Apa sesungguhnya yang salah ketika manusia mencontoh binatang?
Mereka makan ketika lapar, berhenti ketika cukup.
Mereka tidur ketika tubuh mengantuk, bangun ketika matahari memanggil.
Mereka berjemur setiap hari, seolah tahu bahwa cahaya adalah nutrisi yang tak tertulis.
Mereka hidup dalam ritme yang alam semesta tugaskan sejak awal penciptaan—sunatullah.
Sedangkan manusia?
Kita hidup dengan aturan yang kita buat sendiri, seringkali bertentangan dengan aturan tubuh yang diberikan Tuhan.
Kita lupa makan dengan sadar, lupa tidur dengan teratur, lupa bernafas perlahan.
Kita berlari mengejar sesuatu yang bahkan tak jelas bentuknya, lalu menyebutnya “kemajuan”.
Maka, apa salahnya meniru binatang?
Tidak ada yang salah—selama yang dicontoh adalah kebijaksanaan tubuh mereka.
Binatang tidak pernah memaksakan diri.
Tidak ada yang pura-pura kuat, pura-pura cukup, atau pura-pura bahagia.
Mereka hidup selaras dengan batas dan kebutuhan dirinya.
Namun manusia bukan hanya tubuh.
Ada akal yang mengatur arah, ada hati yang menimbang benar dan salah,
ada ruh yang bertanya “untuk apa aku hidup?”
Jika manusia hidup hanya seperti binatang—makan, tidur, bergerak—tanpa tujuan moral, tanpa tanggung jawab, tanpa makna,
maka hilanglah yang membuat kita manusia.
Sebab derajat manusia bukan pada kemampuannya melawan alam,
tetapi pada kemampuannya menyelaraskan diri dengan alam tanpa kehilangan kemuliaannya.
Maka mencontoh binatang adalah kearifan,
bukan kehinaan.
Asal kita meniru tubuhnya, bukan meniru batasnya.
Kita kembali ke fitrah, tanpa kembali menjadi sekadar makhluk yang berjalan di atas bumi tanpa arah.
Manusia perlu makan seperti burung,
perlu tidur seperti kucing,
perlu berjemur seperti reptil,
perlu bergerak seperti kijang.
Tetapi manusia juga perlu jujur,
perlu adil,
perlu merawat sesama,
perlu menata hidup dengan kesadaran.
Karena binatang menjalani hidup sebagaimana ia diciptakan,
sementara manusia menjalani hidup sebagai amanah.
Dan di antara keduanya,
di situlah letak kemuliaan kita—
menjadi makhluk yang paling tunduk pada tubuhnya,
namun paling bertanggung jawab pada hidupnya.







