Ada pertemuan yang diciptakan bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa hidup masih menyimpan keindahan.
Kita sering keliru mengira bahwa setiap rasa nyaman adalah undangan untuk melangkah lebih jauh. Padahal, mungkin ia hanya sebuah taman tempat kita dipersilakan duduk sejenak, menikmati semilir angin, lalu melanjutkan perjalanan.
Tidak semua pintu terbuka agar kita masuk.
Ada yang hanya dibuka agar kita melihat cahaya di dalamnya.
Ketika seseorang menghadirkan ketenangan dalam hidupmu, jangan terburu-buru menjadikannya milikmu. Sebab keinginan memiliki sering kali lahir dari rasa takut kehilangan, bukan dari cinta itu sendiri.
Cinta yang dewasa tidak selalu berkata, “Aku ingin bersamamu.”
Kadang ia hanya berbisik, “Terima kasih telah membuat dunia ini terasa lebih indah.”
Lalu ia diam.
Ada kebijaksanaan dalam diam.
Sungai tidak pernah memenjarakan langit yang dipantulkannya. Ia membiarkan awan datang dan pergi, sementara air tetap mengalir menuju laut.
Begitu pula hati.
Semakin ia belajar melepaskan, semakin ia menjadi luas.
Yang merusak bukanlah kedekatan.
Yang merusak adalah keinginan menjadikan setiap keindahan sebagai milik pribadi.
Kita meminta nomor telepon, berharap percakapan tak pernah usai. Kita ingin bertemu lebih sering, berharap rasa nyaman itu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Kita terus menambah harapan, sampai akhirnya harapan itu lebih besar daripada kenyataan.
Lalu kita berkata bahwa orang lain telah berubah.
Padahal yang berubah adalah hasrat kita.
Hasrat selalu pandai menyamar sebagai cinta.
Ia membisikkan, “Sedikit lagi… sedikit lagi…”
Padahal jiwa justru menemukan damainya ketika ia mampu berkata, “Cukup.”
Mungkin kedewasaan bukanlah kemampuan mendapatkan lebih banyak.
Melainkan kemampuan berhenti sebelum keindahan berubah menjadi beban.
Sebab bunga yang dipetik memang bisa dimiliki.
Tetapi ia berhenti mekar.
Sedangkan bunga yang dibiarkan tumbuh di kebunnya akan terus menjadi alasan kita kembali tersenyum.
Karena itu, jika hidup sedang memberimu seseorang yang menghadirkan rasa nyaman, jangan tergesa-gesa mengubahnya menjadi sesuatu yang harus kau miliki.
Nikmati kehadirannya.
Syukuri perjumpaannya.
Hormati jaraknya.
Biarkan semesta menyelesaikan bagian yang bukan kuasamu.
Sebab tidak semua yang indah diciptakan untuk tinggal di tanganmu.
Sebagian hanya dititipkan agar jiwamu belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Dan mungkin, di situlah kebebasan menemukan rumahnya.
Kalau sudah nyaman, jangan ingin lebih.






