Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

KITA DATANG DENGAN TANGAN KOSONG

munira by munira
August 30, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti sedang bersekongkol melawan kita.

Penyakit datang tanpa diundang.
Kematian mengetuk pintu tanpa permisi.
Perceraian memisahkan dua orang yang pernah berjanji untuk bersama.
Kegagalan merobohkan sesuatu yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Penghinaan membuat harga diri terasa seperti diinjak-injak.

Dan kita pun bertanya:

**Mengapa harus aku?**

Tetapi mungkin, sesekali, kita perlu berhenti sejenak dan mengingat sesuatu yang sangat sederhana:

Kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa-apa.

Tidak membawa rumah.
Tidak membawa uang.
Tidak membawa jabatan.
Tidak membawa nama besar.
Tidak membawa penghargaan.
Bahkan nama kita sendiri pun diberikan oleh orang lain.

Kita datang dengan tangan kosong.

Dan kelak, ketika waktunya tiba, kita akan pulang dengan cara yang sama.

Tangan kosong.

Maka apa pun yang kita miliki di antara kedatangan dan kepulangan sebenarnya hanyalah titipan sementara. Kita memegangnya sebentar, mencintainya sebentar, menggunakannya sebentar—lalu suatu hari harus melepaskannya.

Lalu mengapa kita begitu takut kehilangan?

Mengapa kita begitu hancur ketika sesuatu pergi?

Mengapa kita membiarkan perkataan seseorang tinggal bertahun-tahun di kepala kita?

Seseorang berkata kasar kepada kita.

Kita mengingatnya.

Besok kita mengingatnya lagi.

Bulan depan masih mengingatnya.

Bertahun-tahun kemudian, orang itu mungkin sudah lupa apa yang pernah dikatakannya. Tetapi kita masih sibuk mengulang kalimatnya di dalam kepala.

Ironis.

Dia sudah pergi, tetapi kita masih menyediakan kamar untuknya di dalam pikiran.

Orang lain mungkin hanya melukai kita sekali. Tetapi kita sendiri yang kemudian menggaruk luka itu setiap hari.

Mereka mungkin menjatuhkan kita satu kali.

Kita yang kemudian memilih untuk terus berbaring di tanah.

Di situlah letak tragedinya.

Bukan hanya pada apa yang dilakukan orang lain kepada kita, tetapi pada apa yang kemudian kita lakukan kepada diri sendiri.

Kita membuat diri sendiri frustrasi.

Kita membuat diri sendiri gelisah.

Kita membuat diri sendiri sengsara.

Kita membuat diri sendiri kehilangan tidur hanya karena seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak punya kekuasaan apa-apa atas hidup kita.

**Bukankah itu terlalu mahal?**

Hidup kita terlalu berharga untuk dibayar dengan kecemasan atas pendapat orang lain.

Tentu saja, kesedihan itu manusiawi.

Kalau kehilangan, menangislah.

Kalau patah hati, rasakan sakitnya.

Kalau kematian datang, berdukalah.

Kalau hidup sedang gelap, jangan berpura-pura matahari sedang bersinar.

Kita bukan robot.

Kita manusia.

Tetapi jangan menjadikan kesedihan sebagai alamat tetap.

**Boleh berhenti sebentar. Jangan berhenti selamanya.**

Sebab hidup terus berjalan, bahkan ketika kita memilih diam.

Pagi tetap datang.

Matahari tetap terbit.

Dunia tetap berputar.

Dan waktu, seperti sungai, tidak pernah mau kembali hanya karena kita sedang terluka.

Maka, setelah menangis, usap air matamu.

Setelah jatuh, bangun perlahan.

Setelah kehilangan, belajar melepaskan.

Bukan karena yang hilang itu tidak berharga.

Justru karena ia pernah berharga, maka kita harus belajar menghormati kenangan tanpa harus menjadi tawanan kenangan.

Ingatlah:

**Kita tidak membawa apa-apa ketika datang.**

Dan kita tidak membawa apa-apa ketika pergi.

Di antara dua tangan kosong itulah seluruh cerita kita berlangsung.

Kita mencintai.

Kita kehilangan.

Kita tertawa.

Kita menangis.

Kita menang.

Kita kalah.

Kita bertemu.

Kita berpisah.

Begitulah kehidupan.

Bukan tempat untuk memiliki segala sesuatu selamanya, melainkan tempat untuk mengalami segala sesuatu secukupnya.

Jadi, jangan terlalu lama bertengkar dengan masa lalu.

Jangan terlalu sibuk menghitung siapa yang menyakitimu.

Jangan berikan seluruh sisa hidupmu kepada orang yang bahkan mungkin sudah tidak memikirkanmu.

Dan jangan menjadi musuh bagi dirimu sendiri.

Dunia sudah cukup keras.

**Jangan ikut membuat hatimu menjadi tempat yang keras untuk ditinggali.**

Jika hari ini hidupmu sedang berat, tarik napas.

Lihat kembali tanganmu.

Apa pun yang masih ada di sana, syukuri.

Apa pun yang sudah pergi, lepaskan perlahan.

Sebab pada akhirnya, kita semua sedang menuju tempat yang sama:

**pulang dengan tangan kosong.**

Jadi selama masih diberi kesempatan untuk berjalan, berjalanlah.

Selama masih bisa mencintai, cintailah.

Selama masih bisa tertawa, tertawalah.

Dan selama masih hidup—

**jangan habiskan hidupmu untuk membuat dirimu sendiri sengsara.**

Sebab barangkali, setelah semua yang terjadi, satu-satunya musuh yang masih perlu kita kalahkan bukanlah dunia.

Melainkan suara di dalam kepala sendiri yang terus berkata:

*”Aku tidak akan pernah baik-baik saja.”*

Katakan kepadanya:

“Tidak. Aku akan bangun lagi.”

Lalu berjalanlah.

Pelan-pelan pun tidak apa-apa.

Yang penting—

jangan berhenti.

ADVERTISEMENT
Previous Post

Perhatian Adalah Narkoba yang Tak Terlihat

Next Post

SATU BUKU, BANYAK JALAN MENUJU KEBENARAN

munira

munira

Related Posts

Mereka Berdusta agar Tuhan Terlihat Indah

Mereka Berdusta agar Tuhan Terlihat Indah

by munira
August 31, 2026
0

Membaca Abdullah al-Qasimi dan Keberaniannya Menggugat Gambaran Manusia tentang Tuhan Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada...

SATU BUKU, BANYAK JALAN MENUJU KEBENARAN

by munira
August 30, 2026
0

Muslim mempunyai Al-Qur’an. Kristen mempunyai Alkitab. Yahudi mempunyai Taurat. Lalu, buku apakah yang harus dibaca oleh seorang manusia yang ingin...

Perhatian Adalah Narkoba yang Tak Terlihat

by munira
August 29, 2026
0

Ada orang yang tidak mencari cinta—mereka mencari **perhatian**. Dan keduanya bukan hal yang sama. Seseorang bisa terlihat sangat setia, tetapi...

Ketika Semua Agama Merasa Paling Benar

by munira
August 29, 2026
0

Ada sebuah ironi yang barangkali terlalu sering kita abaikan. Manusia berbeda dalam bahasa, budaya, warna kulit, tradisi, dan cara memandang...

Next Post

SATU BUKU, BANYAK JALAN MENUJU KEBENARAN

Mereka Berdusta agar Tuhan Terlihat Indah

Mereka Berdusta agar Tuhan Terlihat Indah

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Mereka Berdusta agar Tuhan Terlihat Indah
  • SATU BUKU, BANYAK JALAN MENUJU KEBENARAN
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira