Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

TUHAN SELALU MENERIMA PUJIAN, TETAPI JARANG DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN

munira by munira
November 7, 2026
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah Renungan tentang Tuhan, Kejahatan, dan Cara Manusia Membela Keyakinannya

Ada sesuatu yang menarik sekaligus menggelitik dalam cara manusia berbicara tentang Tuhan.

Ketika segala sesuatu berjalan baik, manusia segera mengangkat wajah ke langit. Ketika seorang anak lahir dengan selamat, ketika penyakit sembuh, ketika rezeki datang, ketika usaha berhasil, atau ketika seseorang memenangkan pertarungan hidup, kalimat yang terdengar hampir selalu sama: “Semua karena kehendak Tuhan. Tuhan Maha Baik.”

Tuhan mendapatkan seluruh pujian.

Namun, ketika keadaan berbalik, ketika penyakit datang, ketika anak-anak meninggal, ketika bencana menghancurkan rumah, ketika orang-orang tak berdosa menjadi korban perang, penjelasannya mendadak berubah.

Ada yang mengatakan itu ulah setan. Ada yang menyebutnya ujian Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah mampu memahami rencana-Nya.

Aneh, bukan?

Ketika hidup memberikan bunga, Tuhan yang menanamnya. Ketika hidup memberikan duri, setan yang dituduh menaburkannya. Kalau bukan setan, katanya Tuhan sedang menguji kesabaran manusia.

Lalu, di mana sebenarnya letak tanggung jawab?

Tentu saja, manusia boleh memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber segala kebaikan. Tetapi pertanyaan filosofisnya tidak sesederhana itu: jika Tuhan Mahakuasa, Mahatahu, dan Maha Pengasih, bagaimana kita menjelaskan penderitaan yang terus berlangsung di dunia?

Mengapa bayi harus menderita? Mengapa anak-anak menjadi korban kelaparan? Mengapa orang baik terkadang menjalani hidup yang begitu menyakitkan, sementara orang yang melakukan kejahatan justru menikmati kemewahan?

Apakah semuanya ujian?

Jika demikian, siapa yang sedang diuji, dan mengapa penderitaan harus menjadi alat pengujian?

### Kisah Nabi Nuh dan Setan yang Tidak Tenggelam

Ada satu kisah yang menarik untuk direnungkan, yakni kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh.

Dalam narasi kitab Kejadian, manusia digambarkan telah dipenuhi kejahatan. Tuhan kemudian mendatangkan air bah yang memusnahkan hampir seluruh kehidupan manusia, kecuali Nuh dan mereka yang berada di dalam bahtera.

Sebuah hukuman yang luar biasa dahsyat.

Namun, ada pertanyaan yang mungkin terdengar nakal, tetapi sesungguhnya filosofis.

Mengapa manusia dimusnahkan, sementara setan tidak ikut tenggelam?

Bukankah dalam tradisi teologi, setan justru diposisikan sebagai penggoda manusia, sumber godaan dan simbol pembangkangan terhadap Tuhan?

Jika manusia begitu jahat karena godaan setan, mengapa manusia yang harus menanggung kehancuran, sementara sang penggoda tetap menjadi bagian dari cerita besar tentang kejahatan?

Tentu, teologi memiliki penjelasannya sendiri. Dalam tradisi Kristen, misalnya, Setan bukan manusia biasa yang menjadi bagian dari populasi bumi pada zaman Nuh. Ia merupakan figur spiritual dalam narasi yang berbeda.

Namun, pertanyaan filosofisnya tetap menarik: mengapa hukuman begitu besar dijatuhkan kepada manusia, sementara sumber godaan tidak menjadi bagian dari hukuman yang sama?

Ini bukan sekadar persoalan banjir. Ini persoalan keadilan, tanggung jawab, dan konsistensi moral.

Tuhan, Setan, dan Seni Memindahkan Kesalahan

Manusia memiliki kecenderungan yang luar biasa dalam mempertahankan keyakinannya.

Ketika sesuatu yang baik terjadi, keyakinan kepada Tuhan memperoleh pembenaran. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, keyakinan itu tidak pernah dianggap keliru. Penjelasannya saja yang diubah.

Keberhasilan adalah berkat Tuhan.

Kegagalan adalah ujian Tuhan.

Kebaikan adalah petunjuk Tuhan.

Kejahatan adalah godaan setan.

Doa yang terkabul merupakan bukti kasih sayang Tuhan. Doa yang tidak terkabul merupakan bukti bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik.

Dengan cara berpikir seperti ini, apa pun yang terjadi selalu bisa dijadikan pembenaran bagi keyakinan yang sama.

Persoalannya bukan apakah Tuhan ada atau tidak. Persoalannya adalah apakah manusia masih menggunakan akalnya secara jujur ketika berbicara tentang Tuhan.

Sebab, jangan sampai Tuhan hanya dijadikan tempat menyimpan segala pujian, sementara manusia mencari kambing hitam ketika berhadapan dengan penderitaan dan kesalahan.

### Jangan Jadikan Tuhan Alibi

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: tanggung jawab manusia.

Seorang pejabat melakukan korupsi, lalu masyarakat diminta bersabar karena semua sudah menjadi takdir.

Seseorang menyakiti orang lain, kemudian berkata bahwa manusia memang tidak luput dari godaan setan.

Sebuah pemerintahan gagal melindungi rakyat, lalu penderitaan rakyat dibungkus dengan kalimat bahwa semua adalah ujian kehidupan.

Di sinilah agama berisiko kehilangan fungsi etiknya.

Agama seharusnya membuat manusia lebih bertanggung jawab, bukan memberinya alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Kalau seseorang berbuat jahat, jangan buru-buru menyalahkan setan. Periksa dahulu hati nuraninya. Kalau sebuah negara gagal, jangan menyalahkan takdir. Periksa kebijakan dan orang-orang yang menjalankannya.

Manusia memiliki kehendak, akal, dan kemampuan memilih. Karena itu, manusia juga harus bersedia menanggung konsekuensi dari pilihannya.

### Bertanya Bukan Berarti Tidak Percaya

Barangkali, masalah terbesar dalam kehidupan beragama bukanlah terlalu banyak pertanyaan, melainkan terlalu sedikit keberanian untuk bertanya.

Kita sering menganggap pertanyaan sebagai ancaman terhadap iman. Padahal, pertanyaan bisa menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.

Mempertanyakan penjelasan manusia tentang Tuhan tidak otomatis berarti menolak Tuhan.

Bahkan, seseorang bisa saja tetap percaya kepada Tuhan, tetapi menolak penjelasan teologis yang dianggap tidak masuk akal, tidak konsisten, atau tidak adil.

Iman yang dewasa semestinya tidak takut berjumpa dengan akal sehat.

Sebab, jika Tuhan menciptakan manusia dengan akal, mengapa penggunaan akal justru harus dicurigai ketika manusia sedang berusaha memahami-Nya?

Pada akhirnya, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana:

**Jika Tuhan selalu menerima pujian atas segala sesuatu yang baik, mengapa manusia begitu cepat membebaskan-Nya dari pertanyaan ketika berhadapan dengan segala sesuatu yang buruk?**

Pertanyaan ini tidak harus berakhir dengan penolakan terhadap Tuhan. Ia justru bisa menjadi undangan untuk membedakan antara Tuhan dan tafsir manusia tentang Tuhan.

Sebab, mungkin yang perlu kita koreksi bukan Tuhan, melainkan cara manusia menggunakan nama Tuhan.

Jangan sampai Tuhan menjadi tempat manusia menitipkan seluruh keberhasilan, sekaligus tempat manusia menyembunyikan segala kegagalannya.

Dan jangan sampai atas nama membela Tuhan, manusia justru berhenti menggunakan akalnya.

**Sebab, mempertahankan keyakinan tanpa keberanian untuk bertanya mungkin hanya akan melahirkan kepatuhan. Tetapi keyakinan yang berani berdialog dengan akal dapat melahirkan kebijaksanaan.**

ADVERTISEMENT
Previous Post

SENI MENJADI SENDIRI: KITA DATANG SENDIRI, KITA PUN PULANG SENDIRI

munira

munira

Related Posts

SENI MENJADI SENDIRI: KITA DATANG SENDIRI, KITA PUN PULANG SENDIRI

by munira
November 6, 2026
0

“The art of being together begins with the wisdom of being alone.” Ada satu kenyataan sederhana dalam kehidupan manusia yang...

Apakah Kita Sedang Mengimani Pesan Tuhan, atau Mengimani Pemahaman Manusia tentang Pesan Tuhan?

by munira
November 2, 2026
0

*Oleh: Ali Syarief* Ada sebuah pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka dalam kehidupan beragama: ketika seseorang mengatakan dirinya beriman kepada...

Pikiran adalah magnet

by munira
November 2, 2026
0

Pikiran adalah magnet. Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi cara kita memandang dunia, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan. Ketika...

DOSA: PENYAKIT YANG DICIPTAKAN, LALU DIJUAL OBATNYA ATAS NAMA TUHAN

by munira
November 2, 2026
0

Ketika rasa bersalah menjadi instrumen kekuasaan, dan keselamatan menjadi komoditas keimanan. Ada sebuah kalimat yang terdengar kasar, bahkan mungkin dianggap...

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • TUHAN SELALU MENERIMA PUJIAN, TETAPI JARANG DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN
  • SENI MENJADI SENDIRI: KITA DATANG SENDIRI, KITA PUN PULANG SENDIRI
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira