksetujuan berubah menjadi pembangkangan.
Dan kekuasaan memperoleh sesuatu yang jauh lebih kuat daripada polisi:
**legitimasi sakral.**
Di sinilah sejarah menjadi menarik—sekaligus mengerikan.
Penguasa tidak hanya ingin ditaati karena memiliki tentara.
Ia ingin ditaati karena dianggap memperoleh mandat dari langit.
Raja pernah menjadi “wakil Tuhan”.
Kaisar pernah dianggap memiliki legitimasi ilahi.
Penjajah pernah datang membawa kitab suci sekaligus kapal perang.
Dan manusia berkali-kali menemukan cara yang sangat kreatif untuk mengatakan:
**“Aku berkuasa karena Tuhan menghendakinya.”**
Padahal siapa yang memeriksa surat mandat dari Tuhan itu?
Siapa yang pernah melihat Tuhan menandatangani surat keputusan?
Tidak ada.
Yang ada adalah manusia yang berbicara.
Dan sering kali, anehnya, suara Tuhan itu terdengar sangat mirip dengan suara orang yang sedang berkuasa.
Tuhan menjadi marah ketika penguasa marah.
Tuhan membenci musuh ketika penguasa membenci musuh.
Tuhan menyukai apa yang disukai penguasa.
Tuhan bahkan kadang-kadang tampak sangat nasionalistis: Tuhan kita, bangsa kita, tanah kita, musuh kita.
**Tuhan yang universal mendadak memiliki paspor.**
Di titik itu kita patut curiga.
Jangan-jangan bukan Tuhan yang menciptakan manusia menurut citra-Nya.
Jangan-jangan manusia yang menciptakan Tuhan menurut citra dirinya.
Tuhan diberi emosi seperti manusia.
Diberi kehendak seperti manusia.
Diberi kepentingan seperti manusia.
Diberi musuh seperti manusia.
Dan yang paling berbahaya: Tuhan diberi mulut manusia.
Sejak saat itu manusia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan:
**membunuh sambil merasa suci.**
Sebab manusia tidak lagi berkata, “Saya membunuh karena saya membenci Anda.”
Ia berkata:
**“Saya membunuh karena Tuhan menghendakinya.”**
Inilah titik ketika iman dapat berubah menjadi alat kekuasaan.
Bukan karena Tuhan memang menghendaki kekerasan, melainkan karena manusia menemukan bahwa nama Tuhan adalah legitimasi yang sangat sulit dilawan.
Melawan manusia masih mungkin.
Melawan penguasa masih mungkin.
Tetapi bagaimana melawan “kehendak Tuhan” yang ditafsirkan oleh penguasa?
Maka persoalan kita bukan semata-mata apakah Tuhan membiarkan kejahatan.
Ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
**berapa banyak kejahatan yang justru dilakukan manusia karena merasa dirinya membawa mandat Tuhan?**
Dan di sinilah agama menghadapi tantangan terbesarnya.
Agama seharusnya membuat manusia rendah hati di hadapan misteri.
Tetapi ketika seseorang merasa dirinya memiliki monopoli atas kehendak Tuhan, agama bisa berubah menjadi sebaliknya: manusia menjadi sangat sombong karena merasa berbicara atas nama Yang Mahamutlak.
Mungkin karena itu kita perlu membedakan antara **Tuhan** dan **Tuhan yang telah selesai ditafsirkan manusia.**
Tuhan, jika memang ada, mungkin jauh lebih besar daripada semua definisi kita.
Tetapi “Tuhan” yang sudah selesai didefinisikan, diklaim, diberi kepentingan politik, lalu dipakai untuk memukul kepala orang lain—barangkali bukan lagi Tuhan.
Ia adalah **cermin manusia.**
Dan cermin itu memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu ingin kita lihat:
keserakahan kita,
ketakutan kita,
kebencian kita,
hasrat kita untuk berkuasa,
dan kebutuhan kita untuk merasa paling benar.
Karena itu mungkin pertanyaan paling penting bukan:
**“Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan?”**
Tetapi:
**“Mengapa manusia, ketika berhadapan dengan kejahatan, justru sering mencari Tuhan untuk membenarkannya?”**
Barangkali Tuhan tidak sedang diam.
Barangkali manusialah yang terlalu berisik.
Terlalu banyak berbicara atas nama-Nya.
Terlalu banyak mengaku mengetahui kehendak-Nya.
Dan terlalu sering menggunakan nama-Nya untuk sesuatu yang sebenarnya sangat manusiawi:
**kekuasaan.**
Pada akhirnya kita semua akan kembali kepada tanah.
Raja dan rakyat.
Pahlawan dan penjahat.
Orang beriman dan orang yang ragu.
Tubuh kita akan kembali kepada bumi yang sama.
Tetapi sebelum itu terjadi, kita diberi satu hal yang sangat ganjil dan sangat berharga:
**kesempatan untuk memilih.**
Mungkin di situlah letak misteri terbesar kehidupan.
Bukan apakah Tuhan ada.
Tetapi apa yang kita lakukan dengan kebebasan yang kita miliki **seandainya Tuhan benar-benar ada.**
Sebab jika Tuhan ada, mungkin Ia tidak membutuhkan manusia untuk menjadi juru bicara-Nya.
**Yang mungkin dibutuhkan-Nya hanyalah manusia yang berhenti menggunakan nama-Nya untuk membenarkan kejahatannya sendiri.**





