Membaca Abdullah al-Qasimi dan Keberaniannya Menggugat Gambaran Manusia tentang Tuhan
Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru baru mulai bekerja setelah buku itu ditutup.
They Lie to See God Beautiful, atau dalam judul Arabnya *Yukadzdzibūna Kay Yaraw al-Ilāha Jamīlan* karya **Abdullah al-Qasimi**, termasuk jenis kedua. Buku ini bukan bacaan yang nyaman bagi orang yang terbiasa menerima keyakinan tanpa mengujinya. Ia mengajak pembaca masuk ke wilayah yang jauh lebih gelap dan sekaligus lebih menarik: wilayah tempat iman, pikiran, kekuasaan, ketakutan, kebiasaan, dan kepentingan manusia saling bertemu.
Judulnya sendiri sudah merupakan sebuah provokasi intelektual.
“Mereka berdusta agar Tuhan terlihat indah.”
Kalimat itu mengandung tuduhan yang sangat dalam: jangan-jangan manusia tidak selalu menggambarkan Tuhan sebagaimana Tuhan itu sendiri, melainkan sebagaimana manusia **ingin melihat-Nya**.
Dan dari sinilah pertanyaan besar buku ini dimulai.
Apakah kita mencari Tuhan yang benar, atau Tuhan yang sesuai dengan kebutuhan kita?
Abdullah al-Qasimi: dari pembela Salafisme menjadi penggugat agama
Untuk memahami buku ini, kita tidak bisa mengabaikan perjalanan hidup pengarangnya.
**Abdullah bin Ali al-Najdi al-Qasimi** lahir sekitar **1907** di wilayah al-Qasim, Arab Saudi, dan meninggal di **Kairo pada 9 Januari 1996**. Ia dikenal sebagai salah seorang intelektual Arab paling kontroversial pada abad ke-20. Ia pernah berada sangat dekat dengan lingkungan Salafisme, bahkan pada masa awalnya tampil sebagai pembela pemikiran Wahabi, sebelum kemudian mengalami perubahan intelektual yang sangat radikal.
Perjalanan intelektualnya membawa dia ke Irak, India, dan kemudian Mesir. Pada 1927 ia belajar di **Al-Azhar, Kairo**. Pada fase awal kariernya, ia menulis buku-buku yang membela Wahabisme dan menyerang kritik-kritik terhadapnya. Salah satu karya awalnya adalah *al-Burūq al-Najdiyyah fī Iktisāh al-Zulumat al-Dajwiyyah*, yang ditulis sebagai tanggapan terhadap tulisan ulama Al-Azhar, Yusuf al-Dajwi.
Tetapi kemudian sesuatu berubah.
Al-Qasimi mulai mempertanyakan apa yang dahulu ia bela. Kritiknya bergerak dari pembelaan terhadap satu mazhab ke kritik terhadap struktur keagamaan dan akhirnya sampai pada posisi yang oleh banyak orang disebut sebagai ateistik.
Perubahan itu membuatnya menjadi figur yang sangat kontroversial di dunia Arab. Ia tidak lagi hanya mempertanyakan tafsir keagamaan tertentu, tetapi mulai mempertanyakan hubungan manusia dengan agama, otoritas, dogma, kebebasan berpikir, bahkan gagasan tentang Tuhan.
Di antara karya-karya yang lahir dari fase pemikiran tersebut adalah ***Hādzihi Hiya al-Aghlāl*** (*Inilah Belenggu*) dan ***Yukadzdzibūna Kay Yaraw al-Ilāha Jamīlan***.
Karena pemikirannya yang kontroversial, Al-Qasimi juga menghadapi tekanan serius. Berbagai sumber biografis mencatat bahwa ia pernah mengalami penahanan dan menghadapi ancaman kekerasan, termasuk percobaan pembunuhan yang dilaporkan terjadi di Mesir dan Lebanon. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Kairo dan meninggal pada 1996.
Namun justru di situlah menariknya sosok Al-Qasimi.
Ia bukan orang yang sejak awal berada di luar agama lalu menyerangnya dari kejauhan.
**Ia pernah berada di dalamnya.**
Ia pernah menjadi pembela.
Kemudian ia menjadi pengkritik.
Perubahan itulah yang membuat karya-karyanya terasa lebih personal dan sekaligus lebih berbahaya bagi sistem pemikiran yang tidak terbiasa mempertanyakan dirinya sendiri.
—
# Tuhan yang kita kenal, atau Tuhan yang kita ciptakan?
Pertanyaan paling menarik dari buku ini sebenarnya bukan:
**“Apakah Tuhan ada?”**
Melainkan:
**“Tuhan seperti apa yang selama ini kita kenal?”**
Sebab manusia tidak pernah berhubungan dengan Tuhan secara sederhana. Manusia berhubungan dengan Tuhan melalui bahasa, kitab, tafsir, tradisi, pendidikan, keluarga, masyarakat, ulama, institusi, dan pengalaman pribadi.
Dengan kata lain, antara manusia dan Tuhan selalu terdapat **interpretasi manusia**.
Di sinilah Al-Qasimi menjadi sangat mengganggu.
Ia seolah ingin mengatakan bahwa manusia sering kali tidak sekadar percaya kepada Tuhan, tetapi juga **membangun gambaran tentang Tuhan**.
Dan gambaran itu kemudian dipertahankan seolah-olah identik dengan Tuhan itu sendiri.
Padahal bisa saja yang sedang dipertahankan bukan Tuhan, melainkan **tafsir manusia tentang Tuhan**.
—
# Ketika keyakinan menjadi kebutuhan psikologis
Salah satu gagasan menarik yang muncul dalam buku ini adalah bahwa manusia tidak selalu berpikir secara bebas.
Manusia berpikir di bawah tekanan lingkungan sosial.
Kita lahir dalam keluarga tertentu. Kita tumbuh dalam kebudayaan tertentu. Kita menerima bahasa tertentu. Kita diwariskan agama tertentu. Kita belajar tentang Tuhan dari orang-orang yang lebih dahulu hadir dalam kehidupan kita.
Sebelum mampu bertanya, kita sudah diberi jawaban.
Sebelum mampu memilih, kita sudah memiliki identitas.
Karena itu, ketika seseorang dewasa dan mulai mempertanyakan keyakinannya, yang dipertaruhkan bukan hanya sebuah gagasan. Yang dipertaruhkan bisa berupa keluarga, komunitas, reputasi, bahkan rasa aman psikologis.
Al-Qasimi menangkap persoalan ini dengan tajam.
Dalam salah satu uraian yang dikaitkan dengan buku tersebut, ia menyoroti bagaimana manusia sering menyesuaikan cara berpikirnya dengan kenyataan sosial yang harus ia jalani.
Ini adalah persoalan yang jauh lebih luas daripada agama.
Politik juga demikian.
Ideologi juga demikian.
Nasionalisme juga demikian.
Bahkan kehidupan akademik dan profesional pun demikian.
Manusia sering tidak hanya berpikir untuk menemukan kebenaran.
**Manusia juga berpikir untuk mempertahankan kehidupan yang sudah ia pilih.**
—
# Mengapa manusia “berbohong” tentang Tuhan?
Di sinilah judul buku menjadi sangat penting.
“Berbohong” tidak harus selalu dipahami sebagai kebohongan yang disengaja dan sederhana.
Ia bisa berupa proses psikologis ketika manusia **mengubah kenyataan agar sesuai dengan keyakinannya**.
Ketika kenyataan bertentangan dengan kepercayaan, manusia mempunyai dua pilihan.
Mengubah kepercayaan.
Atau menafsirkan kenyataan sedemikian rupa agar kepercayaan tetap selamat.
Yang kedua jauh lebih mudah.
Jika Tuhan digambarkan sebagai Mahabaik, bagaimana menjelaskan penderitaan?
Jika Tuhan Mahakuasa, bagaimana menjelaskan kejahatan?
Jika Tuhan Mahadil, mengapa manusia dilahirkan dalam keadaan yang sangat tidak setara?
Jika Tuhan Mahabijaksana, mengapa dunia dipenuhi absurditas?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak otomatis membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.
Tetapi pertanyaan tersebut menunjukkan sesuatu yang penting:
**manusia selalu berusaha mendamaikan realitas dengan gambaran tentang Tuhan yang sudah ada di kepalanya.**
Dan dalam proses itu, manusia bisa melakukan berbagai macam pembenaran.
—
# Kritik terhadap “Tuhan” atau kritik terhadap manusia?
Di sinilah pembaca harus berhati-hati.
Buku Al-Qasimi dapat dengan mudah dibaca sebagai buku antiagama atau ateistik. Memang, perjalanan pemikirannya kemudian bergerak sangat jauh dari posisi keagamaan tradisional.
Namun, jika buku ini hanya dibaca sebagai propaganda ateisme, kita justru kehilangan lapisan filosofisnya yang paling menarik.
Pertanyaan Al-Qasimi sebenarnya dapat diarahkan kepada semua manusia beragama:
**Apakah kita benar-benar mengenal Tuhan, atau hanya mengenal interpretasi manusia tentang Tuhan?**
Ini pertanyaan yang tidak harus dijawab dengan menjadi ateis.
Seorang beriman pun dapat mengajukannya.
Bahkan mungkin justru orang beriman perlu mengajukannya.
Sebab iman yang tidak pernah berani diperiksa dapat berubah menjadi dogma.
Dan dogma yang tidak boleh dipertanyakan dapat berubah menjadi kekuasaan.
—
# Tuhan tidak membutuhkan pembela manusia
Ada satu konsekuensi filosofis yang menarik dari gagasan ini.
Jika Tuhan memang Mahakuasa dan Mahasempurna, maka Tuhan tidak membutuhkan manusia untuk membuat-Nya menjadi lebih berkuasa atau lebih sempurna.
Tuhan tidak membutuhkan propaganda manusia.
Tuhan tidak membutuhkan kebohongan manusia.
Tuhan tidak membutuhkan kemarahan manusia.
Tuhan bahkan tidak membutuhkan manusia untuk “menang” dalam perdebatan.
Yang membutuhkan semua itu adalah **manusia**.
Manusia membutuhkan kemenangan argumentasi.
Manusia membutuhkan kelompoknya benar.
Manusia membutuhkan lawannya salah.
Manusia membutuhkan identitasnya tetap utuh.
Maka ketika seseorang mati-matian membela gambaran tentang Tuhan, pertanyaan yang menarik justru bukan:
**“Mengapa Tuhan harus dibela?”**
Tetapi:
**“Apa yang sebenarnya sedang dibela manusia?”**
Tuhan?
Atau ego manusia?
—
# Di sinilah Al-Qasimi menjadi sangat relevan
Kita hidup dalam zaman ketika agama tidak hanya menjadi persoalan iman personal.
Agama telah menjadi identitas sosial, identitas politik, identitas kelompok, bahkan sumber legitimasi kekuasaan.
Karena itu, kritik terhadap agama sering dianggap sebagai serangan terhadap Tuhan.
Padahal sebenarnya ada perbedaan besar antara:
**Tuhan, agama, institusi agama, ulama, tafsir, dan perilaku orang beragama.**
Semuanya tidak otomatis sama.
Mengkritik perilaku seorang pemuka agama bukan berarti mengkritik Tuhan.
Mengkritik institusi agama bukan otomatis berarti menolak spiritualitas.
Mengkritik tafsir bukan berarti menolak wahyu.
Dan mempertanyakan keberadaan Tuhan bukan berarti seseorang telah melakukan kejahatan moral.
Di sinilah pentingnya kebebasan berpikir.
—
# Kekuatan terbesar buku: membuat pembaca tidak nyaman
Buku ini bukan buku yang menawarkan ketenangan.
Ia justru menawarkan kegelisahan.
Dan kegelisahan intelektual kadang jauh lebih berharga daripada ketenangan yang diperoleh melalui jawaban-jawaban yang tidak pernah diperiksa.
Al-Qasimi menempatkan pembaca dalam posisi yang tidak nyaman:
Bagaimana jika sebagian keyakinan kita bukan hasil pencarian?
Bagaimana jika keyakinan itu diwariskan?
Bagaimana jika kita mempertahankannya karena takut kehilangan identitas?
Bagaimana jika kita menyebut sesuatu “kebenaran” karena semua orang di sekitar kita mengatakan hal yang sama?
Dan yang paling mengganggu:
**Bagaimana jika kita sebenarnya tidak sedang mencari kebenaran tentang Tuhan, tetapi sedang mencari Tuhan yang membenarkan diri kita?**
Pertanyaan terakhir inilah yang membuat buku ini tetap relevan.
—
# Tetapi Al-Qasimi juga tidak boleh ditelan mentah-mentah
Sebuah resensi yang baik tidak hanya memuji buku.
Al-Qasimi memiliki kecenderungan polemis yang kuat. Kritiknya tajam, kadang ekstrem, dan sengaja mengguncang pembaca.
Karena itu, pembaca perlu membedakan antara **kritik terhadap cara manusia beragama** dengan **kesimpulan metafisik bahwa Tuhan tidak ada**.
Keduanya bukan hal yang sama.
Kita dapat mengakui bahwa agama bisa disalahgunakan tanpa harus menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada.
Kita dapat mengakui bahwa manusia bisa berdusta atas nama Tuhan tanpa menyimpulkan bahwa semua agama adalah kebohongan.
Kita dapat mengkritik fanatisme tanpa harus menolak iman.
Justru karena itu, buku ini lebih baik dibaca sebagai **provokasi filosofis** daripada sebagai kitab yang memberikan jawaban final.
—
# Sebuah cermin bagi orang beriman
Ada ironi yang menarik.
Buku yang lahir dari perjalanan seorang pemikir menuju penolakan agama justru dapat menjadi bacaan penting bagi orang yang beragama.
Mengapa?
Karena pertanyaan paling berbahaya bagi agama bukan selalu datang dari ateis.
Kadang pertanyaan paling berbahaya datang dari orang beriman sendiri:
**“Apakah iman saya benar-benar milik saya?”**
Bukan sekadar warisan orang tua.
Bukan sekadar identitas masyarakat.
Bukan sekadar karena takut neraka.
Bukan sekadar karena ingin masuk surga.
Bukan karena semua orang di sekitar saya percaya.
Tetapi karena saya telah mempertanyakan, mencari, meragukan, membaca, mengalami, dan kemudian memilih.
Jika setelah semua itu seseorang tetap percaya, maka keyakinannya mungkin justru menjadi lebih matang.
Sebab iman yang pernah melewati keraguan adalah iman yang berbeda dari iman yang tidak pernah berani bertanya.
—
# Membaca Al-Qasimi di zaman sekarang
Lebih dari setengah abad setelah gagasan-gagasan Al-Qasimi beredar, persoalan yang ia sentuh belum selesai.
Bahkan mungkin menjadi semakin rumit.
Hari ini manusia hidup dalam banjir informasi.
Setiap orang bisa menemukan argumen yang mendukung keyakinannya.
Algoritma media sosial dapat membuat seseorang hidup dalam ruang gema: setiap hari ia mendengar pendapat yang sama, membaca orang yang sama, melihat dunia dari perspektif yang sama.
Akibatnya, manusia semakin mudah menganggap:
**“Apa yang saya percaya pasti benar karena semua yang saya lihat membenarkannya.”**
Padahal bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya.
Kita melihat dunia sesuai dengan keyakinan kita.
Bukan keyakinan kita yang dibentuk oleh dunia.
Dalam konteks inilah Al-Qasimi terasa sangat modern.
—
# Pada akhirnya, siapa yang sedang berdusta?
Mungkin pertanyaan terbesar buku ini bukan tentang Tuhan.
Melainkan tentang **manusia**.
Manusia yang ingin Tuhan menjadi seperti yang ia bayangkan.
Manusia yang ingin Tuhan membenarkan kelompoknya.
Manusia yang ingin Tuhan menghukum musuhnya.
Manusia yang ingin Tuhan memenangkan perdebatan.
Manusia yang ingin Tuhan menjadi alasan bagi tindakannya.
Dan akhirnya manusia yang mungkin tanpa sadar membuat Tuhan menurut ukuran dirinya sendiri.
Maka judul buku ini dapat dibaca secara lebih luas:
**“Mereka berdusta agar Tuhan terlihat indah.”**
Tetapi mungkin ada pertanyaan lanjutan yang lebih tajam:
**Indah menurut siapa?**
Jika Tuhan harus dibuat terlihat indah melalui kebohongan manusia, mungkin yang sedang kita lihat bukan Tuhan.
Kita sedang melihat **cermin diri kita sendiri**.
—
## Penutup: keberanian untuk bertanya
Abdullah al-Qasimi adalah tokoh yang sulit ditempatkan dalam kotak sederhana.
Ia pernah menjadi pembela Salafisme, kemudian menjadi salah seorang pengkritik agama yang paling keras di dunia Arab. Perubahan itu membuatnya kontroversial, bahkan hingga akhir hidupnya. Tetapi justru perjalanan itulah yang membuat karya-karyanya layak dibaca sebagai dokumen pergulatan intelektual manusia dengan keyakinannya sendiri.
***They Lie to See God Beautiful*** bukan buku yang harus membuat pembacanya menjadi ateis.
Nilai terbesarnya justru terletak pada kemampuannya memaksa pembaca bertanya:
**Apakah yang selama ini saya bela benar-benar Tuhan, atau hanya gambaran saya tentang Tuhan?**
Dan mungkin pertanyaan paling jujur yang bisa dibawa pulang setelah membaca buku ini adalah:
> **Jika Tuhan memang Mahasempurna, mengapa saya begitu takut membiarkan manusia mempertanyakan-Nya?**
Pertanyaan itu tidak harus berakhir pada penolakan Tuhan.
Ia bisa berakhir pada sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih sulit:
**kerendahan hati intelektual.**
Kesadaran bahwa manusia terbatas.
Bahwa pengetahuan kita tentang Yang Tak Terbatas selalu memiliki batas.
Dan bahwa mungkin, dalam pencarian tentang Tuhan, tugas manusia bukan membuat Tuhan terlihat indah.
Melainkan **berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.**



