Pada suatu waktu, saya ditugaskan menjadi penerjemah. Tugas itu sederhana di atas kertas: memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Namun dalam praktiknya, saya justru dipindahkan dari satu cara pandang ke cara pandang yang lain. Dari tugas itulah saya mulai mengerti—bahwa memahami bahasa manusia sering kali membuka pintu untuk memahami cara manusia mendekati Tuhannya.
Saya menyaksikan langsung prosesi sembahyang umat Hindu Bali. Sebuah ritual yang bagi sebagian orang tampak asing, bahkan mungkin dianggap keliru. Namun ketika saya mendengar penjelasannya, saya justru menemukan pelajaran tentang ketertiban batin, kesadaran ruang, dan adab spiritual.
Pertama, mereka memohon kepada makhluk-makhluk tak kasat mata yang diyakini berada di sekitar tempat itu, agar tidak mengganggu jalannya doa. Ini bukan penyembahan, melainkan permohonan etika kosmik—sebuah kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan semesta yang tak seluruhnya terlihat.
Kedua, mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, agar menjaga keselamatan. Di titik ini, tujuan doa menjadi jelas: bersandar kepada Yang Maha Kuasa.
Ketiga, mereka memohon kepada para dewa yang turut menjadi saksi doa (Tuhan menurut keyakinan masing-masing), agar perlindungan dan kesejahteraan diberikan. Dan keempat, mereka menutupnya dengan rasa terima kasih atas semua yang telah diterima.
Empat tahapan itu bukan sekadar ritual. Ia adalah struktur kesadaran: menghormati lingkungan, bersandar kepada Tuhan, memohon keselamatan, lalu bersyukur. Sebuah etika spiritual yang rapi.
Lalu, apa yang salah dengan doa seperti ini?
Sebagian umat Islam mungkin akan cepat menolak. Mereka menganggap bentuk doa tersebut menyimpang dari tauhid. Namun sering kali penolakan itu lahir bukan dari pemahaman, melainkan dari jarak. Dari ketidaksediaan untuk mendengar sebelum menilai.
Padahal, Al-Qur’an sendiri membuka pintu dialog kemanusiaan dengan kalimat yang sangat universal:
“Ya ayyuhannas ittaqu rabbakum”
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu.
Bukan “wahai orang-orang beriman”, bukan pula “wahai kaum tertentu”. Tetapi wahai manusia. Seruan ini melampaui identitas agama, suku, dan tradisi. Ia mengakui bahwa setiap manusia memiliki jalan keyakinannya sendiri dalam mencari Tuhan.
Jika Tuhan memanggil manusia secara universal, mengapa sebagian manusia justru menutup pintu universalisme itu?
Masalahnya sering bukan pada doa orang lain, tetapi pada ketakutan kita sendiri. Takut bahwa jika kita memahami cara orang lain berdoa, iman kita akan berkurang. Padahal iman yang matang justru tidak takut berdialog. Ia tidak rapuh oleh perbedaan.
Saya belajar dari pengalaman menjadi penerjemah itu: bahasa bisa berbeda, gerakan bisa berbeda, simbol bisa berbeda—tetapi kerinduan manusia kepada Tuhan selalu sama. Semua ingin selamat. Semua ingin tenteram. Semua ingin dekat dengan Yang Maha Ada.
Dan mungkin, di situlah inti takwa yang sesungguhnya: bukan hanya benar menurut keyakinan sendiri, tetapi juga mampu menghormati keyakinan orang lain tanpa kehilangan keyakinan kita sendiri.
Sebab Tuhan tidak kekurangan pembela.
Yang sering kekurangan justru manusia yang mau belajar memahami.




