Ketika rasa bersalah menjadi instrumen kekuasaan, dan keselamatan menjadi komoditas keimanan.
Ada sebuah kalimat yang terdengar kasar, bahkan mungkin dianggap menghina agama. Namun, di balik ketajamannya, tersimpan pertanyaan filosofis yang layak direnungkan:
“Sin is an imaginary disease invented by a con artist so they could sell you an imaginary cure.”
Dosa adalah penyakit imajiner yang diciptakan oleh seorang penipu agar ia bisa menjual obat yang juga imajiner.
Kalimat ini bukan sekadar satire terhadap agama. Ia adalah gugatan terhadap sebuah mekanisme yang mungkin telah berlangsung berabad-abad: menciptakan ketakutan, menanamkan rasa bersalah, lalu menawarkan keselamatan sebagai satu-satunya jalan keluar.
Bayangkan seseorang datang kepadamu, mengatakan bahwa tubuhmu mengidap penyakit yang tidak pernah kamu ketahui. Ia kemudian meyakinkanmu bahwa penyakit itu sangat berbahaya, bahkan mengancam kehidupanmu setelah kematian. Setelah rasa takut tumbuh, ia menawarkan obat. Tentu saja, obat itu hanya bisa diperoleh melalui dirinya.
Bukankah mekanisme semacam itu menyerupai sebuah bisnis yang sempurna?
Pertanyaannya: apakah agama sedang membebaskan manusia dari ketakutan, atau justru sebagian institusi keagamaan membangun otoritasnya dengan memelihara ketakutan manusia?
Ketika Tuhan Menjadi Alasan untuk Takut
Ada satire lain yang tidak kalah tajam:
“God loves you so much that He created hell just in case you don’t love Him back.”
Tuhan begitu mencintaimu sehingga Dia menciptakan neraka, berjaga-jaga kalau-kalau kamu tidak membalas cinta-Nya.
Kalimat ini mengandung paradoks teologis yang menarik.
Jika Tuhan Mahapengasih, mengapa cinta harus disertai ancaman? Jika Tuhan Mahakuasa, mengapa Dia membutuhkan kepatuhan manusia? Dan jika Tuhan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, mengapa ketidaktaatan manusia harus menjadi persoalan yang berujung pada hukuman abadi?
Cinta, dalam pengertian manusia yang paling luhur, tidak tumbuh dari ancaman. Cinta tumbuh dari kesadaran, kebebasan, dan ketulusan.
Seorang ayah yang mencintai anaknya tentu berharap anaknya menyayangi dirinya. Tetapi apakah seorang ayah yang baik akan membakar anaknya hanya karena sang anak tidak membalas cintanya?
Analogi ini tentu tidak sepenuhnya mewakili konsep ketuhanan. Namun, ia cukup untuk mengajukan pertanyaan: apakah manusia memahami cinta Tuhan melalui pengalaman cinta yang luhur, atau justru memproyeksikan watak kekuasaan manusia ke dalam gambaran tentang Tuhan?
Jangan-jangan, sebagian gambaran kita tentang Tuhan lebih banyak menceritakan siapa manusia daripada siapa Tuhan.
Dosa: Antara Realitas Moral dan Konstruksi Kekuasaan
Namun, kita perlu membedakan dua hal.
Pertama, dosa sebagai persoalan moral. Kedua, dosa sebagai instrumen kekuasaan keagamaan.
Menyakiti orang lain, merampas hak sesama, menipu, membunuh, mengkhianati kepercayaan, dan menindas manusia bukanlah persoalan imajiner. Semua itu memiliki akibat nyata. Ada manusia yang terluka, kehilangan martabat, bahkan kehilangan kehidupannya.
Dalam pengertian ini, moralitas tidak membutuhkan ancaman neraka agar manusia memahami bahwa kejahatan adalah sesuatu yang harus dihindari.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika dosa diperluas menjadi seperangkat ketakutan yang mengatur hampir seluruh kehidupan manusia: cara berpakaian, cara berpikir, cara bertanya, cara mencintai, bahkan keberanian untuk meragukan tafsir keagamaan.
Di sinilah kritik terhadap institusi keagamaan menjadi relevan.
Ketika pertanyaan dianggap pembangkangan, keraguan dianggap kesesatan, dan perbedaan tafsir dianggap ancaman, agama berisiko kehilangan fungsi pembebasannya.
Manusia tidak lagi diajak memahami, melainkan diperintahkan untuk menerima. Tidak lagi diajak berpikir, melainkan dibiasakan untuk takut.
Padahal, bukankah akal juga merupakan bagian dari anugerah Tuhan?
Keselamatan: Apakah Manusia Harus Takut untuk Menjadi Baik?
Ada persoalan lain yang lebih mendasar.
Mengapa manusia harus berbuat baik?
Apakah karena takut masuk neraka? Apakah karena mengharapkan surga? Ataukah karena ia memahami bahwa kehidupan bersama hanya mungkin berlangsung apabila manusia saling menghormati, menjaga, dan tidak saling menyakiti?
Jika seseorang tidak mencuri karena takut neraka, apakah ia sungguh memahami keadilan?
Jika seseorang menolong orang miskin hanya karena mengharapkan pahala, apakah ia telah memahami penderitaan sesamanya?
Tentu, motivasi spiritual dan harapan akan ganjaran tidak serta-merta menghilangkan nilai sebuah perbuatan baik. Tetapi moralitas yang matang semestinya melampaui transaksi pahala dan dosa.
Berbuat baik bukan sekadar investasi untuk kehidupan setelah kematian. Ia adalah pengakuan bahwa manusia lain memiliki martabat yang sama dengan dirinya.
Kebaikan seharusnya lahir dari kesadaran, bukan semata-mata dari kecemasan.
Sebab, manusia yang hanya berbuat baik karena takut dihukum mungkin sedang belajar menghindari hukuman, bukan sedang belajar mencintai kebaikan.
Mengerti Dahulu, Baru Diimani
Agama seharusnya tidak takut kepada pertanyaan.
Jika sebuah keyakinan benar, mengapa ia harus alergi terhadap akal? Jika Tuhan adalah sumber kebenaran, mengapa pencarian kebenaran harus dianggap sebagai ancaman terhadap keimanan?
Iman yang dewasa tidak semestinya rapuh hanya karena seseorang bertanya.
Dalam tradisi pemikiran Islam sendiri, akal memiliki tempat penting. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan, merenungkan, dan menggunakan penalarannya. Ada seruan afala ta’qilun (apakah kamu tidak menggunakan akal?) dan afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir?).
Maka, mempertanyakan tafsir manusia tentang Tuhan tidak identik dengan menolak Tuhan.
Kita perlu membedakan Tuhan dari institusi yang mengatasnamakan Tuhan. Kita juga perlu membedakan wahyu dari penafsiran manusia atas wahyu. Sebab, tidak semua yang dikatakan atas nama Tuhan otomatis merupakan kehendak Tuhan.
Barangkali yang perlu disembuhkan bukanlah manusia dari penyakit bernama dosa, melainkan cara sebagian manusia menggunakan konsep dosa untuk menguasai manusia lainnya.
Dan barangkali keselamatan yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah keberanian untuk keluar dari kebodohan, ketidakadilan, kebencian, dan keserakahan.
Tuhan Tidak Membutuhkan Ketakutan Manusia
Pada akhirnya, saya kira ada satu pertanyaan yang patut kita bawa pulang:
Jika Tuhan benar-benar Mahabesar, apakah Dia membutuhkan manusia untuk terus-menerus memuji kebesaran-Nya? Jika Tuhan Mahakaya, apakah Dia membutuhkan persembahan manusia? Jika Tuhan Mahapengasih, apakah kasih-Nya harus selalu diperkenalkan melalui ancaman?
Mungkin kita terlalu sibuk membayangkan bagaimana manusia harus menyenangkan Tuhan, sampai lupa bertanya bagaimana seharusnya manusia menyenangkan sesama ciptaan-Nya.
Kita rajin menghitung dosa, tetapi sering lupa menghitung air mata orang yang kita sakiti. Kita sibuk membicarakan surga, tetapi abai membangun kehidupan yang lebih manusiawi di bumi.
Kita takut kepada neraka, tetapi tidak selalu takut menjadi penyebab penderitaan orang lain.
Padahal, jika agama hendak menjadi jalan menuju kemuliaan manusia, ukurannya tidak cukup hanya pada seberapa sering seseorang beribadah, tetapi juga pada seberapa besar kehadirannya membawa kebaikan bagi kehidupan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa dosa tidak ada, surga tidak ada, atau neraka tidak ada. Itu adalah persoalan teologis yang memiliki sejarah perdebatan panjang.
Yang sedang dipersoalkan adalah ketika rasa takut menggantikan kesadaran, ketika kepatuhan menggantikan pemahaman, dan ketika manusia menjadikan Tuhan sebagai legitimasi untuk menguasai pikiran manusia lainnya.
Sebab, iman yang lahir dari ketakutan mungkin menghasilkan kepatuhan, tetapi belum tentu melahirkan kebijaksanaan.
Dan mungkin, di situlah kita perlu memulai kembali perjalanan spiritual: bukan dengan berhenti percaya, melainkan dengan keberanian untuk memahami apa yang kita percayai.
Sebab, mengerti dahulu bukan berarti menolak iman.
Justru, iman yang tidak takut kepada akal mungkin merupakan bentuk keimanan yang paling layak diperjuangkan.


