Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
  • News
    • Fusilat News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor
No Result
View All Result
Munira News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Fiksi

Lebih Mudah Mencintai yang Tak Lagi Ada

munira by munira
July 17, 2025
in Fiksi, Opinion
0
Share on FacebookShare on Twitter

Mengucapkan, “I love Jesus” atau “I love Muhammad,” bagi sebagian orang terasa begitu ringan, bahkan kadang terdengar seperti basa-basi spiritual. Kedua tokoh itu begitu agung, begitu luhur, begitu sempurna—dan pada saat yang sama, begitu jauh dari kita dalam waktu dan ruang. Mereka tidak akan membantah cintamu, tidak akan menegurmu jika ternyata cintamu cuma slogan. Mereka tidak hadir secara fisik untuk menguji, mengoreksi, apalagi menuntut balasan konkret atas pengakuan itu.

Cinta kepada figur agung di masa lampau memang terasa aman. Kita bisa membentuk sosok Yesus atau Muhammad sesuai imajinasi kita sendiri: penyayang, pengampun, bijaksana, pahlawan ideal. Kita mencintai tanpa perlu diuji oleh konflik nyata, tanpa harus menerima mereka dalam keutuhan sejarah, kontroversi, atau beban hidup sosial. Maka tak heran, banyak orang yang merasa nyaman mengucapkannya.

Sekarang, cobalah ganti kalimat itu menjadi, “I love you,” kepada orang di sebelahmu. Kepada pasanganmu yang tiap hari menegur soal kebiasaan burukmu. Kepada orang tuamu yang mungkin terlalu mengatur. Kepada rekan kerjamu yang pernah menyalip jabatanmu. Kepada tetanggamu yang berbeda agama, beda pilihan politik, beda cara mengasuh anak. Tiba-tiba, kata “cinta” menjadi beban. Ada rasa takut, rasa malu, ada gengsi yang menahan. Bahkan mungkin ada luka yang belum sembuh.

Inilah paradoks kemanusiaan kita: lebih mudah mencintai figur suci yang tidak ada, ketimbang manusia nyata yang hadir di sekitar kita. Padahal, ukuran sejati dari cinta spiritual mestinya tercermin pada cinta kita kepada sesama. Nabi Muhammad sendiri berkata, “Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Sementara Yesus mengajarkan, “Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Apa artinya mencintai Yesus jika kita masih membenci tetangga hanya karena beda pilihan? Apa artinya mencintai Muhammad jika kita belum bisa tersenyum pada orang yang kita anggap menjengkelkan?

Cinta sejati bukanlah sekadar pengakuan, tetapi tindakan nyata—dan yang paling sulit dari cinta bukanlah mengagumi, tetapi menerima. Menerima ketidaksempurnaan, perbedaan, dan kadang luka yang ditimbulkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Maka, keberanian sejati bukan hanya berani mengaku cinta kepada figur suci, tapi juga berani mencintai manusia nyata, yang sering kali menyebalkan, membingungkan, dan bahkan menyakitkan.

Mungkin, di situlah makna terdalam dari spiritualitas: bukan sekadar cinta vertikal kepada yang tak terlihat, tapi cinta horizontal kepada yang hadir, nyata, dan hidup di sebelahmu.

 

Share this:

  • Facebook
  • X
ADVERTISEMENT
Previous Post

Apa Itu Dosa Menurut Tuhan, Manusia, dan Agama?

Next Post

Restoran Salah Pesan, Tapi Tepat dalam Kemanusiaan

munira

munira

Related Posts

Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga

by munira
March 16, 2026
0

I. Ketika Manusia Pertama Kali Mendongak Pada mulanya, langit adalah kitab pertama yang dibaca manusia. Bayangkan diri Anda ribuan tahun...

Bila Ujung dari Sebuah Perkawinan Itu Bercerai, Maka Itu Bukan Nasib — Sejak Awal dan Akhir adalah Pilihan atas Takdir Tersebut

My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never

by munira
March 13, 2026
0

Cinta kadang datang seperti hujan yang terlambat di musim kemarau. Tanah mungkin telah lama retak menunggu air, daun-daun mungkin telah...

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

by munira
March 12, 2026
0

Oleh: Novita Sari Yahya Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan Pagi itu Jakarta berjalan seperti biasa. Kendaraan memenuhi jalan-jalan utama, orang-orang...

Mata Uang Bernama Integritas

by munira
March 3, 2026
0

Oleh : Novita sari yahya Sinar matahari pagi menyusup melalui tirai tipis di ruang kerja Elvira. Ia membuka jendela kecil...

Next Post
Restoran Salah Pesan, Tapi Tepat dalam Kemanusiaan

Restoran Salah Pesan, Tapi Tepat dalam Kemanusiaan

Kita Hanya Persinggahan: Maka Tinggalkan Jejak yang Lembut

Kita Hanya Persinggahan: Maka Tinggalkan Jejak yang Lembut

Trending News

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

JOKOWI DAPAT DIHUKUM MATI

August 24, 2024
Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

Analisis Kemungkinan yang Terjadi pada Prabowo Subianto, Presiden Terpilih, dalam Konteks Hubungan dengan Jokowi

July 6, 2024
Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

Tidak Perlu Minum Seluruh Air Laut untuk Mengetahui Bahwa Air Laut Itu Asin

February 12, 2025

Munira News

Munira
Cakrawala Dunia

Menu

  • About Us
  • ad
  • Home

Categories

  • Arts
  • Business
  • Crime
  • Cross Cultural
  • Destination
  • Education
  • Ekonomi
  • Environment
  • Fashion
  • Figure
  • Fiksi
  • Global
  • Health
  • Japan
  • Justice
  • News
  • Opinion
  • Politic
  • Science
  • Sponsor
  • Spritual
  • Technology
  • Uncategorized

Tags

Flap Barrier Swing Barrier

Recent Posts

  • Langit yang Retak: Ketika Manusia Mengambil Alih Surga
  • My Love Said: I Am Late to Love Her — But the Answer Is: Better Late Than Never
  • News
  • Politic
  • Opinion
  • Cross Cultural
  • Education
  • Fashion
  • Health
  • Destination
  • Global
  • Sponsor

© 2023 Munira

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Cross Cultural
  • Opinion
  • Politic
  • Global
  • Sponsor
  • Education
  • Fashion

© 2023 Munira