Ada sebuah kekeliruan yang kerap terjadi dalam kehidupan beragama: manusia diminta untuk beriman sebelum benar-benar mengerti. Bahkan, dalam keadaan tertentu, mempertanyakan sesuatu dianggap sebagai tanda lemahnya iman. Seolah-olah semakin sedikit seseorang menggunakan akalnya, semakin tinggi pula kualitas keimanannya.
Padahal, bukankah manusia dianugerahi akal justru agar mampu berpikir, memahami, membedakan, dan mengambil keputusan?
Jika Tuhan memberikan manusia akal sehat, bukankah menggunakan akal itu sendiri merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas anugerah-Nya?
Saya berpendapat, **mengerti dahulu, baru diimani.** Sebab, keyakinan yang lahir dari pemahaman akan memiliki fondasi yang lebih kokoh daripada keyakinan yang sekadar diwariskan, diperintahkan, atau diterima tanpa proses berpikir.
Iman semestinya bukan pengganti akal. Iman seharusnya menjadi sesuatu yang tumbuh melalui kesadaran akal manusia.
Jangan Memaksa Akal Mengimani Kesalahan
Mari kita gunakan contoh matematika yang sangat sederhana.
Satu ditambah satu sama dengan dua. Itu merupakan kebenaran yang dapat dipahami, diuji, dan dibuktikan. Tidak diperlukan otoritas siapa pun untuk membuatnya menjadi benar.
Lalu, bagaimana jika seseorang meminta kita meyakini bahwa satu ditambah satu sama dengan lima?
Apakah kita harus mengimaninya hanya karena orang yang menyampaikan itu mengaku memiliki otoritas yang lebih tinggi? Apakah kita harus menyingkirkan akal sehat demi menunjukkan kepatuhan?
Tentu tidak.
Bagi orang yang memahami matematika, satu ditambah satu adalah dua. Dan justru angka dua itulah yang harus diyakini.
Kita tidak sedang merendahkan iman. Kita sedang menempatkan akal pada fungsi yang semestinya: sebagai instrumen untuk mengenali kebenaran.
Sebab, keyakinan yang bertentangan dengan kenyataan dan nalar sehat tidak otomatis menjadi kebenaran hanya karena diberi label keimanan.
### Iman Bukan Larangan untuk Bertanya
Dalam perjalanan manusia mencari kebenaran, pertanyaan bukanlah musuh iman. Sebaliknya, pertanyaan merupakan pintu menuju pemahaman.
Mengapa kita harus percaya? Apa yang membuat sesuatu layak dipercaya? Dari mana sebuah keyakinan berasal? Apakah ia memiliki dasar rasional, bukti, pengalaman, atau sekadar tradisi yang diwariskan turun-temurun?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak seharusnya ditakuti.
Seseorang yang bertanya bukan berarti sedang menolak Tuhan. Seseorang yang menggunakan logika bukan berarti sedang memusuhi agama. Dan seseorang yang belum memahami suatu ajaran tidak seharusnya dipaksa untuk berpura-pura sudah meyakininya.
Justru kejujuran intelektual menuntut manusia untuk tidak mengaku memahami sesuatu yang sebenarnya belum dimengerti.
Kita boleh memulai perjalanan dengan keraguan, tetapi jangan berhenti pada keraguan. Gunakan akal untuk mencari, menimbang, memeriksa, dan memahami. Jika akhirnya menemukan sesuatu yang masuk akal dan diyakini kebenarannya, di situlah keyakinan mendapatkan tempatnya.
Akal Sehat sebagai Bentuk Syukur
Sering kali manusia mengucapkan rasa syukur atas mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, dan tubuh yang bisa bergerak. Namun, bagaimana dengan akal yang memungkinkan manusia memahami semua itu?
Bukankah akal merupakan salah satu anugerah terbesar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya?
Maka, menggunakan akal bukanlah bentuk pembangkangan terhadap Sang Pencipta. Sebaliknya, mengabaikan akal secara sengaja justru dapat menjadi bentuk pengingkaran terhadap potensi yang telah dianugerahkan kepada manusia.
Tentu, akal manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua persoalan kehidupan dapat dijawab hanya dengan rumus matematika atau logika formal. Ada wilayah pengalaman, moralitas, kasih sayang, dan spiritualitas yang membutuhkan perenungan lebih luas.
Namun, keterbatasan akal tidak boleh dijadikan alasan untuk mematikan akal.
Kita boleh mengakui bahwa ada sesuatu yang belum kita pahami. Kita boleh mengakui bahwa pengetahuan manusia belum sempurna. Tetapi pengakuan atas keterbatasan itu berbeda dengan menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada orang lain.
Jangan Menukar Kebenaran dengan Kepatuhan
Dalam kehidupan beragama, terkadang muncul situasi ketika seseorang lebih sibuk mempertahankan keyakinannya daripada mencari tahu apakah keyakinan tersebut benar.
Akibatnya, kebenaran tidak lagi menjadi tujuan. Yang menjadi tujuan adalah pembenaran.
Orang tidak lagi bertanya apakah sebuah pernyataan benar, melainkan siapa yang mengatakannya. Jika disampaikan oleh tokoh yang dihormati, langsung dipercaya. Jika disampaikan oleh orang yang berbeda pandangan, langsung ditolak.
Padahal, kebenaran tidak semestinya ditentukan oleh popularitas, jabatan, gelar keagamaan, atau banyaknya orang yang mempercayainya.
Satu ditambah satu tetap dua, sekalipun seluruh dunia sepakat menyebutnya lima.
Di sinilah pentingnya keberanian intelektual: kemampuan untuk membedakan antara menghormati seseorang dan menerima seluruh pendapatnya; antara menghargai tradisi dan membenarkan semua warisannya; serta antara beriman dan berhenti berpikir.
Pada akhirnya, iman yang sehat tidak perlu takut kepada pertanyaan. Kebenaran yang kokoh tidak akan runtuh hanya karena diperiksa dengan akal sehat.
Mengerti dahulu, baru diimani. Bukan mengimani dahulu, kemudian memaksa akal untuk mengerti.
Sebab, jika Tuhan memang menganugerahkan akal kepada manusia, maka menggunakan akal untuk mencari kebenaran semestinya merupakan bagian dari cara manusia mensyukuri anugerah tersebut.
Jangan sampai kita begitu sibuk membuktikan kesetiaan kepada keyakinan, tetapi justru mengkhianati akal sehat yang telah diberikan kepada kita.
Sebab, bagi mereka yang memahami, satu ditambah satu adalah dua. Dan itulah yang harus diyakini, bukan lima.
*Ali Syarief*


