Mengucapkan, “I love Jesus” atau “I love Muhammad,” bagi sebagian orang terasa begitu ringan, bahkan kadang terdengar seperti basa-basi spiritual. Kedua tokoh itu begitu agung, begitu luhur, begitu sempurna—dan pada saat yang sama, begitu jauh dari kita dalam waktu dan ruang. Mereka tidak akan membantah cintamu, tidak akan menegurmu jika ternyata cintamu cuma slogan. Mereka tidak hadir secara fisik untuk menguji, mengoreksi, apalagi menuntut balasan konkret atas pengakuan itu.
Cinta kepada figur agung di masa lampau memang terasa aman. Kita bisa membentuk sosok Yesus atau Muhammad sesuai imajinasi kita sendiri: penyayang, pengampun, bijaksana, pahlawan ideal. Kita mencintai tanpa perlu diuji oleh konflik nyata, tanpa harus menerima mereka dalam keutuhan sejarah, kontroversi, atau beban hidup sosial. Maka tak heran, banyak orang yang merasa nyaman mengucapkannya.
Sekarang, cobalah ganti kalimat itu menjadi, “I love you,” kepada orang di sebelahmu. Kepada pasanganmu yang tiap hari menegur soal kebiasaan burukmu. Kepada orang tuamu yang mungkin terlalu mengatur. Kepada rekan kerjamu yang pernah menyalip jabatanmu. Kepada tetanggamu yang berbeda agama, beda pilihan politik, beda cara mengasuh anak. Tiba-tiba, kata “cinta” menjadi beban. Ada rasa takut, rasa malu, ada gengsi yang menahan. Bahkan mungkin ada luka yang belum sembuh.
Inilah paradoks kemanusiaan kita: lebih mudah mencintai figur suci yang tidak ada, ketimbang manusia nyata yang hadir di sekitar kita. Padahal, ukuran sejati dari cinta spiritual mestinya tercermin pada cinta kita kepada sesama. Nabi Muhammad sendiri berkata, “Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Sementara Yesus mengajarkan, “Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Apa artinya mencintai Yesus jika kita masih membenci tetangga hanya karena beda pilihan? Apa artinya mencintai Muhammad jika kita belum bisa tersenyum pada orang yang kita anggap menjengkelkan?
Cinta sejati bukanlah sekadar pengakuan, tetapi tindakan nyata—dan yang paling sulit dari cinta bukanlah mengagumi, tetapi menerima. Menerima ketidaksempurnaan, perbedaan, dan kadang luka yang ditimbulkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita. Maka, keberanian sejati bukan hanya berani mengaku cinta kepada figur suci, tapi juga berani mencintai manusia nyata, yang sering kali menyebalkan, membingungkan, dan bahkan menyakitkan.
Mungkin, di situlah makna terdalam dari spiritualitas: bukan sekadar cinta vertikal kepada yang tak terlihat, tapi cinta horizontal kepada yang hadir, nyata, dan hidup di sebelahmu.






