“Some people are getting older, but the dream is getting younger. Others don’t give it the chance to live.”
Seperti benih yang tak pernah ditanam, mimpi tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidak pernah memiliki kesempatan untuk hidup.
Ia tetap menyimpan kemungkinan. Di dalamnya telah tersimpan akar, batang, daun, bunga, bahkan hutan yang belum pernah ada. Namun semua itu hanya tinggal potensi selama tidak ada tangan yang bersedia mempercayainya, menanamnya, dan merawatnya.
Begitulah mimpi manusia.
Banyak orang mengira mimpi dikalahkan oleh usia. Seolah-olah waktu adalah musuh yang perlahan menghapus segala cita-cita. Padahal, yang lebih sering terjadi justru sebaliknya. Bukan waktu yang membunuh mimpi, melainkan kita yang menolak memberinya kehidupan.
Kita terlalu cepat berkata, “Sudah terlambat.”
Terlalu mudah menerima bahwa hidup hanyalah rutinitas yang harus dijalani, bukan kemungkinan yang harus diciptakan.
Maka mimpi pun tetap menjadi benih—utuh, tetapi tak pernah bertunas.
Ironisnya, ada orang-orang yang justru semakin tua, sementara mimpinya semakin muda.
Setiap pengalaman membuat mereka lebih bijaksana, tetapi tidak kehilangan rasa ingin tahu. Setiap kegagalan tidak memadamkan harapan, melainkan memperhalus cara mereka mengejarnya. Mereka memahami bahwa usia hanya mengubah tubuh, bukan cakrawala.
Mereka memberi mimpi itu kesempatan untuk hidup.
Dan itulah yang membedakan mereka.
Bukan kecerdasan. Bukan kekayaan. Bukan pula keberuntungan.
Melainkan keberanian untuk terus menanam, bahkan ketika musim tampak tidak menjanjikan.
Alam mengajarkan pelajaran yang sederhana. Sebuah benih tidak pernah bertanya berapa usia tanah tempat ia ditanam. Ia hanya membutuhkan ruang untuk tumbuh, air untuk menghidupkannya, dan cahaya untuk menuntunnya.
Mimpi pun demikian.
Ia tidak bertanya berapa umur pemiliknya. Ia hanya menunggu satu keputusan: Apakah engkau akan memberiku kesempatan untuk hidup?
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa lama kita berada di dunia ini.
Melainkan tentang berapa banyak kemungkinan yang kita izinkan menjadi kenyataan.
Karena mimpi tidak mati oleh usia.
Ia hanya mati ketika tidak pernah diberi kesempatan untuk hidup.






