“The art of being together begins with the wisdom of being alone.”
Ada satu kenyataan sederhana dalam kehidupan manusia yang sering kita lupakan: kita datang ke dunia ini sendiri, dan kelak kita pun akan meninggalkannya sendiri.
Di antara dua kesendirian itu, kita menghabiskan sebagian besar hidup dengan orang lain. Kita membangun hubungan, menjalin persahabatan, mencintai seseorang, membentuk keluarga, mencari teman seperjalanan, dan berharap ada orang yang selalu berada di sisi kita. Seolah-olah kebersamaan adalah jawaban bagi seluruh kegelisahan manusia.
Padahal, tidak selalu demikian.
Kebersamaan bisa menjadi sesuatu yang indah, tetapi juga bisa menjadi sumber kerumitan. Ada kalanya kehadiran orang lain justru membuat hidup terasa lebih bising. Terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak harapan, terlalu banyak keinginan untuk dimengerti, bahkan terlalu banyak campur tangan terhadap ruang pribadi seseorang.
Kadang-kadang, yang melelahkan bukanlah kehidupan itu sendiri, melainkan hubungan yang tidak tahu batas.
Karena itu, seseorang perlu belajar satu keterampilan penting dalam hidup: seni menikmati kesendirian.
Sendiri bukan berarti kesepian. Kesepian adalah keadaan ketika seseorang merasa kehilangan kehadiran orang lain. Sedangkan kesendirian bisa menjadi pilihan sadar seseorang untuk menikmati ruang batinnya sendiri.
Orang yang tidak mampu berdamai dengan dirinya sendiri biasanya akan terus mencari orang lain untuk mengisi kekosongan. Ia membutuhkan perhatian agar merasa berharga, membutuhkan pengakuan agar merasa berarti, dan membutuhkan kehadiran seseorang agar tidak merasa kehilangan arah.
Akibatnya, hubungan berubah menjadi ketergantungan. Cinta berubah menjadi tuntutan. Persahabatan berubah menjadi kewajiban. Kebersamaan yang seharusnya membebaskan justru menjadi semacam penjara yang dibangun oleh harapan masing-masing.
Sebaliknya, orang yang mampu menikmati kesendirian tidak selalu membutuhkan seseorang untuk membuat hidupnya terasa lengkap. Ia bisa menikmati secangkir kopi tanpa harus ditemani percakapan. Bisa berjalan tanpa harus selalu menunggu seseorang. Bisa membaca, berpikir, menulis, atau sekadar duduk memandang hujan tanpa merasa ada sesuatu yang kurang.
Ia tidak membenci kebersamaan. Ia hanya tidak takut pada kesendirian.
Di sinilah letak kedewasaan emosional: mampu bersama tanpa kehilangan diri sendiri, dan mampu berpisah tanpa merasa seluruh kehidupan ikut runtuh.
Sebab, tidak semua orang yang datang harus menetap. Tidak semua yang pernah dekat harus terus berada di samping kita. Ada orang yang hadir hanya untuk satu bab dalam kehidupan, kemudian pergi ketika bab itu selesai.
Dan itu tidak selalu merupakan sebuah tragedi.
Barangkali kita perlu mengubah cara memandang hubungan antarmanusia. Kebersamaan seharusnya bukan tentang dua orang yang saling menggantungkan seluruh kebahagiaannya, melainkan dua pribadi yang sama-sama utuh, kemudian memilih untuk berbagi perjalanan.
Bukan karena takut sendirian, melainkan karena memang ingin berjalan bersama.
Pada akhirnya, hidup mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki perjalanan batin yang tidak sepenuhnya bisa dibagikan kepada siapa pun. Ada pikiran yang hanya bisa kita pahami sendiri, ada luka yang harus kita sembuhkan sendiri, dan ada keputusan yang tidak mungkin diwakilkan oleh orang lain.
Kita boleh mencintai banyak orang, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan kita sendiri.
Sebab, kemampuan untuk hidup bersama orang lain adalah sebuah keterampilan. Tetapi kemampuan untuk hidup dengan diri sendiri adalah sebuah kebijaksanaan.
Kita datang sendiri. Kita akan pergi sendiri.
Maka, belajarlah menikmati perjalanan di antara keduanya. Jangan terlalu takut kehilangan seseorang, sampai-sampai kita kehilangan diri sendiri.
Dan jangan menjadikan kehadiran orang lain sebagai syarat untuk merasa bahagia.
Being alone is not the absence of love. It is the presence of inner peace.
Sendiri bukan berarti tidak memiliki siapa-siapa. Terkadang, sendiri adalah saat ketika kita akhirnya menemukan diri kita sendiri.


