Ada sesuatu yang menarik sekaligus paradoks dalam cara manusia membayangkan surga. Ketika agama berbicara tentang kehidupan setelah kematian, tentang kebahagiaan abadi yang konon melampaui segala pengalaman manusia, penjelasannya justru menggunakan sesuatu yang sangat akrab dengan kehidupan duniawi.
Surga digambarkan memiliki sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, taman-taman yang rindang, buah-buahan yang ranum, anggur yang lezat, istana yang megah, tempat beristirahat yang nyaman, serta pasangan-pasangan yang membahagiakan. Bahkan, berbagai kenikmatan fisik yang dikenal manusia di dunia menjadi bagian dari narasi tentang kebahagiaan akhirat.
Di sinilah paradoks itu muncul: **Jika surga adalah kehidupan yang sama sekali berbeda dari dunia, mengapa untuk menjelaskannya manusia harus meminjam seluruh perbendaharaan kenikmatan dunia?**
Bukankah surga seharusnya menghadirkan sesuatu yang belum pernah dikenal, belum pernah dibayangkan, bahkan belum pernah masuk ke dalam pengalaman manusia?
Surga dalam bahasa dunia
Al-Qur’an, misalnya, menggambarkan surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Ada sungai air yang tidak berubah rasa, sungai susu yang tidak berubah rasanya, sungai khamar yang lezat bagi peminumnya, dan sungai madu yang disaring. Ada pula buah-buahan yang tersedia, apa pun yang diinginkan penghuninya.
Gambaran semacam ini tentu mudah dipahami oleh manusia yang hidup di bumi. Air adalah kebutuhan, susu adalah sumber kenikmatan, madu adalah simbol kelezatan, buah-buahan adalah lambang kemakmuran, sedangkan taman dan sungai adalah gambaran tentang kehidupan yang damai.
Namun, justru karena begitu akrab, gambaran itu menimbulkan pertanyaan filosofis.
Apakah manusia sedang diberi pengetahuan tentang surga, atau sebenarnya sedang diberi gambaran tentang dunia ideal menurut imajinasi manusia?
Sebab, orang yang hidup di gurun tentu akan membayangkan air yang melimpah sebagai kemewahan luar biasa. Orang yang hidup dalam kelaparan akan membayangkan makanan tanpa batas sebagai kebahagiaan. Orang yang hidup dalam kemiskinan akan membayangkan istana, pakaian indah, dan pelayanan sebagai puncak kenikmatan.
Dengan kata lain, imajinasi tentang surga sangat mungkin dibentuk oleh pengalaman manusia tentang kekurangan di dunia.
Apa yang sulit diperoleh di bumi, dibayangkan tersedia berlimpah di akhirat. Apa yang menyakitkan di dunia, dibayangkan tidak lagi ada di surga. Apa yang menjadi sumber kebahagiaan manusia, diangkat menjadi simbol kebahagiaan abadi.
Surga seolah menjadi dunia yang telah disempurnakan: dunia tanpa kelaparan, tanpa kemiskinan, tanpa penyakit, tanpa kesedihan, dan tanpa kematian.
### Paradoks kenikmatan yang tidak pernah dikenal
Masalahnya bukan sekadar penggunaan simbol duniawi untuk menjelaskan sesuatu yang transenden. Bahasa manusia memang memiliki keterbatasan. Kita tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang berada di luar pengalaman manusia tanpa menggunakan perangkat bahasa yang kita kenal.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar.
Jika kenikmatan surga benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia, mengapa uraian tentangnya begitu sering bertumpu pada hal-hal yang justru dikenal manusia?
Mengapa kebahagiaan abadi masih harus dijelaskan melalui makanan, minuman, taman, sungai, perhiasan, tempat tinggal, dan hubungan seksual?
Apakah manusia tidak memiliki imajinasi lain untuk menggambarkan kebahagiaan yang lebih tinggi daripada pemenuhan kebutuhan biologis dan material?
Bukankah kebahagiaan intelektual, kebebasan berpikir, kedamaian batin, pengetahuan tanpa batas, atau perjumpaan dengan kebenaran merupakan bentuk kenikmatan yang jauh lebih mendalam?
Seorang filsuf mungkin menemukan kebahagiaan dalam memahami hakikat kehidupan. Seorang ilmuwan mungkin menemukan kenikmatan dalam menemukan rahasia alam semesta. Seorang seniman mungkin mengalami kebahagiaan ketika menyaksikan keindahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Lalu, mengapa gambaran surga dalam imajinasi keagamaan begitu sering kembali kepada pemenuhan hasrat-hasrat yang sangat duniawi?
Apakah surga merupakan proyeksi keinginan manusia?
Ada kemungkinan bahwa gambaran surga merupakan bentuk proyeksi psikologis manusia tentang kehidupan ideal.
Manusia yang takut mati membayangkan kehidupan tanpa kematian. Manusia yang pernah menderita membayangkan kebahagiaan tanpa penderitaan. Manusia yang kehilangan orang-orang tercinta berharap bertemu kembali dengan mereka. Manusia yang hidup dalam keterbatasan membayangkan kelimpahan tanpa batas.
Dalam perspektif ini, surga bukan sekadar konsep teologis, melainkan juga cermin dari kebutuhan psikologis manusia.
Ia memperlihatkan apa yang paling diinginkan manusia, apa yang paling ditakutinya, dan apa yang paling dirindukannya.
Namun, persoalannya menjadi menarik ketika gambaran tersebut diklaim sebagai pengetahuan yang berasal dari Tuhan. Jika Tuhan menciptakan manusia beserta seluruh alam semesta, tentu Tuhan tidak dibatasi oleh imajinasi manusia. Tuhan semestinya mampu menjelaskan suatu bentuk kebahagiaan yang sama sekali tidak bergantung pada pengalaman biologis manusia di bumi.
Di sinilah pertanyaan kritis layak diajukan: apakah gambaran surga merupakan deskripsi harfiah tentang kehidupan akhirat, ataukah bahasa simbolik yang digunakan untuk mendekatkan sesuatu yang tidak terjangkau akal manusia?
Keduanya merupakan kemungkinan yang berbeda dan membawa konsekuensi pemahaman yang berbeda pula.
Ketika yang abadi masih membutuhkan kenikmatan fisik
Ada satu paradoks lagi yang tidak kalah menarik.
Manusia hidup di dunia dengan tubuh biologis. Ia membutuhkan makanan, minuman, tidur, hubungan sosial, dan berbagai pemenuhan kebutuhan fisik. Semua itu merupakan konsekuensi dari keberadaan manusia sebagai makhluk biologis.
Tetapi jika kematian berarti berakhirnya kehidupan biologis, lalu bagaimana manusia harus memahami kenikmatan fisik di akhirat?
Apakah manusia masih memiliki tubuh seperti sekarang? Apakah ia masih membutuhkan makanan dan minuman? Apakah rasa lapar, haus, dan hasrat seksual tetap ada? Jika tidak, bagaimana kenikmatan makanan, minuman, dan hubungan seksual dapat dipahami?
Jika iya, apa yang sebenarnya berubah dari kehidupan dunia?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan penolakan terhadap keimanan. Justru pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu untuk memahami lebih jauh hubungan antara tubuh, kesadaran, kehidupan, dan keabadian.
Sebab, jika surga hanya dipahami sebagai tempat untuk melanjutkan seluruh kenikmatan duniawi tanpa batas waktu, kita patut bertanya: apakah itu benar-benar bentuk kebahagiaan tertinggi, atau sekadar perpanjangan dari keinginan manusia yang tidak pernah selesai?
Mungkin yang terbatas bukan surga, melainkan bahasa kita
Barangkali ada jawaban yang lebih bijaksana: surga memang tidak dapat dijelaskan secara utuh melalui bahasa duniawi. Gambaran sungai, buah-buahan, taman, dan segala kenikmatannya hanyalah pendekatan agar manusia memperoleh gambaran tentang sesuatu yang belum pernah dialaminya.
Dalam tradisi Islam sendiri terdapat gagasan bahwa kenikmatan surga tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau terlintas dalam hati manusia. Jika demikian, semua gambaran yang selama ini kita kenal sesungguhnya belum menggambarkan hakikat surga.
Tetapi jawaban itu sekaligus menyisakan persoalan epistemologis: jika hakikatnya tidak dapat diketahui, sejauh mana manusia boleh mengklaim telah mengetahui bentuk kehidupan di dalamnya?
Mungkin kita memang perlu membedakan antara keimanan terhadap kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian dan kepastian manusia tentang bagaimana kehidupan itu berlangsung.
Sebab, percaya bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia tidak otomatis berarti mengetahui secara persis seperti apa sesuatu itu.
**Pada akhirnya, paradoks surga bukan semata-mata terletak pada sungai, anggur, buah-buahan, atau taman-tamannya. Paradoksnya terletak pada kenyataan bahwa manusia diajak membayangkan kebahagiaan yang konon melampaui segala pengalaman duniawi, tetapi untuk membayangkannya manusia justru harus menggunakan seluruh pengalaman duniawinya.**
Mungkin surga memang jauh lebih agung daripada yang dapat dibayangkan manusia. Tetapi mungkin juga, ketika manusia berbicara tentang surga, tanpa disadari ia sedang menceritakan kerinduannya sendiri: kehidupan yang lebih baik daripada dunia yang sedang ditempatinya.
Dan pertanyaan yang tersisa adalah: **Apakah manusia sedang membayangkan surga berdasarkan kehendak Tuhan, atau sedang membayangkan Tuhan berdasarkan apa yang paling diinginkan manusia?**


