Sebuah Renungan tentang Tuhan, Kejahatan, dan Cara Manusia Membela Keyakinannya
Ada sesuatu yang menarik sekaligus menggelitik dalam cara manusia berbicara tentang Tuhan.
Ketika segala sesuatu berjalan baik, manusia segera mengangkat wajah ke langit. Ketika seorang anak lahir dengan selamat, ketika penyakit sembuh, ketika rezeki datang, ketika usaha berhasil, atau ketika seseorang memenangkan pertarungan hidup, kalimat yang terdengar hampir selalu sama: “Semua karena kehendak Tuhan. Tuhan Maha Baik.”
Tuhan mendapatkan seluruh pujian.
Namun, ketika keadaan berbalik, ketika penyakit datang, ketika anak-anak meninggal, ketika bencana menghancurkan rumah, ketika orang-orang tak berdosa menjadi korban perang, penjelasannya mendadak berubah.
Ada yang mengatakan itu ulah setan. Ada yang menyebutnya ujian Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah mampu memahami rencana-Nya.
Aneh, bukan?
Ketika hidup memberikan bunga, Tuhan yang menanamnya. Ketika hidup memberikan duri, setan yang dituduh menaburkannya. Kalau bukan setan, katanya Tuhan sedang menguji kesabaran manusia.
Lalu, di mana sebenarnya letak tanggung jawab?
Tentu saja, manusia boleh memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber segala kebaikan. Tetapi pertanyaan filosofisnya tidak sesederhana itu: jika Tuhan Mahakuasa, Mahatahu, dan Maha Pengasih, bagaimana kita menjelaskan penderitaan yang terus berlangsung di dunia?
Mengapa bayi harus menderita? Mengapa anak-anak menjadi korban kelaparan? Mengapa orang baik terkadang menjalani hidup yang begitu menyakitkan, sementara orang yang melakukan kejahatan justru menikmati kemewahan?
Apakah semuanya ujian?
Jika demikian, siapa yang sedang diuji, dan mengapa penderitaan harus menjadi alat pengujian?
### Kisah Nabi Nuh dan Setan yang Tidak Tenggelam
Ada satu kisah yang menarik untuk direnungkan, yakni kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh.
Dalam narasi kitab Kejadian, manusia digambarkan telah dipenuhi kejahatan. Tuhan kemudian mendatangkan air bah yang memusnahkan hampir seluruh kehidupan manusia, kecuali Nuh dan mereka yang berada di dalam bahtera.
Sebuah hukuman yang luar biasa dahsyat.
Namun, ada pertanyaan yang mungkin terdengar nakal, tetapi sesungguhnya filosofis.
Mengapa manusia dimusnahkan, sementara setan tidak ikut tenggelam?
Bukankah dalam tradisi teologi, setan justru diposisikan sebagai penggoda manusia, sumber godaan dan simbol pembangkangan terhadap Tuhan?
Jika manusia begitu jahat karena godaan setan, mengapa manusia yang harus menanggung kehancuran, sementara sang penggoda tetap menjadi bagian dari cerita besar tentang kejahatan?
Tentu, teologi memiliki penjelasannya sendiri. Dalam tradisi Kristen, misalnya, Setan bukan manusia biasa yang menjadi bagian dari populasi bumi pada zaman Nuh. Ia merupakan figur spiritual dalam narasi yang berbeda.
Namun, pertanyaan filosofisnya tetap menarik: mengapa hukuman begitu besar dijatuhkan kepada manusia, sementara sumber godaan tidak menjadi bagian dari hukuman yang sama?
Ini bukan sekadar persoalan banjir. Ini persoalan keadilan, tanggung jawab, dan konsistensi moral.
Tuhan, Setan, dan Seni Memindahkan Kesalahan
Manusia memiliki kecenderungan yang luar biasa dalam mempertahankan keyakinannya.
Ketika sesuatu yang baik terjadi, keyakinan kepada Tuhan memperoleh pembenaran. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, keyakinan itu tidak pernah dianggap keliru. Penjelasannya saja yang diubah.
Keberhasilan adalah berkat Tuhan.
Kegagalan adalah ujian Tuhan.
Kebaikan adalah petunjuk Tuhan.
Kejahatan adalah godaan setan.
Doa yang terkabul merupakan bukti kasih sayang Tuhan. Doa yang tidak terkabul merupakan bukti bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik.
Dengan cara berpikir seperti ini, apa pun yang terjadi selalu bisa dijadikan pembenaran bagi keyakinan yang sama.
Persoalannya bukan apakah Tuhan ada atau tidak. Persoalannya adalah apakah manusia masih menggunakan akalnya secara jujur ketika berbicara tentang Tuhan.
Sebab, jangan sampai Tuhan hanya dijadikan tempat menyimpan segala pujian, sementara manusia mencari kambing hitam ketika berhadapan dengan penderitaan dan kesalahan.
### Jangan Jadikan Tuhan Alibi
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: tanggung jawab manusia.
Seorang pejabat melakukan korupsi, lalu masyarakat diminta bersabar karena semua sudah menjadi takdir.
Seseorang menyakiti orang lain, kemudian berkata bahwa manusia memang tidak luput dari godaan setan.
Sebuah pemerintahan gagal melindungi rakyat, lalu penderitaan rakyat dibungkus dengan kalimat bahwa semua adalah ujian kehidupan.
Di sinilah agama berisiko kehilangan fungsi etiknya.
Agama seharusnya membuat manusia lebih bertanggung jawab, bukan memberinya alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Kalau seseorang berbuat jahat, jangan buru-buru menyalahkan setan. Periksa dahulu hati nuraninya. Kalau sebuah negara gagal, jangan menyalahkan takdir. Periksa kebijakan dan orang-orang yang menjalankannya.
Manusia memiliki kehendak, akal, dan kemampuan memilih. Karena itu, manusia juga harus bersedia menanggung konsekuensi dari pilihannya.
### Bertanya Bukan Berarti Tidak Percaya
Barangkali, masalah terbesar dalam kehidupan beragama bukanlah terlalu banyak pertanyaan, melainkan terlalu sedikit keberanian untuk bertanya.
Kita sering menganggap pertanyaan sebagai ancaman terhadap iman. Padahal, pertanyaan bisa menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Mempertanyakan penjelasan manusia tentang Tuhan tidak otomatis berarti menolak Tuhan.
Bahkan, seseorang bisa saja tetap percaya kepada Tuhan, tetapi menolak penjelasan teologis yang dianggap tidak masuk akal, tidak konsisten, atau tidak adil.
Iman yang dewasa semestinya tidak takut berjumpa dengan akal sehat.
Sebab, jika Tuhan menciptakan manusia dengan akal, mengapa penggunaan akal justru harus dicurigai ketika manusia sedang berusaha memahami-Nya?
Pada akhirnya, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana:
**Jika Tuhan selalu menerima pujian atas segala sesuatu yang baik, mengapa manusia begitu cepat membebaskan-Nya dari pertanyaan ketika berhadapan dengan segala sesuatu yang buruk?**
Pertanyaan ini tidak harus berakhir dengan penolakan terhadap Tuhan. Ia justru bisa menjadi undangan untuk membedakan antara Tuhan dan tafsir manusia tentang Tuhan.
Sebab, mungkin yang perlu kita koreksi bukan Tuhan, melainkan cara manusia menggunakan nama Tuhan.
Jangan sampai Tuhan menjadi tempat manusia menitipkan seluruh keberhasilan, sekaligus tempat manusia menyembunyikan segala kegagalannya.
Dan jangan sampai atas nama membela Tuhan, manusia justru berhenti menggunakan akalnya.
**Sebab, mempertahankan keyakinan tanpa keberanian untuk bertanya mungkin hanya akan melahirkan kepatuhan. Tetapi keyakinan yang berani berdialog dengan akal dapat melahirkan kebijaksanaan.**


