Muslim mempunyai Al-Qur’an.
Kristen mempunyai Alkitab.
Yahudi mempunyai Taurat.
Lalu, buku apakah yang harus dibaca oleh seorang manusia yang ingin memahami dirinya sendiri?
Barangkali jawabannya justru: semuanya.
Sebab dunia terlalu luas untuk dijelaskan hanya oleh satu buku, dan kehidupan terlalu misterius untuk diperas menjadi satu jawaban.
Saya ingin memahami diri saya, maka saya membaca manusia. Saya ingin memahami dunia, maka saya membaca alam. Saya ingin memahami kehidupan, maka saya membaca sejarah, filsafat, agama, sains, bahkan kesunyian.
Sebuah pohon pun bisa menjadi buku.
Sebuah batu bisa menjadi buku.
Langit, laut, tubuh manusia, kematian, cinta, penderitaan, bahkan keraguan—semuanya adalah halaman-halaman yang belum selesai kita baca.
Barangkali kitab bukan hanya sesuatu yang dijilid dan diletakkan di atas meja. Alam semesta sendiri adalah kitab raksasa. Kita hanya sedang belajar mengeja huruf-hurufnya.
Ketika berbicara tentang ateisme, Yuval Noah Harari mengajukan sebuah cara pandang yang menarik.
Menurutnya, seorang ateis tidak selalu sibuk mendefinisikan dirinya sebagai orang yang “tidak percaya Tuhan”.
Ia bahkan mengibaratkannya seperti seseorang yang berkata, “Saya bukan kucing.”
Mengapa harus mendefinisikan diri berdasarkan sesuatu yang tidak dipercayai?
Seorang manusia tentu tidak perlu setiap pagi mengumumkan bahwa dirinya bukan kucing.
Demikian pula, mungkin seorang ateis tidak merasa perlu berkeliling dunia mengatakan, “Saya tidak percaya Tuhan.”
Ia hanya sedang menjalani hidup dengan pertanyaan yang berbeda.
Dan sesungguhnya, dalam kadar tertentu, kita semua hidup bersama keraguan.
Bahkan orang yang paling saleh sekalipun, mungkin pernah terbangun pada malam yang sunyi dan bertanya dalam hati:
Benarkah semuanya seperti yang selama ini kukira?
Pertanyaan itu tidak selalu berarti pengkhianatan terhadap iman.
Kadang-kadang ia hanyalah tanda bahwa pikiran masih hidup.
Persoalannya kemudian adalah: apa yang kita maksud dengan Tuhan?
Kata “Tuhan” kadang dipakai untuk menunjuk misteri terbesar alam semesta.
Siapa yang menyebabkan Big Bang?
Mengapa ada sesuatu, bukannya tidak ada apa-apa?
Dari mana hukum-hukum alam berasal?
Mengapa alam semesta memiliki keteraturan?
Di wilayah ini, Tuhan menjadi nama lain bagi misteri.
Kita tidak benar-benar tahu.
Kita hanya berdiri di tepi ketidaktahuan, memandang samudera yang tak berujung.
Tetapi Tuhan juga sering digambarkan sebagai sosok yang sangat konkret: mengetahui bagaimana manusia harus berpakaian, apa yang boleh dimakan, siapa yang boleh dicintai, bagaimana manusia harus hidup, bahkan siapa yang harus dipilih dalam pemilu.
Di sinilah persoalannya menjadi rumit.
Jika Tuhan adalah misteri terbesar yang melampaui seluruh kemampuan manusia untuk memahami, mengapa manusia begitu percaya diri berbicara atas nama-Nya?
Jangan-jangan yang kita kenal bukan Tuhan, melainkan interpretasi kita sendiri tentang Tuhan.
Dan antara Tuhan dengan tafsir manusia tentang Tuhan, mungkin terdapat jarak yang sangat jauh.
Sains memiliki satu kelebihan yang sederhana, tetapi luar biasa:
ia bersedia mengakui kesalahan.
Seorang ilmuwan membuat teori.
Kemudian teori itu diuji.
Jika eksperimen membuktikan teori tersebut keliru, ia tidak harus menyalahkan hujan, dosa manusia, setan, atau kesalahan ritual.
Ia cukup mengatakan:
“Kami keliru.”
Lalu mencoba lagi.
Di situlah ilmu pengetahuan tumbuh.
Bukan karena ilmuwan selalu benar, melainkan karena mereka memiliki mekanisme untuk menemukan kesalahan.
Agama, tentu saja, tidak sesederhana itu. Agama bagi banyak manusia bukan sekadar teori tentang dunia, melainkan sumber iman, makna, moralitas, dan pengharapan.
Karena itu, yang perlu dikritik bukan agama sebagai pengalaman manusia, melainkan kesombongan manusia ketika menganggap tafsirnya sendiri sebagai kebenaran mutlak.
Sebab manusia bisa saja membawa kitab suci di tangan, tetapi tetap membawa kesombongan di kepalanya.
Yang lebih berbahaya adalah ketika manusia mulai meminjam nama Tuhan untuk kepentingannya sendiri.
Ia membenci seseorang, lalu berkata:
“Tuhan membenci dia.”
Ia menginginkan sebidang tanah, lalu berkata:
“Tuhan memberikan tanah ini kepada kami.”
Ia ingin berperang, lalu berkata:
“Tuhan menghendaki perang ini.”
Padahal mungkin Tuhan tidak pernah mengatakan apa-apa.
Yang berbicara adalah manusia.
Yang marah adalah manusia.
Yang serakah adalah manusia.
Yang ingin berkuasa adalah manusia.
Tetapi demi menghindari tanggung jawab moral, manusia meletakkan semua itu di pundak Tuhan.
Seolah-olah Tuhan membutuhkan manusia untuk menjadi juru bicara-Nya.
Seolah-olah Tuhan tidak mampu membela diri tanpa bantuan kita.
Barangkali justru di situlah letak ironi terbesar dalam sejarah agama: manusia yang kecil merasa begitu yakin mengetahui kehendak Tuhan yang Mahabesar.
Saya tidak tahu apakah Tuhan ada.
Saya juga tidak tahu apakah Tuhan tidak ada.
Dan mungkin kalimat paling jujur yang bisa diucapkan manusia adalah:
“Saya belum tahu.”
Sebab “belum tahu” bukanlah kelemahan.
Ia adalah awal dari pengetahuan.
Anak kecil bertanya karena ia belum tahu.
Ilmuwan meneliti karena ia belum tahu.
Filsuf berpikir karena ia belum tahu.
Bahkan manusia berdoa karena, dalam suatu cara yang paling dalam, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak mampu dijangkaunya.
Maka jangan terlalu cepat membunuh pertanyaan.
Jangan buru-buru menyebut setiap keraguan sebagai dosa.
Jangan setiap suara kecil yang bertanya, “Mungkinkah selama ini aku keliru?”, langsung dituduh sebagai suara setan.
Bisa jadi itu bukan suara setan.
Bisa jadi itu suara rasa ingin tahu.
Barangkali manusia memang tidak membutuhkan satu buku untuk memahami seluruh kehidupan.
Kita membutuhkan banyak buku.
Kitab suci untuk membaca makna.
Sains untuk membaca kenyataan.
Filsafat untuk membaca pikiran.
Sejarah untuk membaca kesalahan manusia.
Dan alam untuk membaca kebesaran sesuatu yang jauh melampaui diri kita.
Sebab sebuah pohon yang tumbuh diam-diam selama seratus tahun mungkin menyimpan pelajaran yang tidak tertulis dalam buku mana pun.
Sebuah batu yang tergeletak di sungai mungkin telah menyaksikan lebih banyak zaman daripada seluruh perpustakaan manusia.
Dan langit malam—yang tidak pernah berbicara—barangkali justru sedang mengatakan sesuatu yang paling sulit kita dengar:
bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu.
Kita hanya sepotong kecil dari misteri yang sangat besar.
Karena itu, berimanlah jika iman membuatmu menjadi manusia yang lebih baik.
Tidak berimanlah jika itu adalah hasil pencarianmu.
Bertanyalah jika ada yang belum kau pahami.
Bacalah jika ingin tahu.
Dan jika suatu hari kau menemukan jawaban, jangan terlalu cepat merasa telah menggenggam seluruh kebenaran.
Sebab mungkin kebenaran bukan sebuah benda yang bisa kita miliki.
Ia lebih seperti cakrawala.
Kita berjalan mendekatinya sepanjang hidup.
Namun setiap kali kita merasa sudah sampai, ia kembali menjauh—sedikit lebih jauh, sedikit lebih dalam, sedikit lebih misterius.
Dan mungkin, justru perjalanan menuju kebenaran itulah yang disebut kehidupan.




